
Sepulangnya mengantarkan Silla, Rendi kembali ke kantornya banyak pekerjaan yang harus ia segera selesaikan.
"Kerjasama dengan Perusahaan tadi pasti batal setelah tahu aku hajar anaknya tadi, pasti Ayah akan marah kalo tahu ini haduhh aku harus secepatnya cari klien lain untuk kerjasama"batin Rendi.
Rendi sudah memperhitungkan sebelumnya dan ia siap menanggung resiko apapun ke depannya.
Namun hatinya lega karena bisa menolong wanita yang dicintainya itu walaupun resiko yang Rendi tanggung mungkin sangat besar.
"Hubungi tim pengacara, ceritakan semuaya tentang kejadian tadi pada mereka dan siapkan bantahan atau apapun jika pihak sana menuntut kita dan juga hubungan tim Pemasaran kita butuh data-data tentang perusahaan-perusahaan yang bisa kita ajak kerjasama"ucap Rendi pada asistennya.
"Baik Pak"
Sudah bisa di pastikan jika malam ini Rendi akan lembur lagi, pekerjaan yang menumpuk belum lagi masalah yang muncul.
Ketika jam makan malam tiba, Rendi istirahat sejenak sudah berjam-jam ia berkutat dengan komputer lipatnya dan dokumen-dokumen yang menumpuk.
Sebuah panggilan masuk mengusik Rendi yang tengah memejamkan mata karena sedikit pusing namun pusing dan lelahnya hilang begitu saja ketika melihat nama si penelepon.
Suara gugup Silla membuat Rendi sangat gemas andaikan Silla berada di dekatnya ingin rasanya ia memeluknya saking gemasnya.
__ADS_1
Di tengah pembicaraan asistennya datang memberikan dokumen yang tadi Rendi minta dan Rendi lupa jika masih telponnya masih terhubung dengan Silla, Rendi meminta maaf namun diluar dugaan Silla malah cerewet mengingatkan makan dan segala hal.
"Aihh gemasnyaa, ahhhh rasa lelahku seketika hilang"ucap Rendi begitu sambungan telpon sudah berakhir.
Begini kah rasanya di perhatikan seorang wanita, Rendi lupa rasanya karena semenjak Bundanya meninggal Rendi hanya hidup dengan Ayahnya.
Karena moodnya kembali bagus Rendi memilih melanjutkan pekerjaanya, rasa lelah, pusing dan lainnya hilang begitu mendengar suara Silla.
Sekitar setengah jam Asisten Rendi masuk dengan membawa beberapa bungkusan makanan dari restoran yang Rendi tau.
"Maaf pak ini ada kiriman makanan dari Bu Silla untuk Pak Rendi"ucap si asisten membuat Rendi terpaku tidak percaya.
"Hmm belum pak saya belum sempat makan nanti saja setelah pulang"ucap Gilang sungkan.
Rendi lalu beranjak dan mengajak Gilang untuk makan bersama karena makanan yang dikirimkan Silla cukup banyak dan cukup untuk Rendi dan Gilang bahkan lebih.
Selesai makan Rendi tidak lupa mengirim foto dan juga ucapan terimakasih pada Silla lewat pesan takut jika ia menelponnya Silla sudah tidur.
Namun diluar dugaan Silla langsung membalasnya dan ternyata Silla membalasnya dengan mengirim foto laptop dan beberapa berkas, Silla juga lembur namun bedanya Silla lembur di rumahnya sementara Rendi di kantor.
__ADS_1
"Terimakasih Pak makanan nya sangat enak"ucap Gilang.
Rendi hanya mengangguk dan menyuruh Gilang untuk secepatnya membereskan barang-barangnya dan segera pulang.
Rendi juga membawa beberapa pekerjaanya ke rumah, setelah makan ingin rasanya Rendi langsung mandi namun ia urungkan karena di ruangannya ia tidak membawa pakaian ganti.
Sementara di salah satu club malam Riko tengah menikmati minuman alkohol dan juga ditemani para wanita cantik.
Satu kebiasaan buruk Riko hampir setiap malam ia akan berkunjung ke club hanya untuk bersenang-senang.
"Tumben sewa ruangan vvip ini, lagi dapet rezeki nomplok ya Ko?"tanya teman Riko.
"Belum tapi akan gue pastikan lebih dari nomplok"ucap Riko dengan yakin.
"Wahh gue doain ya semoga secepatnya dapet ya biar kita bisa happy-happy terus kaya gini"
"Tentu"
Riko bersenang-senang dengan teman-temannya dan tidak menyadari jika dia sedang diintai oleh seseorang bahkan lebih dari seorang.
__ADS_1