Janda Perawan

Janda Perawan
Season 2


__ADS_3

Arvan tengah berdiri menatap gedung-gedung menjulang tinggi, ia sedang menenangkan diri setelah mendengar sesuatu yang sangat amat mengejutkan untuknya.


#Flashback


Setelah membereskan bekas makanan dan memastikan pintu terkunci Andra bersiap memberitahukan kebenaran pada Arvan.


Andra menceritakan mulai dari Awal Belva berpacaran, tentang traumanya Belva sampai ketika Silla lahir dan penyebab kematian Delvi.


"Daddy ga bohong kan ?"ucap Arvan tidak percaya.


"Daddy udah jujur semuanya sama kamu Van, Daddy tau kamu pasti terkejut tapi memang faktanya begini, untuk saat ini kamu jangan kasih tau siapapun ya apalagi Mommy mu "ucap Andra.


"Arvan permisi dulu Dad, Arvan butuh waktu untuk mengerti ini semua"ucap Arvan lalu segera pergi dari Ruangan Daddy nya


#Flashback off.


"Kenapa bisa seperti ini? Bagaimana kalo Kak Silla tahu?"batin Arvan.


\=\=\=\=


Jika sudah bertemu dengan Dea, Silla pasti slalu lupa waktu, bahkan setumpuk dokumen dimejanya ia tidak pedulikan.


namanya juga perempuan ketika bertemu sahabatnya pasti slalu lupa waktu, entah mengapa slalu saja ada obrolan yang tiada habisnya mereka bahas.


Barulah setelah di telpon Bundanya, Dea akhirmya berpamitan untuk pulang.


"Awas loh ya jangan lupa weekend ini"ujar Silla mengingatkan karena mereka janjian akan pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


"Iya Kak tenang aja, aku tulis di aplikasi kalender ponselku biar ga lupa, semangat ya kerjanya aku pamit dulu bye kak"ujar Dea lalu hilanh dibalik pintu.


"Kembali lagi ke setumpuk dokumen, semangat Silla"uucap Silla menyemangati dirinya sendiri.


Sedangkan Belva dan Nasya sedang berbincang-bincang di halaman belakang, setelah lelah berkeliling melihat rumah dan memasak.


"Ga kerasa ya Bel, anak-anak udah dewasa bahkan mungkin sebentar lagi akan ada yang menikah"ujar Nasya.


"Iya, Aku masih ingat ketika dulu masih masih gadis, jalan-jalan berdua ya, nyalon, shopping bareng-bareng"


"Heem kamu paling susah kalo di ajak shopping"


"Iya dulu tapi sekarang juga masih sih Kak"


"Oh iya Bel, Silla kan sudah dewasa sudah waktunya kamu memberitahu semuanya"ucap Nasya.


"Hmm Kak aku mau ke kamar mandi dulu ya"ucap Belva pergi.


"Mau sampai kapan Bel?"ucap Nasya menghentikkan Belva.


"Maaf kak aku menolak.membahas ini, lagian Kakak ga berhak ikut campur"ucap Belva sedikit emosi.


Belva memilih pergi ke kamarnya,ia masih begitu emosional jika menyangkut Silla.


Nasya hanya terdiam baru kali ini ia melihat Belva yang terlihat sangat kesal.


"Apa aku terlalu ikut campur ya?"batin Nasya karena merasa tidak enak.

__ADS_1


Nasya lalu memilih untuk pulang, membiarkan Belva untuk menangkan dirinya.


\=\=


Ketika Makan malam tiba, Belva berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja di depan Andra dan Aeri.


"Daddy, Kak Arvan sama Kak Silla kemana?"tanya Aeri karena merasa aneh hanya mereka bertiga.


"Kak Silla lagi lembur dan Kak Arvan bantuin disana"ucap Andra lembut.


seberapa pun besar usaha Belva berusaha terlihat baik-baik saja, Andra tetap tidak akan bisa dibohongi buktinya ia dari tadi menatap semua gerak gerik Belva.


"Maaf Sayang, aku tidak ingin berlarut-larut seperti ini, akan aku usahakan memberitahu Silla perlahan-lahan dan secepatnya"batin Andra menatap Belva yang sedang makan dengan wajah yang sendu.


"Mommy kok masakannya beda ya rasanya? ini kamu yang masak atau bibi?"tanya Andra memecah keheningan.


"Masa sih Dad? aku yang masak kok seperti biasa apanya yang beda?"tanya Belva bingung ia berkali-kali mencicipi masakannya.


"Iya maksudnya Makin enak"ucap Andr Tersenyum.


"Bener Mommy makin enak"ucap Aeri kompak mengikuti Sang Daddy.


"Alhamdulillah kalo makin enak, kalo gitu Aeri harus nambah ya makannya Daddy juga ya"


"Siap Mommy"ucap Andra dan Aeri sambil tanganya refleks hormat.


setelah itu Mereka lalu tertawa karena kekompakan Andra dan Aeri.

__ADS_1


__ADS_2