
Jika suatu hari engkau rindu rumah, maka kembalilah. Karena tak ada tempat yang paling nyaman selain di surga itu.
Dari Silungkang menuju Kumanis berjarak tempuh lebih kurang dua jam. Zaid pindah ke sebelahku karena barusan ada penumpang yang turun di jalan. Bersandar dan bermanja di lengan seorang laki-laki yang akan membimbing ke jannah-Nya merupakan hal yang luar biasa dari sekian nikmat yang telah dikaruniakan kepadaku.
“Wuih, semangat banget.” Zaid membelai pipiku.
“Iya. Kangen masakan Ibu, kita bisa agak lama kan di kampung?”
Zaid mengangguk. “Untuk bidadari surgaku apa sih yang nggak."
Beberapa mulut mendeham melihat tingkah kami, ada yang membulat, ada yang mendoakan kebaikan untuk keluarga kami ke depannya.
Melewati SPBU Kumanis, mobil melaju ke simpang kanan. Rumah penduduk belum serapat di Kota Padang atau Nagari, tetangga kami, melewati kebun-kebun karet yang diselingi rumah papan dan semi permanen.
“Pasti Ibu kaget, kita pulang nggak memberi tahu.” Zaid menatap keluar kaca mobil dan memberi senyum kepada penduduk yang sedang duduk di warung menghabiskan waktu sore mereka.
Benar saja apa yang dikatakan Zaid, Ibu terlihat heran ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Tak lama senyumnya merekah.
“Abak, Zaid dan Hafsah pulang.”
Aku berlari mengejar Ibu yang juga bergegas ke arah kami. Tangan tua dengan kerutan itu kucium lama, tubuh ringkihnya kupeluk, semoga rindu ini merekah dalam dekapannya yang bersahaja.
__ADS_1
Zaid selesai menurunkan bawaan kami dan langsung menuju tempatku dan Ibu berdiri. Hal yang sama dilakukan Zaid, mencium tangan wanita yang telah membesarkan istrinya dengan kelembutan.
“Abak mana, Bu? Kok nggak kelihatan?” Zaid celingak-celinguk.
“Tadi di belakang lagi ngurung ayam. Nah, tuh Abak."
Lelaki pertama dalam hidupku muncul di depan pintu lalu mengembangkan tangan merangkul menantu kesayangannya. Mereka saling berpelukan dalam cinta yang luar biasa, cinta itu tumbuh setelah dua manusia disatukan dalam pernikahan.
“Abak sehat?” tanya Zaid sesaat setelah mereka saling melepas rangkulan.
“Alhamdulillah."
Ibu bergegas ke dapur membuatkan teh hangat dicampur jahe dan gula semut hasil karya tetangga sendiri, agar angin di perut keluar dan tubuh terasa nyaman sehabis menempuh perjalanan jauh.
Aku hanya bisa menunduk dan tak mampu memberikan pernyataan sesungguhnya kalau aku masih perawan. Takut Ibu terluka dan kecewa.
Magrib mulai merayap, suasana di kampung teramat beda dengan di kota. Alunan dendang jangkrik juga kodok bersahutan hilir dan mudik. Abak dan Zaid pasti pulang dari masjid ba’da isya. Beginilah kalau di pelosok negeri, meski jauh dari gemerlap duniawi, namun kedekatan kepada Pencipta terasa sangat kental.
“Asalammualaikum.”
“Waalaikumsalam,” aku dan Ibu berbarengan menjawab salam.
__ADS_1
Makan malam kali ini terasa sangat nikmat, beberapa masakan khas Kumanis disediakan Ibu di meja makan. Ada pengek ikan nila, samba lado jariang, dan kalio ayam kampung menjadi menu utama kedatangan kami.
Ya Rabb, begitu besar nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Izinkan kami untuk selalu bersyukur sampai kami kembali ke hadapan-Mu.
Selesai makan malam, Abak dan Zaid duduk di beranda, menikmati rembulan yang mulai menampakkan wajahnya. Entah apa yang mereka diskusikan, yang jelas kadang terdengar serius, kadang mereka sama-sama tertawa. Biarlah mereka melepas rindu, dan aku bisa isirahat sejenak sambil menunggu kekasih halalku mendatangi kamar ini.
Pintu kamar terbuka, langkahnya seperti ditahan agar tidak menimbulkan suara. Zaid duduk di ranjang, perlahan dia menarik selimut dan tidur di sampingku, karena memang aku masih belum bersih dari tamu bulanan. Sebelumnya ada kecupan lembut mendarat di keningku.
“Selamat tidur, Sayang,” ucapnya pelan.
Pagi ini aku begitu bahagia, kami akan melakukan perjalanan wisata ke daerah sekitar Sijunjung. Tujuan utamanya adalah Geopark Sijunjung atau yang lebih dikenal dengan Nagari Silokek. Di sana ada destinasi wisata alam yang luar biasa dari Sang Pencipta. Kami menuju ke sana menggunakan motor trail Abak, karena medan yang dilalui sangat berat dan memacu adrenalin.
“Sudah siap, Sayang?” Zaid memang perhatian, hal sekecil ritsleting jaket yang belum terpasang tak luput dari perhatiannya. Belum lagi helm dan perbekalan yang harus kami bawa agar aku tidak kelaparan atau kehausan di jalan, begitu katanya kepada Ibu dan Abak.
“Sayang, jangan lupa perlengkapan salat ya. Takut nanti waktu salatnya di jalan, sedangkan kita belum menemukan masjid.”
Aku mengangguk. “Sudah siap, Komandan,” candaku.
Silokek merupakan salah satu daerah wisata potensial yang berada di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sebuah kawasan wisata alam yang terdapat di sepanjang kenagarian Muaro, Silokek, dan Durian Gadang.
Di sepanjang kawasan ini wisatawan dapat menikmati keindahan alam seperti; suasana pantai pasir putih yang memukau, keindahan panorama ngarai batu berjajar yang menawan, wisata gua (ngalau), taman anggrek yang memesona, panjat tebing, arung jeram, Air Terjun Pelukahan, pemandian air panas, dan wisata budaya lokomotif uap peninggalan Jepang.
__ADS_1
Silokek mempunyai keindahan alam yang sangat eksotis dan mampu menarik perhatian para wisatawan lokal maupun mancanegara.