Janda Perawan

Janda Perawan
Eps. 154


__ADS_3

"ma, pah kita mau ambil baju dulu ke apartemen dan beberapa barang kak ferdi!" pamit niken


Ferdi juga berpamitan sebelum pergi bersama niken


"kenapa ngga minta supir saja nak. Kalian kan baru saja pulang!" ucap mama jihan


"biasa ma. Kak niko kalau tahu kami pulang pasti besok langsung suruh kerja.!" kesal niken


"nanti biar mama dan papa yang izinkan lagi!" ucap mama jihan lagi


"ngga usah ma, lagian kita sudah dikasih libur lama kasihan niko urus perusahaan sendiri!" jawab ferdi bijak


"bener ma kata ferdi. Tanggung jawab lelaki itu beda!" ucao pak surya membela menantunya


"kalau begitu kami pamit dulu pa, ma!" ucap ferdi kembali dan menggandeng tangan niken


Mobil melaju dengan cepat kurang lebih satu jam perjalanan karena macet keduanya tiba diapartemen ferdi


"ayo sayang!" ferdi menunggu niken keluar dari mobil dan keduanya menaiki lift untuk menuju apartemen ferdi


"sebentar sayang, kakak mau keapartemen rio dulu! Kakak lihat mobilnya ada diparkiran"ucap ferdi


Ternyata niken juga penasaran dan mengikuti suaminya


Suara bel berbunyi beberapa kali, pintupun terbuka


"pak ferdi?" ucap disti yang ada didalam apartemen rio


"sedang menunggu seseorang?" tanya ferdi pada disti yang sangat terkejut

__ADS_1


"siapa sayang?" tanya rio yang baru selesai mandi dan menghampiri ke pintu


"kakak! Masuk kak!" rio menarik disti yang terdiam antara malu dan terkejut


"aku ngga disuruh masuk juga?" niken muncul dibalik pintu


"masuk aja ken!" ucap rio


"eheemmm!" dehemam ferdi menandakan ketidak terimaan ucapan adiknya


Distipun menyenggol rio " masuk kak niken!" ralat rio


"kalian ngapain disini berduaan hemm? Sebaiknya segara menikah saja!" ucap ferdi seolah menjadi kakak yang tegas


"kak, dulu kita juga begitu kan? Jangan kolot deh!" ucap niken menjatuhkan wibawa suaminya


Disti dan rio menahan senyumnya melihat kali ini lelaki bucin bertambah satu lagi di keluarganya


"memang sedang direncanakan. Kalian tunggu saja undangannya!" jawab rio sementara disti menatap rio bingung


"tenang sayang! Ngga buru buru banget kok!" ucap rio mengusap kepala disti


Yang membuat disti makin malu


"udah sih dis iyain aja! Enak loh nikah tuh apalagi kalau ....." ferdi menutup mulut istrinya yang pasti akan. Bicara sembarangan


"apa yang enak kak!" ledek rio pada niken yang tak bisa bersuara karena mulutnya ditutuo tangan ferdi


"ya sudah ayo siap siap kita kerumah niko. Ini sudah hampir malam sebaiknya disti diantar pulang dek!" ucap ferdi

__ADS_1


Keduanya mengangguk " iya kak. Aku mau anter tapi tadi tunggu pesenan makanan dulu" jawab rio


"kita makan dirumah kak adel aja, kangen juga sama zain!" ucap niken


"iya!" disti menjawab singkat


Niken dan ferdi kembali ke apartemennya dan masuk kedalam kamar. Mengemasi beebrapa barang penting dan juga pakaian


"kak mau minum?" tanya niken


"boleh sayang!" jawab ferdi teriak karena niken ada didapur


niken membawakan secangkir teh hangat dan dibawa kekamar ferdi


"ini kak, auu" niken tersandung dan tehnya tumpah dibajunya


"ssyang kamu tidak apa apa kan?" ferdi membangunkan niken


"maaf ya tehnya tumpah" niken merasa bersalah


"Coba buka bajumu!" ferdi mengambil cangkir ditangan niken dan meletaknya dimeja


"mau ngapain kak! Katanya kan nanti malam" protes niken


"lihat ngga tuh bajunya basah, nanti rasanya jadi milk tea gimana?" canda ferdi


"enak donk. Aku aja suka!" jawab niken


"lama banget nanti badanmu lengket. Ayo sini ganti baju!" aja ferdi memilih salah satu t-shirt yang ada dilemarinya

__ADS_1


Dan mengambilkan Salah satu untuk istrinya


__ADS_2