
Kondisi Zaid sudah sangat baik, hari ini juga diperbolehkan unuk pulang dengan catatan seminggu sekali harus kontrol. Dokter yang menanganinya menyarankan agar Zaid jangan terlalu sibuk dan mengurangi aktivitas dalam ruangan. Traumatic psikis bisa disembuhkan dengan cara yang tepat dan konsisten, agar traumanya berkurang sedikit demi sedikit.
Trauma psikis yang dialami Zaid memengaruhi perilaku sosialnya, hal tersebut yang membuat Zaid takut berdekatan dan menyentuh wanita meskipun wanita itu halal untuknya.
Salah satu cara yang dianjurkan dokter adalah sering berduaan di tempat-tempat ramai untuk menghindari rasa takut yang berlebihan. Hal lain yang dapat membantu Zaid adalah mengingatkan pada hal-hal indah sebelum dia trauma, dan membuat dia nyaman pada masa sekarang sebagai upaya agar dia bisa melupakan masa lalunya itu.
Untuk mengingatkan Zaid pada hal-hal indahnya sebelum trauma tentu sangat tidak mungkin, karena aku tidak mengenal Zaid waktu itu. Yang bisa aku lakukan hanya membuat Zaid nyaman berada di masa sekarang, di mana dia hidup bersamaku.
Selesai mengurus semua administrasi pengobatan, kami diantar oleh orang tua Zaid pulang. Mereka hanya bisa mampir sebentar, karena Pak Rahmadi ada urusan yang harus beliau selesaikan.
Rumah ini kembali bewarna, ada nuansa jingga dan merah muda. Sama dengan hatiku yang mulai berbunga. Cinta yang tumbuh seiring terkuaknya tabir tentang Zaid, membuat jantungku berdebar indah saat tatapan mata kami beradu. Harapan untuk segera menikmati malam pertama bersama Zaid membuatku jengah. Antara malu dan mau, berharap ladang yang selama ini tidak terawat akan digarap secepatnya oleh Zaid.
__ADS_1
Hari ini sengaja aku tidak memasak untuk Zaid, karena ibu mertua sudah membelikan nasi padang untuk makan malam kami berdua. Untuk pertama kalinya setelah menikah Zaid menjadi imam salat magribku, suaranya sangat indah bahkan mampu menggetarkan jiwaku yang kering. Selepas magrib, kami membaca Alquran sampai isya menjelang.
Makan malam berdua yang selama ini menjadi angan-angan kali ini menjadi kenyataan. Suapan pertama dari Zaid untukku, jemarinya menyentuh bibir, kunikmati debaran-debaran indah yang membuat jantungku semakin kuat memompa darah ke kepala.
Ternyata Zaid sangat romantis, mengalahkan romantisnya Dilan pada Milea. Sungguh aku tidak ingin kehilangan keromantisan Zaid, dan aku tidak mau trauma mengalahkan kemesraan kami. Apa pun akan kulakukan untuk kesembuhan Zaid, walaupun aku harus bersikap layaknya wanita vulgar dalam menghadapinya.
Selesai merapikan meja makan, kuhampiri Zaid yang sedang menikmati kopi jahe di ruang tamu. Sesuai anjuran dokter aku seharusnya berada lebih dekat dengan Zaid, bahkan kalau bisa bersentuhan. Rasa malu masih hinggap di dada, aku belum bisa seberani itu. Zaid memperhatikan sikapku yang salah tingkah, ingin berbuat tapi aku takut memulai.
“Sini duduk, jangan jauh-jauh. Masa pengantin baru seperti orang musuhan.” Zaid menarik tanganku agar berada di sampingnya.
Zaid mengajakku tidur di kamar karena malam sudah menguasai bumi, kami berdua berjalan beriringan menuju kamar yang sama. Pintu kamar terbuka, aroma mawar masih kental memenuhi rongga hidung, meskipun sudah tiga bulan mengering di sudut kamar. Kali ini aku yang takut menghadapi malam pertama.
__ADS_1
Beberapa saat terdiam Zaid menggenggam jemariku, kembali kecupan-kecupan mesra mendarat di kening dan pipiku.
“Kita salat dulu, Sah.” Zaid mengajakku salat dua rakaat, hal itu memang disunatkan sebelum melakukan hubungan suami istri. Selesai salat Zaid mencium ubun-ubun dan mendoakan kebaikan untukku.
Air mataku menetes, ada kebahagian yang tidak bisa kuungkapkan. Zaid melepaskan mukenaku, untuk pertama kalinya Zaid membelai mahkota yang ada di kepala dan melepaskan ikatan rambutku, kembali aku dihujani ciuman penuh kasih dari suami tercinta.
Zaid membantuku berdiri. Bersama kami menuju ranjang pengantin yang selama ini juga merindukan kehadiran Zaid. Sebelum berbaring kuambilkan Zaid segelas air putih yang sengaja kuletakkan di meja ranjang. Semoga bisa menghilangkan kekakuannya.
Beberapa teguk lewat di tenggorokannya, gelas itu diserahkan kepadaku dan Zaid memintaku untuk minum air yang sama. Setelah gelas tersebut kutaruh kembali, kudekati Zaid yang duduk manis di pinggir ranjang. Darahku berdesir, kakiku gemetar karena baru kali ini aku duduk seranjang dengan Zaid.
Perlahan kurebahkan kepala di bantal, Zaid melakukan hal yang sama. Zaid menarik pundakku agar menghadap padanya, wajah kami begitu dekat bahkan angin pun tak bisa melewati ujung hidung yang bersatu. Satu dan dua kecupan mesra kembali mendarat di kening.
__ADS_1
Mataku terpejam. Antara takut dan menikmati gelora yang selama ini kupendam. Ladangmu sudah siap, Zaid, maka datangi dan garaplah sebaik-baiknya. Petiklah dengan lembut, jangan kau renggut. Semailah benih-benih yang baik di ladang yang telah kau halalkan dengan akad.
Mataku masih terpejam, menikmati aroma mawar dan sentuhan-sentuhan lembut Zaid di bagian tubuh tertentu. Tibalah saatnya Zaid memetik apa yang menjadi haknya, aku pun telah ikhlas memberikan yang memang telah menjadi miliknya. Dalam desiran darah nan menggelora kutunggu saat-saat indah Zaid untuk menabur benih di ladangku.