
"pak lepaskan!" adel menolak pergi masih merindukan ayahnya
tapi disti juga meminta agar adel pergi dulu sampai ibunya tenang
dengan berat hati adel ikut bersama niko
"bisa antarkan saya kealamat ini pak?" adel ragu tapi hidupnya tetap berjalan
janiinya untuk membatalkan perceraiannya agar anak yang tak berdosa itu mendapatkan orang tua utuh
"ini bukan alamat kosan mu kan?" niko curiga
"bukan pak, jika tak bisa saya turun sini saja pak maaf merepotkan!" adel tak mau lagi berurusan dengan lelaki manapun
terlebih kini adel masih menjadi istri orang. yang mungkin sebentar lagi akan diminta untuk tinggal dirumah rafa
"apakah ini rumah suamimu?" niko memberanikan diri bertanya
adel mengangguk tak menjawab apapun
niko tak tega meninggalkan adel sendiri masuk kedalam kandang macan. dimana orang didalamnya tak punya hati
entah mengapa rasannya niko ingin adel tetap bersamanya. ada rasa takut kehilangan bahkan adel bukan siapa siapa
"baiklah saya antar, maaf karena saya kamu harus jalani semua ini" niko merasa bersalah
"bukan salah bapak, memang sudah takdir saya mungkin harus seperti ini!" adel tak mau menangis lagi
"jika ada yang bisa saya lakukan pasti akan saya bantu untukmu" ucao niko tulus
__ADS_1
"terima kasih pak, cukup jangan pecat saya pak" adel bercanda meski hatinya berdarah darah
"tidak akan! kecuali...." niko menghentikan ucapaannya
"kecuali apa pak? ngomong setengah setengah seret pak kayak makan ngga dikasih air" canda adel lagi
niko sampai heran terbuat dari apa hati adel ini. begitu baik dan mudah saja memaafkan orang yang menyakitinya
"kecuali....iya kecuali kamu mau jadi pemiliknya!" ucap niko gugup
"hahahaha! becanda om om lucu juga. eh maaf saya ngga bisa menahan tawa!" adel tertawa lepas menghempaskan masalahnya.
"hehehe iya!" niko malah semakin canggung
padahal ucapannya keluar begitu saja tulus dari hatinya
"terima kasih pak sudah diantar, sampai bertemu lagi dikantor" lambaian tangan adel membuyarkan lamunan niko
patah hatikah? atau hanya terbiasa saja!
hati niko mulai gundah. niko mengendarai mobilnya kembali kerumahnya yang pasti akan banyak pertanyaan
sementara adel mengetuk pintu rumah yang bahkan tak ingin lagi ia kunjungi. pertama dan terakhir kalinya adel melihat hal yng membuatnya hancur
tapi kali ini hati adel memang telah hancur jadi tak akan ada hal yang membuatnya sedih lagi
"adel!" bu gina membukakan pintu
"ada apa nak, ayo masuk!" lanjut bu gina
__ADS_1
"apa kabar mq? kak rafa dimana!" adel berterus terang
"mama baik. lebih baik lagi saat melihatmu! rafa ada diatas sebentar mama panggilkan" bu gina bersemangat
tanpa memikirkan perasaan adel bu gina memninta agar adel tetap menjadi menantunya untuk rafa dapat menikahi kekasihnya
"tidak usah ma, biarkan saja mungkin sedang istirahat" adel memikirkan kandungan keli jadi tak mau menggangu
"kapan kamu pindah kesini lagi del?"
tanya bu gina
"itu yang ingin adel smpaikan ma, bolehkan adel disini saat sabtu minggu saja. adel harus kerja dihari lainnya" ucap adel tak siap harus setiap hari.melihat suaminya bersama wanita lain
"ada supir bisa antar kamu kerja kan!" bu gina tak mau kalah
"iya atau tidak sama sekali!" kini adel yang menekan
"baiklah. kalau begitu pulang kerja akhir pekan mama suruh supir jemput ya" bu gina setuju dengan permintaan adel
"besok adel kerja ma, adel pamit dulu ya. akhir pekan adel kembali lagi kesini" pamit adel
"tungu rafa dulu nak, mama juga masih kangen" bu gina memeluk adel
"hari ini adel lelah ma, nanti adel kabari saat mau kesini lagi" adel beralasan
"ingat ya del, kamu sudah punya suami jadi jangan dekat dengan pria mana pun!" pinta bu gina
adel mengangguk mengerti dan meninggalkan rumah mewah yang membuatnya sesak
__ADS_1