
Aroma ini menenteramkan jiwa dan membuatku tak mampu melawan kantuk yang teramat sangat. Disebabkan kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh, hingga aku tertidur berbantal lengan Zaid, dan keajaiban yang kuharapkan ternyata belum datang untukku.
Azan subuh terdengar dari pengeras suara surau kampung, indah dan mendayu. Suara panggilan kepada manusia untuk menyembah Sang Pencipta membangunkan lelapnya tidurku di samping Zaid.
Tapi ... Zaid mana? Kuraba ke samping tidak kutemukan. Bukankah semalam aku tidur dalam pelukannya? Aku segera bangkit mencari keberadaan Zaid, takut dia kenapa-napa. Aku bergegas berdiri dan hampir saja menginjak Zaid yang ternyata tidur di lantai.
“Ya Allah, Uda. Kamu kok tidur di lantai?” Zaid tidur di atas sajadah, mungkin sehabis qiyamul lail dia baru tertidur.
“Sudah subuh ya, Sah?” Zaid mencoba bersikap biasa, berdiri dan berlalu setelah pamit mau ke surau. Malam pertamaku kandas lagi, Zaid tidak menyentuhku.
Kami tidak bisa lebih lama lagi di rumah Ibu, ada masalah dengan pengiriman ke Mentawai, jadi kami harus segera pulang ke Padang. Jika aku bertahan bisa menambah beban Ibu, karena kemarin kami datang baik-baik.
“Maaf ya, Bu, kami harus segera pulang ke Padang.” Zaid memberitahukan persoalan kantor kepada Ibu yang sedang duduk di meja makan menikmati secangkir teh dan goreng sukun.
“Kok bisa?” Ibu terlihat khawatir.
“Itu sering terjadi kok, Bu, jadi Ibu nggak perlu cemas. Hanya saja Hafsah sebentar sama Ibu.”
Ibu mengarahkan pandangan kepadaku yang duduk di samping Zaid.
“Ya, sudah. Abakmu sudah dikasih tahu?”
Kami sama-sama menggeleng, karena memang Abak belum pulang dari musala semenjak subuh.
Zaid memintaku segera berkemas, mudah-mudahan Abak segera pulang jadi kami langsung bisa minta izin kembali ke Padang.
__ADS_1
Sesuai rencana awal sebelum kembali ke Padang, kami mampir dulu ke rumah singgah, di sana anak-anak sudah menunggu dengan penuh harap yang dibalut rindu. Ada kebahagiaan di wajah Zaid saat memberikan hadiah kepada mereka. Aku tidak bisa membendung air mata ketika Salma, anak didikku, memeluk dan menangis ketika kami turun dari mobil.
“Salma rindu Umi Hafsah.” Dia masih sesenggukan. Perlahan kulepaskan pelukan rindu ke tubuh mungilnya.
“Umi juga rindu Salma, gimana hafalan Alqurannya, sudah berapa juz?” tanyaku.
“Berkurang, Umi.”
“Kok bisa?” Kupegangi wajahnya dan berjongkok menyejajarkan badan kami.
“Salma nggak bisa belajar tahfidz tanpa Umi.” Air matanya kembali meleleh.
“Salma harus bisa hafal sampai Umi pulang bulan depan ya, kan bisa belajar sama kakak yang lain.” Salma mengangguk, tubuh kecilnya kubenamkan ke dada.
Hampir dua jam kami bersama mereka di rumah singgah, mendengarkan kerinduan yang mereka lafazkan dari mulut-mulut mungilnya. Keharuan menjalari jiwa, ternyata bukan hanya aku yang merasa kehilangan.
“Sah, kamu mau lewat mana?” Zaid memecah kesedihanku yang mulai menggumpal.
“Terserah Uda saja.”
“Bagaimana kalau lewat Solok? Nanti kita bisa istirahat di Tugu Ayam Jago.”
Sesampai di Padang, aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah jenuh, kesabaranku sudah berujung. Istri mana yang mau diperlakukan seperti ini.
“Uda, kenapa sih nggak mau tidur denganku? Apa karena Uda nggak cinta? Atau Uda punya calon lain barangkali?” Mataku memerah menahan tangis.
__ADS_1
“Sah, aku mencintaimu karena Allah,” ucapnya pelan dan gemetar.
“Kenapa selama ini Uda nggak pernah menafkahi aku?” Dadaku bergemuruh menahan marah. Aku capek, aku tidak sanggup lagi.
“Ini penyiksaan, Uda, bukan cinta. Selama ini aku berharap Uda hanya mengujiku, tapi ini sudah keterlaluan,” pungkasku.
“Sah … aku minta maaf,” kata Zaid terbata, ada bening di sudut matanya. Zaid menangis. Apa karena teriakanku, atau memang benar sudah mengakui kesalahannya.
“Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan, Sah.” Helaan napasnya terdengar berat. “Aku mencintaimu karena Allah, dan itu berawal dari rumah singgah yang kamu bina.”
“Kalau cinta harusnya tak begini, Uda.” Aku mulai luluh dan menurunkan volume suaraku.
“Maafkan aku, Sah.” Zaid menggenggam jemariku, ada rasa hangat menjalar, hanya sesaat.
“Tapi, Uda ….”
“Aku capek, mau istirahat,” hanya itu, Zaid meninggalkanku dalam luka lagi. Ingin kubanting semua yang ada di depanku, seakan itu Zaid.
Malam ini lebih parah dari malam-malam sebelumnya, kecewa, marah, bahkan kebencian berbaur menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Pagi ini terasa begitu mencekam, karena bom waktu hanya menunggu detik-detik peledakan. Tepatnya di saat Zaid sarapan, aku akan memintanya menceraikanku. Meskipun agama sangat melarang, tapi diizinkan jika memiliki alasan yang sesuai dengan aturan agama.
“Aku pasti menang,” lirihku.
Waktu itu semakin dekat. Ketika kamar tamu terbuka, Zaid muncul dan berjalan ke arah sofa tamu, bukan ke meja makan. Wajahnya pias, langkahnya lamban dan sedikit sempoyongan. Tiba-tiba Zaid terjatuh sebelum sampai di sofa.
__ADS_1
Bagaimana ini? Aku berlari mencoba menangkap tubuhnya, tapi aku terlambat. Zaid jatuh ke lantai, dan ada sepucuk amplop yang ikut jatuh.