
Selesai prosesi akad nikah, Zaid tidak langsung menginap karena besok dilanjutkan dengan acara baralek gadang, akan ada prosesi adat manjapuik marapulai dan arak-arakan dari rumah bako. Sesuai dengan adat yang berlaku seorang marapulai belum boleh tidur di rumah istrinya sebelum dijemput keluarga perempuan.
Setelah makan bersama dan ditutup doa pengantin yang dipimpin penghulu, keluarga Zaid pamit pulang. Tak sepatah kata pun sebagai basa-basi keluar dari bibirku, ada keinginan untuk menyapa dan melayaninya tetapi tidak mungkin kulakukan saat ini. Meski saat ini Zaid telah resmi menjadi suamiku menurut agama, tetapi aku belum berhak memilikinya secara adat.
Kedua belah pihak keluarga masih asyik membicarakan rencana baralek besok, sedangkan aku memilih meninggalkan ruangan dan masuk kamar. Aku ingin segera ganti baju dan melaksanakan salat dhuha untuk menenangkan diri dan bermunajat. Semoga aku diberi kemampuan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya sampai takdir memisahkan aku dan Zaid.
Setelah beberapa saat berada dalam kesendirian, perlahan pintu kamar kututup tapi tidak dikunci, karena aku takut menimbulkan suara dan membuat semua orang tahu kalau aku meninggalkan mereka. Tubuhku gerah dan berkeringat karena tidak terbiasa mengenakan gaun yang ketebalan brukatnya hampir tiga sentimeter.
Jam di dinding masih sekitaran angka sepuluh, masih ada kesempatan untuk melakukan salat dhuha. Segera kuganti baju dan berwudhu, tidak memedulikan keramaian di luar kamar, aku hanya ingin berlama-lama dengan Rabb-ku dalam doa.
Dzikirku berakhir dengan tengadahan tangan memohon kepada Penguasa Hati untuk diberi keyakinan dan ketetapan dalam menjalani takdirku.
Ehm ....
Suara laki-laki dewasa terdengar sangat dekat, betapa terkejutnya aku melihat Zaid sudah duduk manis di ranjang pengantin. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana dan memperhatikanku. Bibirnya mengulas senyum kemudian meminta izin untuk salat dhuha di kamarku. Kurapikan sajadah yang barusan kupakai kemudian menunjukkan posisi kamar mandi tempat berwudhu.
Aku hampir saja berteriak melihat Zaid melepaskan baju kokonya dan meletakkannya di kasur untuk memudahkan dan tidak basah ketika berwudhu. Tangan kanannya membekap mulutku yang masih menganga. Aku gemetar, mungkin karena belum pernah melihat laki-laki dewasa selain Abak hanya memakai singlet yang memperlihatkan tonjolan otot-otot di dadanya. Aku meneguk ludah kemudian Zaid melepaskan tangannya.
“Aku suamimu, semua yang kamu lihat di tubuhku halal,” bisiknya di telinga yang membuat kuduk merinding.
“Jika saat ini aku ingin mendatangimu maka tak ada alasan bagimu untuk menolak.” Senyum nakal Zaid membuatku berasa tak bertulang.
Aku tak bisa berkata-kata karena suaraku tercekat di kerongkongan. Napasku memburu saat Zaid memegang wajahku dengan kedua tangannya, matanya menatap lurus bola mataku yang kemudian kupejamkan. Ada rasa hangat dan basah di keningku, ternyata Zaid menciumku.
__ADS_1
Irama jantung menggelora, darah mengalir cepat ke seluruh urat nadi, kutepis tubuh Zaid yang sangat dekat denganku. Tubuhku kembali gemetaran bersama keringat dingin yang mengucur deras. Untung tubuhku masih ditutupi mukena sehingga Zaid tidak melihat apa yang sedang kualami.
“Masih malu?” Zaid tetap menggoda walaupun aku tidak bersuara.
Aku tidak mau terlihat bodoh di mata lelaki yang sekarang telah resmi mejadi imamku, kutunjuk jam yang sudah hampir mendekati batas dhuha. Zaid segera berwudhu dan mengerjakan salat dhuha enam rakaat. Selama dia bersama Rabb-nya, aku hanya duduk menepi di pinggir ranjang.
Kunikmati keanehan yang mulai menjalar di jiwa, perasaan mulai bercampur aduk yang membuatku kurang nyaman. Mungkin karena baru kali ini aku berdua saja dengan seorang laki-laki dewasa di kamar, sedangkan di luar masih banyak tamu.
“Biar aku yang bereskan.” Zaid menurut ketika aku larang melipat sajadah, dia segera mengenakan koko yang tadi diletakkan di tempat tidur.
“Terima kasih, Bidadari Surgaku, sudah menerima kehadiranku di kamarmu.” Tatapan Zaid memukau jiwa yang membuat wajahku memerah.
“Aku pamit, besok aku akan datang membawa cinta yang lebih membara khusus untukmu.” Zaid meraih tanganku dan menciumnya.
Aku tetap terdiam dan menikmati rasa indah yang mulai mengetuk pintu hati.
