Janda Perawan

Janda Perawan
bab 17


__ADS_3

Zaid gemetar, tubuhnya menggigil, mulutnya meracau. Dia belum mampu menggarap ladang yang sudah terhampar di hadapannya. Zaid berusaha duduk di ranjang, tubuhnya sempoyongan, wajahnya pucat. Dia mendorongku kasar.


“Menjauh dariku.” Zaid menutup muka dan matanya dengan telapak tangan.


“Ini aku, Uda. Hafsah ... istrimu,” kucoba menenangkan dan berusaha menjangkau tangannya yang masih menutupi wajah.


“Ya Allah ... Ampuni aku, jangan biarkan aku mati dalam keadaan hina.” Zaid menangis, hatiku pilu mendengar ratapannya. Traumanya kambuh, dia berada dalam alam bawah sadar.


Aku takut terjadi apa-apa dengan Zaid, dan aku juga takut jika Zaid melukaiku karena dia merasa kalau saat ini dia sedang dalam kepungan wanita-wanita serigala itu. Satu-satunya jalan agar Zaid tenang dengan memberinya suntikan obat penenang.


Sesaat setelah obat itu masuk ke tubuhnya, Zaid lunglai. Kubaringkan tubuhnya di sampingku, mataku tak mampu terpejam hingga pagi menjelang. Semalaman aku hanya bisa menikmati wajah Zaid yang seperti mayat.


Kapankah ini berakhir, sedangkan ladang cintaku butuh benih dari Zaid.

__ADS_1


Kokok ayam bersahutan dari seberang jalan, mungkin ayam baru saja melihat malaikat kembali ke langit setelah menemani umat manusia yang bersujud dalam qiyamul lailnya. Tak hanya ayam, cuitan burung laksana paduan suara bersenandung dari pohon mangga yang tumbuh di samping rumah. Semua makhluk bertasbih, baik yang berdiri maupun melata. Karena Allah sangat dekat dengan makhluk-nya di sepertiga malam hingga fajar menjelang di ufuk timur.


Kepala dan mataku terasa sama beratnya menahan kantuk, dari semalam belum sepicing pun aku terlelap. Subuh hadir dengan kumandang azan yang dipantulkan pengeras suara masjid ujung jalan perumahan tempat kami tinggal.


Sejenak kutatap wajah lelaki yang semalaman ada di sampingku tanpa melakukan apa-apa. Terdengar dengkuran halus, ternyata Zaid tidur bukan lagi di bawah pengaruh obat penenang. Wajahnya sangat tampan, begitu menurutku, janggut tipis menghias dagunya yang sedikit belah. Ingin sekali kubelai wajahnya karena selama tiga bulan ini sangat jauh dari jangkauanku. Saat dia sudah sangat dekat aku tidak berani menyentuhnya, takut tidurnya terganggu.


Ibu pernah berpesan perhatikan tidurnya mulai dari tempat sampai kenyamanannya, karena jika suami kurang tidur maka emosi akan meningkat, nanti dia jadi pemarah. Salah satu adab istri kepada suami yang memang harus diketahui oleh pengantin baru.


Sangat perlahan, bahkan semut pun tak akan mati jika terinjak saking pelannya langkahku menuju kamar mandi untuk wudhu. Belum beberapa langkah Zaid ternyata sudah bangun.


Sebagai istri aku menghormati suamiku lebih dari apa pun, karena jika aku menjadi pelayannya dengan baik, maka aku akan menerima pelayanan yang baik pula darinya. Insya Allah.


“Aku kira tadi kamu masih pingsan, maafkan aku, Uda.” Aku tak sanggup menatapnya karena memang salah, seharusnya aku berani membangun-kannya untuk salat. Karena memang kewajiban sebagai suami istri itu saling mengingatkan dalam kebaikan.

__ADS_1


Tinggalkan perdebatan, mari kita salat berjamaah, karena jika suami istri berdebat di pagi hari, apalagi waktu subuh, maka rejeki akan menjauh karena malaikat tidak mau mengaminkan doa orang yang bertikai di waktu permulaan hari.


Selesai salat aku beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Roti bakar dan teh telur menu sarapan pagi ini, teh telur merupakan minuman khas orang Minang. Dua butir telur bebek dikocok dengan gula langsung diseduh dengan air teh yang mendidih, kata orang-orang teh telur bisa meningkatkan stamina dan libido. Mana tahu setelah minum teh telur Zaid lebih bugar, dan ... pagi ini jadi pagi pertama.


Zaid menikmati sarapannya, mataku tak lepas menatap wajahnya yang mulai memabukkan jiwa. Paras, bibir, hidung, bahkan matanya yang sesekali mengedip nakal membuat aku geregetan.


Aku sebenarnya bingung kenapa aku yang bergairah melihat Zaid, sedangkan yang menyeruput teh telur kan dia, bukan aku. Mungkin karena semalam gagal terbang jadi masih ada getaran-getaran indah tersebut. Manusiawi kok, kan wanita tidak dilarang memiliki nafsu, bahkan sex emotions wanita itu lebih peka dari pria. Lagi pula rasa itu hadir untuk orang yang sudah menghalalkan diriku untuknya.


“Sah, hari ini kita jalan-jalan ya. Aku mau menikmati kebersamaan kita.” Zaid meraih tanganku yang masih bertumpu di atas meja.


“Ke mana, Uda?”


“Pesisir Selatan, ke Pulau Kapo-Kapo. Aku sudah inden tempat, homestay, dan tour guide yang akan memandu liburan kita selama tiga hari di sana.

__ADS_1


Kaget tapi bahagia, karena memang sudah lama aku pengen menikmati wisata laut di Pesisir Selatan yang kata orang-orang paradise-nya Sumatera Barat.


“Uda serius?” Aku masih tidak percaya. Anggukan disertai senyumnya meyakinkanku kalau memang ini bukan mimpi.


__ADS_2