Janda Perawan

Janda Perawan
bab 11


__ADS_3

Malam di Sijunjung membuat lukaku sedikit terobati, Ibu dan Abak sudah menyiapkan segalanya. Masakan Ibu yang selama ini juga kurindukan terhidang di meja. Saudara-saudara banyak yang datang untuk bersilaturahmi, bahagia melihat Zaid ikut larut dalam kebersamaan. Alhamdulillah tidak ada pertanyaan seputar anak dan kehamilan.


“Hafsah pasti bosan di rumah terus ya kan?” Tek Yanti menatapku sambil tersenyum. Mulutnya komat-kamit mengunyah keripik balado Christine Hakim yang kami beli sebagai oleh-oleh.


“Nggak juga kok, Tek. Kan Hafsah bisa nulis dan marendo tanpa gangguan,” kilahku.


“Iya, Tek, sudah banyak tuh di rumah taplak meja buatan Hafsah. Kalau Etek mau nanti Zaid bantu bawakan pulang.” Zaid melempar pandang ke arahku.


“Bolehlah, untuk Etek satu lembar.”


“Nanti pas kami pulang Hafsah bawakan yang bagus untuk Etek.”


Tawa-tawa ceria dari beberapa bocah yang berlarian karena berebut kotak pensil yang sengaja dibelikan Zaid untuk mereka membuat suasana rumah semakin hangat.


Kebersamaan berakhir ketika jangkrik mulai berdendang, Etek Yanti dan keluarga pamit pulang. Ibu membantu membersihkan ruang tamu dan mengemas keripik ke stoples, sementara Abak dan Zaid masih bercerita di ruang tengah, mungkin menunggu kami selesai beberes.


“Memang si Zaid besok nggak ke kantor, Sah?”


“Nggak, Bu, dia sudah memberi tahu karyawannya kalau beberapa hari ini nggak masuk.”


“Ibu perhatikan sepertinya ada sesuatu yang kamu sembunyikan.” Kutoleh wajah Ibu yang sudah selesai mengemas keripik.

__ADS_1


“Tidak ada yang Hafsah sembunyikan, Bu, kami baik-baik saja.”


Sebenarnya banyak yang ingin aku sampaikan, Bu, tapi tidak mungkin aku ceritakan karena Zaid suamiku dan aku selimutnya. Tidak mungkin aku membuka aib suamiku sendiri meskipun kepada Ibu.


“Mungkin karena Hafsah terlalu rindu sama Ibu.”


“Ya sudah, kasihan Zaid mungkin dia ingin istirahat. Nanti pagi saja lanjut membersihkannya.”


Zaid ternyata sudah duduk sendirian di ruang tamu, beberapa kali terlihat dia tidur sambil duduk. Aku dan Ibu saling melempar senyum melihat hal tersebut.


Kudekati Zaid dan menyuruhnya istirahat di kamar. Semoga malam ini ada keajaiban dan bulan madu kami ditakdirkan di rumah Ibu. Sekilas senyum kulihat di wajah gantengnya, kubiarkan Zaid masuk duluan sementara aku mengambil segelas air putih untuk dibawa ke kamar karena aku sering bangun tengah malam untuk minum.


Kulihat Zaid masih di posisi semula, dia tidak menoleh sedikit pun ke arahku. Sebenarnya dengan posisi seperti ini aku sedang memasang umpan agar Zaid terpancing, ternyata umpanku tidak mempan sehingga tidak berhasil mendapatkan apa yang selama ini aku inginkan.


Kembali kuperhatikan wajah Zaid dari samping lemari, tampak begitu datar tidak sedikit pun dia termakan umpan yang kulemparkan. Bosan menunggu, kemudian aku duduk di sampingnya.


Aku menatap seluruh wajahnya sedetail mungkin, wajah yang hampir empat bulan ini menemaniku dalam kegersangan. Membuatku banyak berharap namun tak pernah kesampaian. Aku rindu belaian kasih yang sarat makna, bukan hanya polesan. Napasku terasa berat melihat sikap Zaid yang mungkin lebih dingin dari salju.


“Sah, rebahan aja dulu, pasti capek.” Zaid meraih ponselnya dan kembali duduk di sampingku.


“Uda balas chat karyawan dulu ya, Sah. Ada pengiriman yang harus dilakukan malam ini juga.”

__ADS_1


Aku hanya mengangguk.


Hampir setengah jam aku menunggu dalam kebisuan. Remang cahaya LCD membias wajah yang selama ini kuharapkan, wajah yang selama ini kurindui untuk sama-sama berkelana mencapai kebahagian tanpa batas, tapi entah kapan rindu ini berlabuh. Wajah ini terkadang membuatku berpikir untuk pergi dari hidupnya yang sulit dimengerti. Begitu rumit bahkan teramat pelik, ketika cinta belajar menerima namun sikap Zaid mengerdilkan cintaku untuknya.


“Loh, kok belum tidur?”


“Masih nunggu Uda,” jawabku datar sambil mencari celah di matanya, mana tahu di sana tersembunyi hasrat yang sama sepertiku.


“Nggak apa-apa, Sah, tidur duluan saja. Ini masih banyak yang belum Uda kondisikan pengirimannya.”


“Aku belum ngantuk,” jawabku sedikit ketus.


Keketusan membawa keberkahan, Zaid menatapku lama. Mungkin takut aku marah atau ngambek di rumah mertuanya. Zaid meletakkan gawai yang sedari tadi tidak lepas dari genggamannya. Aku rasa itu hanya alasan agar dia bisa mengelak.


Zaid menatapku lekat, wajahnya mendekat. Sebuah ciuman hangat mendarat di keningku. Tangannya membelai rambut dan perlahan tangannya mengangkat wajahku dekat sekali hingga napasnya terasa hangat di wajahku.


“Sah, maafkan aku membuatmu terlalu lama menunggu.”


“Hmm.”


“Aku ingin memilikimu seutuhnya.” Zaid merebahkan kepalaku ke dadanya. Perlahan kami sama-sama berbaring. Untuk beberapa saat aku menikmati wangi tubuhnya yang menjalari urat nadi.

__ADS_1


__ADS_2