
" ibu, aku mau minta izin untuk melamar seseorang yang akan menjadi pendampingku" rio dengan tekad bulat ia memberanikan diri datang kerumah orang tuanya
"untuk apa lagi meminta izin, bukankah sudah ku katakan sudah tak menganggapmu sebagai anak lagi sejak kau membuat ayahmu masuk penjara" ucap bu dewi pada rio yang saat ini berlutut pada ibunya
"saya akan membebaskan ayah dari penjara bu, dan kalian harus tetap datang dipernikahan kakak" ucap rio yang memohon pada ibunya
"kenapa kalian datang saat membutuhkan kami saja, tapi tak mau menuruti keinginan orang tua kalian. pergilah saya tak butuh anak sepertimu dan kakakmu" ucap bu dewi mengusir anaknya
"ayah! ayah sudah bebas" ucap bu dewi terkejut melihat suaminya sudah pulang kerumah
"iya bu, maafkan ayah! ayah akan berhenti berjudi" ucap pak dimas yang berjanji dihadapan istri dan juga rio disana
"kenapa ngga kasih tahu kakak jika akan datang" ucap ferdi dibelakang ayahnya
yang justru menyapa adiknya bukan ibunya terlebih dulu
"kakak yang membebaskan ayah?" tanya rio
"iya, ayo kita pulang" ajak ferdi mengajak adiknya tanpa berpamitan pada ayah dan ibunya
"dasar kalian anak kurang ajar ya" teriak bu dewi
" bu sudahlah. biarkan mereka pergi ini semua salah ayah bu. ternyata selama ini papa dias bukan orang baik baik. dan harusnya kita bersyukur karena anak kita tak ada yang jadi menantunya" ucap pak dimas dengan lembut menjelaskan pada istrinya yang merasa anaknya telah membuat orang tuanya dalam massalah
padahal sebaliknya. selama ini rio sudah sangat patuh pada permintaan ibunya
__ADS_1
"kak, maafkan aku baru tahu jika ada masalah dan membuat pernikahan kalian diundur, aku tak bisa membantu kakak" ucap rio menyesal saat berada dimobil kakaknya
" jangan khawatir kakak dan niko sudah mengatasinya dengan baik.kita mampir kerumah niko sebentar, ada yang perlu kakak antarkan sebelum cuti" ucap ferdi
"jangan kak, aku ngga mau kesana lebiih baik aku turun sini saja, aku lelah" tolak rio yang seoalh menghindar
"baiklah. tunggu kakak dirumah" ferdi pun tak mau memaksakan adiknya yang pasti berkaitan dengan disti
"terima kasih kak" rio turun dari mobil kakaknya dan mengehentikan taksi menuju apartemen kakaknya
tak begitu saja langsung pulang rio meminta agar supir taksi membawa rio melewati jalan dimana toko disti berada
rio ingin melihat walau hanya sekilas saja, dan akan menemui disti saat pernikahan kakaknya yang akan menentukan nasib cintanya nanti
saat ini rio hanya cukup dengan memandang dari kejauhan saja wajah disti
"tadi siapa dew, kayaknya ada taksi didepan apa ada yang pesan?" tanya disti yang melihat taksi cukup lama berhenti didepan tokonya
"tidak bu, mungkin menunggu penumpangnya didekat sini" jawab dewi
"ohh begitu" entah mengapa hati disti merindukan seseorang yang ia harapkan saat ini hadir dalam hadapannya
bersamaan dengan ponsel disti berbunyi " halo kak, apa kabar?" tanya disti yang sangat senang seperti ada telepati yang menyampaikan pada rio jika disti merindukannya
"kangen" jawab rio singkat
__ADS_1
"iya. niken akan segera menikah apa kak rio akan pulang?" tanya disti
"tergantung" jawab rio lagi yang keluar dari taksi dan masuk ke apartemen kakaknya
"apanya?" disti ingin berlama lama mendengar suara rio kali ini
"tergantung padamu, kamu mau aku datang atau ngga" rio memancing disti yang rio yakini saat ini disti juga merasakan hal yang sama dengan yang rio rasakan saat ini
"ya terserah kakak aja lah, aku ngga mau maksa orang" ucap disti cari aman
"baiklah kalau begitu, padahal aku lebih suka dipaksa loh" sahut rio lagi
"boleh minta sesuatu?" tanya rio
"apa?"
"hatimu, bisakah hatimu untukku" ucap rio
"ambil saja jika bisa!" tantang disti dengan senyum merekah dibibirnya
"tunggu aku pulang" ucap rio dan keduanya memutuskan panggilan telfonnya
rio takut tak sabar dan menemui disti. meski bagaimanapun rio ingin orang tuanya setuju jika distilah pilihan hati rio
dan tak ada yang lain yang rio inginkan
__ADS_1
rio akan meminta restu bagaimanapun akan ia lakukan