
"sayang sudha pulang, gimana mas?" adel harap harap cemas dengan putusan pengadilan
"kita duduk dulu ya, bude bisa tolong ambilkan air dingin?" ucap niko smabil menarik adel menuju sofa dan mengajkanya duduk
"kita......kita tidak jadi pindah! kita menang dan kita tak akan kehilangan apapun yang memang jadi hak kita" ucap niko penuh keyakinan dengan memegang kedua tangan istrinya
"benarkah mas? syukurlah kalau begitu aku lega dan kita akan tetap bersama bukan?" adel juga mendengar jika wanita yang membuat masalah itu adalah masalalu suaminya
dan juga saat ini menawarkan diri untuk meminta niko bersamanya agar perusahaan akan tetap menjadi milik niko
"tentu saja sayang! kamu rela jika aku bersama dengan nenek itu" ucap niko
"tentu saja tidak!! lebih baik aku hidup sederhana tapi kita tetap bersama" jawab adel yakin
"tapi tak akan kubiarkan, dengan cara apapun akan mas lakukan untuk membuat hidup keluarga mas dapat yang terbaik dalam hidup. jangan khawatir lagi ya. semuanya telah berakhir" niko mengusap kepal istrinya dan mengecup keningnya
"ini minumnya pak" bude sari mengantarkan permintaan niko
"terima kasih bude, letakkan saja disana" ucap adel
niko merangkul pundak istrinya merasakan lega yang yang membuatnya bisa bernafas ringan dan tidur dengan nyenyak mulai hari ini
"mas mau makan?" tanya adel yang terlihat suaminya belum sempat memasukan makanan appaun dalam perutnya sejak pagi
"kita makan bersama ya, mama,papa, niken dan ferdi akan segera tiba dan sudah mas minta membeli makanan diluar" ucap niko
"iya mas, kita kekamar dulu yuk mas ganti baju biar ngga gerah" ajak adel
"iya sayang kamu benar" niko mengikuti adel naik kelantai atas menuju kamarnya
"zain dimana sayang" tanya niko saat ini duduk diranjang menunggu istrinya menyiapkan air hangat untuknya mandi dan baju untuk ganti
"sama disti dan susnya jalan jalan sekitar komplek" ucap adel
"lain kali harus ada yang jaga ya sayang, sebaiknya suruh pulang saja karena kita tetap harus berhati hati saat ini" pinta niko sebelum masuk kedalam kamar mandi
"iya mas" adel mengambil ponselnya dan menghubungi disti agar segera pulang dan membawakan beberapa cemilan karena akan ada banyak orang
__ADS_1
"sayang, aku lupa handuknya" teriak niko dari dalam kamar mandi
"iya sebentar" adel bergegas datang membawakan handuk
"mas, aauuuuu aku sudah mandi" adel ditarik niko kedalam bathub
"mandi sama mas belum, sudah lama sekali sayang sekarang sudah boleh kan?" tanya niko yang tak biasa
matanya mengedip sebelah menggoda adel yang terlihat malu, sebenarnya sejak sebulan yang lalu keduanya melupakan hal yang menyatukan keduanya
setelah kelahiran anak pertamanya niko belum lagi menyentuh istrinya, yang memang belum diperbolehkan dan tentu saja karena banyak masalah yang dihadapi keduanya tak fokus dengan hal lain
"tentu saja boleh" jawab adel tanpa ragu
niko tak menunggu lama hasrat yang lama ia pendam kini dapat tersalurkan keduanya menikmati waktu berdua tanpa ada yang berani mengganggu
"terima kasih sayang" ucap niko keduanya melajutkan mandi dan mengakhiri kegiatan panas dikamar mandi
adel mengangguk dan membilas tubuhnya dishower, menyahut handuk lalu segera leluar
takut suaminya berubah pikiran setelah melepaskannya
"bu, pak tuan dan nyonya datang" ucap bude sari mengetuk pintu dan menyampaikan pesan mertua adel
"iya bude" jawab adel
adel tersenyum penuh kemenangan melihat suaminya prustasi "hahahah lanjutkan nanti malam" bisik adel sebelum meninggalkan suaminya yang masih melilit handuk ditubuhnya
"ahhh, kenapa mereka cepat sekali" ucap niko kesal ia bergegas mengenakan pakaian dan menyusul sang istri menemui orang tuanya
"niko mana nak?" tanya mama jihan yang memeluk menantunya mendengar berita baik dari niken
"lihat saja rambut mba adel ma!" ucap niken membuat semua orang serentak melihat adel
"hahahaha, iya tadi papanya zain lagi ada telfon diatas, segera menyusul" adel sangat malu seperti kepergok
"awas kamu ya!!" bisik adel pada niken dan menyubit pinggang niken
__ADS_1
"auuu!" niken berteriak
"ada apa?" tanya mama jihan
"itu zain datang ma, pa" jawab niken mendapat tatapan tajam dari adel
niken meringis kesakitan dan meledek kakk iparnya itu
"cucu opa darimana?" pak surya mengambil alih zain dari gendongan disti
"jalan jalan opa" jawab disti mewakili zain
"wahh, nanti kalau sudah gede jalan jalannya sama oma opa aja ya zain, sebentar lagi kan onty kalian punya pasangan masing masing, kita dilupakan" jawab mama jihan becanda
"mama, mana ada seperti itu" jawab adel
"kalau begitu buatkan lagi teman zain, biar sekian repotnya. iya kan niko!" ucap mama jihan lagi
"tenang saja ma, nanti akan ngalahin keluarga petir anak niko dan adel" jawab niko bercanda dan mendapatkan pukulan dilengannya oleh istrinya
"becanda sayang" niko memeluk pinggang adel dan mengajak sekluarganya makan malam bersama sekalian membahas masalah pernikahan niken dan ferdi yang harusnya dilangsungkan minggu ini namun harus diundur
"jadi kapan kalian akan menikah?" tanya niko serius pada ferdi dan niken
"mungkin bulan depan kak" jawab niken
"kelamaan, minggu depan saja kalian atur urusan baju saja sisanya serahkan pada kakak." ucap niko
"dengan senang hati!" jawab ferdi cepat
"ada yang sudah ngga sabar banget kayaknya ya" ejek adel pada ferdi
"tentu saja, kita juga mau mengejar ketertinggalan skor iya kan sayang" ucap niken membuat semuanya tertawa
disti juga ikut merasakan kebahagian meski hatinya yang sedang galau, apa yang harus dia lakukan apakah harus bercerita pada kakaknya atau hanya akan ia pendam sendiri
"zain, kamu akan segera punya adik oke" ucpa niken lagi sambil mengusap zain
__ADS_1
"sudah. sudah ayo kita makan dulu" ucap pak surya
zain diberikan pada susnya dan bergantian makan nanti