Setelah jamuan makan Bi Yanti diizinkan membawaku, ternyata kedatanganku ke rumah tuo sudah ditunggu oleh kerabat Abak. Setelah Nenek meninggal Bi Yanti dan keluarga kecilnya tinggal di sini karena dia adalah anak perempuan satu-satunya yang harus menjalankan dan menerima waris.
Derit jenjang kayu yang kutingkat satu per satu mengembalikan ingatan masa kecilku, ketika Nenek masih hidup aku sering menginap di sini dan paling suka duduk di janjang tengah menunggu sinar mentari menerpa tubuhku. Arah rumah yang tepat mengarah timur membuat sinar mentari yang datang bersama embun langsung menerpa wajah.
Sering aku dimarahi Nenek jika kedapatan duduk bermenung dengan tangan menopang dagu, kata Nenek duduk di janjang bisa menghambat rejeki naik. Seketika air mataku menetes teringat semua kenangan tentang Nenek. Melihat aku menangis Tek Yanti memelukku, kami sama-sama melepaskan kesedihan yang muncul di saat-saat penting seperti ini.
Rumah tuo hanya memiliki dua kamar, tetapi ada ruangan lepas yang memanjang. Permadani merah terhampar dari ujung ke ujung, di atasnya telah ditata berbagai makanan dan kue-kue sebagai jamuan malapeh anak daro . Kembali jantungku berdenyut dalam kesedihan mendalam, rumah ini pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang hidupku. Di sini aku pernah diajarkan menyulam oleh Nenek dan basilek oleh Pak Danas adik Abak, katanya agar aku bisa membela diri jika nanti mereka sudah tak mampu lagi mengawasiku.
__ADS_1
Suntiang dan baju sudah dipersiapkan di kamar Bi Yanti, karena memang di sana Etek Nurma akan mendandani dan memakaikan baju kebesaran Minangkabau berwarna merah dengan hiasan rumbai-rumbai warna emas. Di atas kepala dipasangkan suntiang besar yang membuat penampilanku benar-benar berubah menjadi seperti ratu, jadi tidak salah kalau pengantin wanita itu dikatakan ratu sehari.
Setelah selesai didandani aku disuruh keluar dan duduk bersama keluarga Abak yang lain di ruang tengah. Tak berapa lama Zaid datang bersama beberapa orang utusan keluargaku, yang tadi pagi melakukan prosesi manyalang marapulai .
Proses manyalang marapulai ini termasuk ke dalam urutan acara baralek, dengan meminjam Zaid ke pihak keluarganya barulah aku bisa diarak bersama dari rumah bako menuju pelaminan yang sudah disediakan di rumah pengantin wanita. Zaid memakai pakaian yang senada dengan baju anak daro, sedangkan di kepalanya diletakkan saluak , sebilah keris menyembul dari ikat pinggangnya.
Zaid terlihat gagah di mataku sehingga menyebabkan debaran-debaran seperti kemarin kembali mengusik jiwa.
Proses malapeh arak dilaksanakan di halaman rumah tuo. Beberapa orang keluarga Abak telah siap sedia dengan tugasnya masing-masing, ada yang membawa nasi, kue, dan lain sebagainya. Dua orang sepupuku dari keluarga Abak mengenakan pakaian adat Minang lainnya, yaitu takuluak tanduak. Mereka memegang payung berwarna keemasan sebagai pelindungku dan Zaid.
Aku tersentak saat Etek Nurma menggamit tanganku untuk dilingkarkan ke lengan Zaid.
“Masa anak daro jalan berjauhan dengan marapulai, seperti orang musuhan.” Etek Nurma menyuruh Zaid menggenggam tanganku.
Sebenarnya tidak ada yang salah dan berdosa jika Zaid membimbingku, karena kemarin aku sudah dihalalkannya dalam akad nikah. Cuma saja rasa malu dan segan masih menjadi hal yang sulit aku kalahkan saat berdekatan dengan Zaid, apalagi saat ini dilihat banyak orang.
“Sudahlah, Sah, aku kan suamimu. Aku yang akan menjagamu dalam jaga dan tidurmu. Mari kubimbing takut kamu jatuh karena hak sepatumu yang tinggi ini.” Tawanya memperlihatkan barisan gigi yang tersusun rapi dari sela bibirnya yang kemerahan.
Tawa riuh saudara-saudaraku mengiringi tingkahku yang serbasalah.
Pelaminan yang sengaja dipasang di halaman rumah menjadi titik pemberhentian arak-arakan. Beberapa kali terdengar pidato adat dari sipangka pihak keluargaku sebelum kami dipersilakan melangkah dan duduk di singgasana kerajaan kami hari ini. Zaid membantuku naik ke pelaminan yang sedikit tinggi meskipun beberapa buah tangga pendek disediakan pemilik pelaminan.
“Mari kita nikmati kebersamaan dalam keramaian,” Zaid kembali mencandaiku.
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Maunya hanya bersama kamu, tapi berdua saja, bukan di pesta seramai ini.” Zaid mengedipkan matanya yang membuatku semakin gugup.