
Walaupun sempat marah namun Belva akhirnya ikut makan juga, memang benar kata orang kalo makanan pinggir jalan rasanya slalu enak walaupun mungkin dalam segi kesehatan tidak baik tapi sesekali mungkin boleh.
"Duh dah lama ga makan beginian, Bel kamu ingat ga dulu kamu yang paling semangat kalo jajan beginian"ucap Nasya terkekeh geli ketika menerawangan masa masa sekolahnya dulu.
"Iya iya ingat kamu juga sama Kak, si paling mau mau aja kalo di ajak jajan"jawab Belva.
Kak Daniel dan Andr hanya menyimak pembicaraan Nasya dan Belva sesekali mereka menyahut jika di tanya tapi selebihnya di abaikan, memang jika sudah bertemu para wanita akan asyik dengan dunianya dan melupakan suaminya.
"Kak kita ke taman belakang yu"bisik Andra pada Kak Daniel.
"Ayo"
Karena para istri sibuk dengan dunianya dan para suami juga tak ingin kalah mereka duduk di gazebo belakang sambil membahas tentang perusahaan dan sesekali membahas tentang kehamilan para istrinya.
Sementara itu, di kantor Silla tengah di sibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk dikarenakan terjadi masalah di proyek yang tengah di pegang Silla.
__ADS_1
"Kenapa bisa kecolongan gini sih ya ampunnn"gumam Silla.
Pasalnya proyek yang terjadi masalah adalah proyek yang seharusnya sudah hampir selesai namun kini malah dihentikan sementara akibat keteledoran bawahan Silla.
Alhasil Silla jadi sibuk ia bahkan harus melewatkan makan siangnya padahal makannya sudah tersedia di mejanya namun karen pikiran Silla sedang kalut jadi nafsu makannya menurun.
Arvan yang baru saja pulang dari kampus lalu bergegas ke ruangan Kakaknya setelah mendengar jika ada masalah yang terjadi.
"Kak berhenti sebentar,"ucap Arvan sedikit meninggikan suaranya.
"Makan dulu sekarang, biar aku bantu itu selesaikan"ucap Arvan kembali sebelum Kakaknya kembali fokus ke laptopnya.
"Ga bisa nanti aja"jawab Silla.
"Ga ada penolakan Kak, atau aku laporin ke Mommy biar Mommy kesini dan marahin Kakak, so ?".
__ADS_1
Akhirnya Silla menuruti perkataan Arvan, ia menghentikan sejenak pekerjaanya lalu duduk di sofa bersama Arvan.
Silla mulai membuka kotak makan yang sebelumnya sekretasinya belikan untuk Silla karena sebelumnya diamanatkan oleh Belva dan Andra jika Arvan atau Sila melewatkan makan siang makan ia harus segera mengingatkannya dan tentu saja membelikannya juga.
"Biar kasus ini aku yang tangani Kak, Kakak fokus saja dengan proyek yang lain, jangn terlalu terbebani dan satu hal.yang harus Kakak ingat ini semua bukan kesalahan Kakak jangan menyalahkan diri"ucap Arvan bak seorang Kakak yang menasehati Adiknya.
Silla yang tengah makan pun sempat berhenti pasalnya ucapan Arvan seakan menyandarkan dirinya yang sempat menyalahkan diri bahkan tadi ketika baru mendengar saja ada masalah Silla sampai nangis.
Silla mengangguk lalu tersenyum manis walaupun dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Udah habiskan makannnya Kak, aku ke ruangan dulu sebentar ya"pamit Arvan namun baru beberapa langkah Arvan kembali menolehkan wajahnya.
"Oh iya jangan lupa cek ponsel mu Kak, kasihan calon Kakak iparku khawatir karena pacarnya lupa mengabari"ucap Arvan tertawa lalu segera pergi.
Silla buru-buru menyelesaikan makan siangnya dan setelah itu mencari ponselnya yang entah dimana.
__ADS_1