
Sepertinya semesta memihak pada Rendi dan Silla, setelah drama saling diam ketika sarapan mereka lalu segera menuju ke tempat boarding karena pesawat yang akan mereka naiki akan segera lepas landas, awalnya Rendi maupun Silla sedih karena mereka akan duduk secara terpisah namun ternyata mereka malah duduk berdampingan di business class. Rendi maupun Silla tidak tahu perihal tiket pesawat karena mereka berdua di pesankan oleh asistennya masing-masing dan hanya di beritahu mengenai jadwal keberangkatan saja.
"Apa mungkin ini kerjaan asistenku dia kerjasama dengan asistennya Silla? atau semuanya hanya kebetulan ?"batin Rendi yang awalnya tidak percaya dengan kenyataan satu penerbangan dengan Silla apalagi tempat duduk mereka berdekatan.
Walaupun senang namun mereka terutama Rendi tidak bisa mengekspresikan rasa senangnya itu, ia masih dalam mode diam sama hal nya dengan Silla yang ikut masuk ke dalam mode diam karena percuma berbicara jika lawan bicaranya saja sudah memasang tembok tinggi.
" Aku salah apa sih sebenernya?"batin Silla bertanya-tanya. Mungkin mulutnya diam tapi tidak dengan pikirnnya yang dari tadi terus memikirkan penyebab Rendi menjad dingin dan ketus.
__ADS_1
Selama di pesawat Rendi hanya fokus dengan laptopnya dan sesekali melirik ke arah Silla yang duduk di samping kanannya. Silla malah memilih memanfaatkan waktu dengan tertidur, mungkin nanti ketika sampai ia bisa segar kembali.
"Bisa-bisanya dia bisa tidur di samping aku dengan begitu tenang tapi sungguh dia sangat cantik apalagi sedang tertidur seperti ini"batin Rendi yang tanpa sadar kini malah terus memperhatikan Silla.
Rendi lalu membenarkan posisi tidur Silla hingga kepala Silla ia sandarkan pada bahu Rendi, dan membiarkannya nyaman tidur sementara Rendi memilih kembali fokus pada laptopnya.
"Baguslah, dia orang baik dan aku percaya padanya"gumam Arvan tersenyum.
__ADS_1
Ternyata foto yang dikirimkan mata-mata Arvan adalah foto Rendi yang tengah membenarkan posisi tidur Silla, memang semenjak kejadian beberapa hari yang lalu yang menimpa kakaknya, Arvan jadi lebih waspada ia menyuruh anak buah Daddy Andra yang kini ia ambil alih untuk menjaga Kakak dan adik perempuanya.
Arvan tetap seorang Arvan yang dikenal sebagai adik yang sangat sayang pada Kakak dan semua keluarganya dan juga ia tetap menjadi seorang yang penurut namun di mata Andra, Arvan ada sedikit yang berbeda karena kini Arvan menjadi tangan Andra untuk mengurus anak buahnya yang lumayan banyak yang di khususkan untuk menjaga keluarga Bratajaya.
Sementara mengenai Riko, Arvan sudah melancarkan balas dendam ats perbuatan busuk Riko pada kakaknya, dengan membuat perusahaan nya menjadi hancur dan semua perbuatann Riko terekspos pada para investor supaya tidak ada lagi yang mempercayainya dan terbukti dalam semalam harga saham di perusahaan Riko anjlok dan mengakibatkan kerugian yang cukup besar.
Arvan sengaja membalas perbuatan Riko dengan cara itu karena menurutnya balas dendam terbaik adalah menghancurkannya dengan membongkar kebusukannya sendiri tanpa harus repot-repot turun tangan.
__ADS_1
Dan berkat itu kini Riko harus menerima hukuman di penjara karena ternyata Riko juga banyak menipu investor lain dan menggelapkan dana perusahaan hanya demi kepuasannya sendiri dengan menghambur-hamburkan uang di club, pergi liburan dengan mentraktir teman-temannya dan yang lainnya.