
Ditoko peninggalan ayah zaki yaitu ayah adelia dan adisti
Sebuah motor tiba dihalaman toko pembibitan dan penjualan tanaman serta bunga yang menghijau dan warna warni
Disti turun dari motor ojek onlinenya dan membayar sejumlah uang yang tertera pada aplikasi diponselnya
"terima kasih pak!" ucap disti sopan setelah diantarkan dengan cepat dan selamat ketempat tujuannya
"selamat pagi!" disti masuk kedalam ruangan kantor didalam toko yang tak terlalu luas
Namun cukup untuk lima atau enam karyawan yang bekerja didalamnya dibagian masing masing
"pagi bu!" ucap salah satu karyawan yang sudah mengenal disti
"ngga usah bu, saya masih muda juga!" ucap disti protes
"silahkan bu, eh mba disana ruangannya! Tapi" belum sempat dewi yang bertugas sebagai pegawai bagian adminitrasi menunjukan ruangan. Disti sudah buru buru masuk
"pak eh kak rio ngapain kesini!" tanya disti kaget ada orang yang paling ingin ia hindari
"maaf mba, beliau konsultan toko kita!" jelas dewi pada disti yang ikut masuk keruangan disti
"lalu? Duduk disini bersama saya!" tanya disti pada dewi
"iya mba sementara sampai kantornya selesai diperbesar!" ucap dewi yang diberitahukan oleh ferdi langsung
Ferdi diminta niko untuk mencari orang yang berpengalaman dan juga dapat dipercaya
__ADS_1
"kenapa mesti dia sih kak niko!" gerutu disti pelan
"kenapa mba, ada yang perlu saya kerjakan sekarang?" tanya dewi
Disti menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar
"ngga apa apa, siapa namamu?" tanya disti
"dewi mba, nama saya!" jawab dewi
"kalau mau ngobrol diluar!" ucap rio seolah olah dia bosnya
"baik pak saya permisi dulu!" dewi ketakutan
"kenapa masih berdiri, ayo duduk dan bekerja kalau mau maju usahanya! Banyak bergerak bukan banyak bicara!" ucap rio
Disti tak menjawab dan meladeni ucapan rio. Ia duduk dan membuka buka dokumen yang ada dimeja nya
Mau bertanya pada rio tapi ragu yang ada hanya akan diledekin atau dikatain. Tapi kalau diam saja apa yang harus dikerjakan ia tak tahu
"kak!" akhirnya disti memberanikan diri
"ya!" rio juga menjawab dengan singkat
"ini ada contohnya ngga?" ucap disti lagi
"sebentar! Kamu ngga liat saya sedang sibuk" sahut rio ketus
__ADS_1
disti diam saja tak menjawab. Ia keluar membawa berkasnya dan menghampiri dewi
"dewi bisa bantu saya! Saya belum mengerti bagian ini!" ucap disti pelan
"ini yang lebih tau pak rio mba, saya hanya mengurutkan dan mencatat saja!" ucap dewi yang memang diberikan pesan oleh rio jika urusan disti biar rio yang menangani
"oke!" disti pasrah dan kembali keruangannya
"apakah saya bisa menganggu waktu kak rio sebentar!" disti berbicara formal menahan kesalnya yang seolah sengaja rio lakukan
"boleh! Silahkan mau minta bantuan apa?" rio menyenderkan tubuhnya ke kursi dan menatap disti
"sa ...saya ngga bisa ngerjain ini, butuh bantuannya kak!" ucap disti gugup
"ada syaratnya!" ucap rio
"apa?!!! Ehh iya apa syaratnya kak!" disti mengalah
"selama satu bulan ini kamu harus menyiapkan kopi dipagi dan sore hari dan juga makan siang saya!" ucap rio menaikan sebelah alisnya
"sebulan? Ngga usah deh saya minta bantuan kak niko saja!" ucap disti dengan sombongnya
"tunggu!" rio menahan disti dan menunjukan pesan diponselnya berasal dari niko
"tolong bantu disti sampai bisa, didik dia seseuai dengan caramu dalam satu bulan ini. Kakak ngga bisa bantu disana!" isi pesan niko yanh dikirim pada rio
"baiklah! Hanya satu bulan kan?" disti lemas mau bagaimana lagi jika pertolongan utamanya memasrahkanya pada orang jutek dan ngeselin sedunia disti
__ADS_1
"kalau kamu mau lebih lama lagi bimbingannya boleh!" ucap rio
"tidak perlu kak, cukup sebulan aja!" disti mencibikan bibirnya