
niko terduduk lemas, amarah dan kesedihannya tercampur menjadi satu
ia selama ini harus memikul beban yang sangat berat, diluar dia adalah orang yang sombong, angkuh dan juga dikenal dengan gonta ganti wanita
sebelum mengenal adel, karena belum ada yang menarik hati niko seperti vira pada saat itu
"kamu yakin dengan keputusanmu!" tanya ferdi
"iya fer, saya tidak mau mengulangi kesalahan kakek yang membuat kelurga hancur. saat ini adel dan zain adalah segala galanya buatku" ucap niko
"sebaiknya kita pergi dari sini, saya takut wanita itu merencakan sesuatu" ucap ferdi
keduanya keluar hotel dengan mobil masing masing, niko mengabari ferdi saat diperjalanan dan tak sempat menjemputnya karena vira mengirimkan foto adel dan zain
yang artinya vira sudah tahu rumah dan juga istri dari niko
"terima kasih atas bantuannya fer, kamu bisa kembali kekantor dan tetap ajarkan niken semua hal penting dikantor, saat saya tidak ada niken bisa membantumu menggantikanku. dan berjaga jaga karena anak wanita licik itu sudah terpengaruh ibunya dan menganggap perusahaan ini adalah miliknya" perintah niko pada ferdi
"kenapa tak pernah cerita, jika tahu seperti ini masalahnya pasti niken sudah ahli saat ini" ucap ferdi saat keduanya tiba ditempat parkir
"lalu selama ini apa yang kamu ajarkan!" ucap niko curiga
"bucin kayak kakaknya, selamat siang bos" ferdi meninggalkan niko yang masih tak percaya dengan ucapan ferdi
niko kesal tapi saat ini ia ingin memastikan anak dan istrinya aman, bisa saja vira mengingkari janjinya
******
rio mengenakan pakaian santainya tiba di toko disti seperti biasa " selamat siang semua, maaf saya terlambat" sapa rio ramah
lalu rio masuk keruangannya dimana sudah ada disti yang sibuk dengan pekerjaannya dan tak menghiraukan rio datang
__ADS_1
rio ingat saran kakaknya agar menjauhkan diri beberapa saat pad kedua wanita yang ada dipikirannya, meski hanya satu saja yang ada dihatinya
"kopinya sudah dingin, mau saya buatkan yang baru" ucap disti tanpa melihat kearah rio
"tak perlu" jawab rio singkat dan datar seperti awal pertaman disti bertemu
wajah jutek dan ucapan ketus keluar dari mulut rio
disti berfikir apa karena semalam atau memang sifatnya begitu. disti tak mau ambil pusing dan melanjutkan pekerjaanya
rio melirik kearah disti berharap saling bertatapan namun hingga lelah ia tak menemukan moment itu, bahkan disti nampak cuek dan seolah tak ada orang lain diruangan itu
senyum disti merekah kala mendapatkan pesan dari niken
"haii jomblo malam minggu nih! double date yuk aku kenalin sama temenku" isi pesan niken yang membuat disti tersenyum
"tenang saja, ngga akan bosan dengan orang ini, mau ya?" rayu niken
"engga bisa, mohon maaf biar status jomblo tapi hati sudah ada penghuni" balas disti lagi lalu melanjutkan pekerjaanya
rio yang penasaran mengurungkan niatnya untuk bertanya, ia akan menahan sampai dimana disti mencarinya
"hemmm, iya lagi kerja! ada apa?" jawab rio malas
tak sesuai harapan rupanya dias lah yang sangat rajin mencarinya, hampir setiap jam ia mengirim pesan atau menghubunginya langsung
" ngga bisa! lembur" jawab rio asal
"iya besok kesana sama ayah dan ibu" ucap rio pasrah
deg....disti langsung menegok kesamping mendengar rio berbicara dengan seseorang ditelfon yang sepertinya wanita
__ADS_1
melihat ekspresi disti rio pun makin penasaran " menikah? tunggu kak ferdi dulu" jawab rio padahal entah pa yang ditanyakan dias
disti masih terdiam mendengarkan saja.
"iya saya tahu kamu cinta sama saya" ucapan rio kali ini membuat disti gerah. ia keluar ruangan membawa setumpuk berkas
"udah dulu saya sibuk!" rio memutuskan sambungan telfonnya dan meras percaya diri jika disti sedang cemburu saat ini
"dew, disti kemana?" rio menanyakan pada admin toko disti yang berada tepat diluar ruangan disti dan rio
"kayaknya dihalaman belakang pak, tempat penyemaian bibit" jawab dewi yang namanya sama dengan ibu rio
"terima kasih"
rio berlari kecil menuju tempat yang disebutkan dewi tadi, sampainya disana rio yang dibuat cemburu
rupanya disti bersama dengan pria yang nampak akrab dengannya
"ehemm, bagaimana perkembangan bibitnya bu disti?" rio menyela obrolan
"bagus pak, semua tumbuh baik saya sedang sharing dengan ahlinya" ucap disti yang terlihat kesal
"kalau begitu lebih tepatnya kita sharing bertiga, karena saya kebetulan konsultan untuk tanaman yang ada disini" ucap rio membanggakan diri
"kami sudah selesai pak, saya permisi dulu" ucap pria yang bersama disti
"terima kasih waktunya pak" uca disti ramah
"jangan genit jadi wanita! siapa tahu dia sudah punya pacar" ucap rio mengingatkan disti
"baru juga pacar! yang sudah mau menikaah saja ada loh yang lebih genit dan clamitan!" kesal disti lalu meninggalkan rio lagi
"tunggu! siapa yang kamu maksud. disti!" teriak rio mengejar disti yang sudah jauh dengan langkah cepatnya
__ADS_1