
"masuklah! kakak keluar sebentar" ucap ferdi setelah tiba diapaertemennya
"tapi kak" ucap rio ragu
ferdi menepuk pundak adiknya dan meninggalkannya
"kamu kenapa disini?" tanya rio pada disti
flasback on
"sayang, kakak harus menjemput rio, bisakan minta tolong untuk membawa ke disti agar ke apartemen kakak" pinta ferdi sebelum meninggalkan rumah calon mertuanya
"tentu saja kak, hati hati dijalan" ucap niken yakin
niken masuk kedalam rumahnya kembali setelah ferdi melajukan mobilnya, niken berpamitan pula pada mamanya jika akan menginap dirumah adel karena ada pekarjaan yang akan dilakukan bersama niko, niken berbohong agar orangtuanya tak kahwatir
"maafkan niken ma" ucap niken menggumam sendiri didalam mobil
tiba dirumah kakaknya tak lupa berpamitan dengan niko dan juga adel untuk mengajak disti membantu ferdi. adelpun mengizinkan dengan syarat tetap harus pulang kerumah jam berapa pun
" dia singgle sekarang" lanjut niken agar disti tak meras bersalah karena dianggap merebut pasangan orang lain
disti mengikuti niken setelah dijelaskan akan kemana dan melakukan apa, niken meminta agar disti merenung didalam mobil apakah yang hatinya inginkan.
dan mempertemukan disti dengan rio sebelum rio pergi untuk waktu yang tak pasti.
disti yang tak mau menunggu lebih lama lagi dengan apa yang ia pendam selama ini, setuju dan akan bicara langsung pada rio
"masuklah, aku tunggu dimobil nanti rio akan datang bersama kak ferdi! langsung telfon jika ada sesuatu terjadi" niken mengantarkan disti sampai apartemen ferdi dan duduk menunggu rio datang
__ADS_1
flashback off
"kak, ya ampun apa yang terjadi?" disti mendekati rio dan spontan menyentuh pipi lebam rio
"duduklah, aku mau membersihkannya dulu" rio seolah menghindar dari disti
meski hatinya sangat ingin meeluknya tapi ia tak boleh egois, saat ini sedang dalam masalah dan tak mau melibatkan disti
"kak, biar aku bantu" ucap disti tak dihiraukan
"pulanglah sudah larut malam, aku baik baik saja" ucap rio berjalan membelakangi disti
disti tak bergeming
"lakukan dengan baik!" rio mendekati disti yang duduk disofa apartemen ferdi dan memintanya agar mengobati lukanya, setidaknya rio dapat menatap wajah disti lebih lama tanpa harus beralasan
"baik kak! disti segera mengambil kapas untuk menyeka darah kering dibibir rio
ucap rio
"dari dulu kali!! kemana saja selama ini!" ucap disti becanda tak mau wajah merahnya terlihat oleh rio karena malu
"sayangnya baru hari ini mau dekat dekat begini" ucap rio yang benteng pertahanannya runtuh juga tak sanggup menolak pesona dari disti
"dulukan ada pawangnya!" jawab disti ketus masih sambil mengobati luka rio
"sudah selesai!" ucap disti membereskan sisa kapas yang digunakan untuk mengobati tadi
__ADS_1
"ngga usah lirik lirik, dilihat langsung juga gratis" ucap rio
"aku pulang dulu kak!" pamit disti karena sudah mulai bingung tak tahu apa yang harus dikatakannya lagi
"cepet banget, jadi kenapa kamu bisa sampai kesini" tanya rio lagi saat pertama melihat disti ia terkejut dan belum dijawab tadi
"ya mau kesini aja,tadi aku kan udah diusir ya udah aku mau pulang" disti gugup dan berjalan menuju pintu
"tunggu sebentar! bisa kita bicara" ucapan rio menahan tangan disti
"lusa aku akan pergi keluar negeri dan tak tahu sampai kapan!" ucap rio lagi dengan menatap wajah disti
"ohh, iya kak hati hati ya!" jawab disti
"gitu aja!" tanya rio
"hmmm lalu apa lagi, ada yang masih ingin disampaikan?" tanya disti yang juga bingung
"ngga, hanya itu saja. ayo aku antar pulang" ajak rio
"ngga usah kak, dibawah ada niken dan aku pulang sama niken saja" ucap disti meninggalkan rio sendiri setelah menyelesaikan mengobati rio
"baiklah, aku antar sampai bawah" rio membuntuti disti
keduanya terdiam didalam lift tak slaing bicara hingga disti menghampiri mobil niken yang didalamnya ada dua orang yang sedang tidur terlelap
"kasihan mereka, sudahlah ayo aku antar saja" tawar rio
"ngga kak, aku tunggu mereka bangun saja" tolak disti tak mau merepotkan
__ADS_1
"lebih baik kakak istirahat saja" lanjut disti