
Disebuah Kontrakan kumuh di pinggiran kota ada seseorang yang tersenyum licik karena satu persatu rencananya berhasil.
"Kita lihat saja Belva, akan aku pastikan kamu menderita akibat dari perbuatanmu dulu pada anak-anakku"gumamnya sambil menatap sebuah foto yang memeperlihatkan kepanikan Belva ketika Aeri menangis tadi di Supermarket.
Sementara di mansion, Andra sudah mengatur jadwal dengan salah satu dokter anak dan juga sekaligus seorang psikolog.
"Untuk sementara Aeri tidak boleh pergi ke sekolah dulu lebih baik istirahat di rumah dan jangan biarkan sendirian"ucap Sang Dokter.
"Kalaupun ingin sekolah lebih baik homeschooling saja"
"Baik Dokter terimakasih"ucap Andra.
Hari ini Aeri sedikit lebih tenang, tidak terlalu banyak menangis dan histeris namun kini ia hanya sedikit banyak melamun tapi Belva terus berusaha mengajak ngobrol Aeri atau mengajaknya bermain mencari kegiatan untuk mengalihkan pikiran Aeri.
Andra juga sama menemani Belva dan Aeri bahkan hari ini secara khusus Andra memasak salah satu makanan favoritnya Aeri Pasta.
"Terimakasih Daddy"ucap Aeri tersenyum ia lalu di suapi Belva memakan pasta buatan Andra.
"Sama-sama Sayang"ucap Andra dengan senang karena misinya membuat Aeri kembali tersenyum berhasil walaupun ia harus berjibaku di dapur membuatkan pasta untuk Aeri tapi tak masalah yang penting Putri Bungsunya bisa kembali ceria.
__ADS_1
Silla dan juga Arvan tidak mau kalah mereka sengaja membeli makanan kesukaan Aeri dan bahkan meluangkan waktunya dengan beramin bertiga dengan Arvan.
"Gimana Mas kamu udah nemenuin pelaku yang buat Aeri sampai seperti ini?"tanya Belva karna mereka berdua tengah di dapur menyiapkan makan malam.
"Belum Sayang, kamu tenang aja biar Mas yang urus kamu fokus sama Aeri dan anak-anak aja"
"Iya Mas"jawab Belva, sebenarnya Belva tidak tenang semenjak kejadian di supermarket, Belva jadi teringat ketika peristiwa penculikan Silla dulu sampe-sampe Andra yang harus terluka dan kali ini Belva tidak ingin terulang kembali.
Belva tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan terus memberikan perhatian extra pada anak-anaknya.
Sebenarnya Andra sudah mencurigai seseorang namun ia belum punya cukup bukti untuk menangkap pelakunya Andra tidak.ingin gegabah dan malah membahayakan keluarganya.
"Gimana perkembangannya?"tanya Kak Daniel to the point karena mereka sedang di ruang kerja Andra jadi mereka bisa bebas membahasnya.
"Oke, kalo perlu bantuan lagi kasih tahu saja"ucap Kak Daniel.
Bukannya tidak ingin membantu hanya saja Kak Daniel memilih membiarkan Andra untuk mengurusnya dan dia hanya bisa memantau saja dan jika dibutuhkan Kak Daniel siap.membantu.
"Kakak percaya sama kamu, oh iya Kakak lupa mungkin yang trauma bukan hanya Aeri saja bisa jadi Belva juga trauma kamu tau sendiri kan dia dulu ada trauma"ucap Kak Daniel lalu pergi keluar.
__ADS_1
Andra termenung sejenak ia sangat fokus mencari si pelaku sampai lupa jika mungkin Belva juga membutuhkannya.
"Iya Kak makasih sudah mengingatkan"jawab Andra ikut menyusul Kak Daniel.
Andra langsung pergi ke kamarnya dan ketika ia baru membuka pintu sedikit Andra melihat Belva yang tengah memeluk Aeri yang sedang tidur namun mata Belva basah bisa dipastika ia habis menangis.
"Sayang"ucap pelan Andra.
Belva buru-buru menghapus air matanya, dan berusaha bersikap biasa namun tetap saja di depan Andra Belva tidak bisa berbohong, Andra hanya memelukmya tidak bertanya banyak hal dan membiarkan Belva mengeluarkan air matanya.
Dan barulah ketika tenang, Andra mengajak Belva duduk disofa membawaknnya segelas air supaya Belva lebih rileks.
"Kamu tenang aja, aku pastikan semuanya akan baik-baik saja"ucap Andra lalu kembali memeluk Belva.
---
Hai semuanyaaa aku comeback lagii.
Apa kabar nih? semoga sehat slalu ya.
__ADS_1
aku mau minta maaf karena banyak urusan di dunia nyata jadi up novel ini terbengkalai, sekali lagi mohon maaf ya aku slalu usahain buat up terus doakan aku yaa. terimakasih sebelumnya.🤗🤗
see u