Janda Perawan

Janda Perawan
Eps. 116


__ADS_3

hari ini tiba acara dirumah mertuanya adel bersiap dan menyiapkan setelan yang senada dengan baju yang dikenakannya


"mas ini bajunya, jangan terlalu tampan nanti pak ferdi kalah saing" ucap adel pada niko saat membantu mengenakan bajunya


"apapun keadaanya ngga akan ada yang bisa mengalahkan ketampanan suamimu ini" ucap niko dengan percaya dirinya


"iya tentu saja, ayo jangan lama lam kita harusanya menginap dan bantu mama, bukan malah datang kesiangan" adel menggerutu


"udah cantik jangan marah marah, nanti tambah cantik mas bingung menutupinya agar tak dipandang pria lain" sahut niko yang selalu bisa membuat istrinya tersenyum


"bude kami ada acara kerumah mama, kalau bude mau keluar jalan jalan boleh minta antar supir tapi pstikan semua rumah terkunci aman ya!" pesan adel pada pembantunya


"iya bu, nanti akan saya kabari ibu jika saya mau keluar rumah" jawab bude sari


"kami pergi dulu!" pamit niko singkat pada bude sari


keduanya mengendari mobil menuju rumah orang tua niko yang tak terlalu jauh dari rumah kedunya hanya berjarak sekitar tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan


"ramai sekali mas, aku malu" ucap adel saat turun dari mobil


"sejak kapan adelia jadi malu malu, ayo pegang tangan mas" niko mengulurkan tangan dan adel menyambutnya


"haiii, anak mama sudah datang, ayo duduk! sudah makan belum mama siapkan dulu ya" ucap mama jihan yang memperlakukan adel dengan sangat baik


ia yang tek pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung tapi juga sangat peduli saat melihat orang yang sedang hamil, terutama itu adalah cucunya meski bukan cucu kandungnya


"ma, lupa aku juga anak mama!"  protes niko yang tak dihiraukan


"ya ampun niko kamu kan bisa ambil sendiri, jangan manja! ayo mama antar kekamar niken jagain dia jangan keluar sebelum dipanggil oke" mama jihan mengantarkan adel kekamar niken yang sedang dirias


sementara niko berpamitan pada adel ingin menghampiri papanya yang juga sibuk menngatur beberapa dekorasai untuk acara pertunangan keponakan bungsunya yang sudah seperti anak kandungnya sendiri


"pa, sini niko bantu" ucap niko meminta agar papanya duduk saja dan memberikan perintah


"maaf niko, dulu papa tak membuatkan pesta yang seperti ini untukmu dan adel," ucap papa surya

__ADS_1


"pa, niko ngga pernah mikirin itu. asal mama dan papa sudah merestui kami itu sudah sangat cukup bagi adel dan niko pa" ucap niko menghentikan pekerjaanya dan menghampiri pak surya


"papa sedih, jika memikirkan sikap papa dulu" pak surya mengatakanyya dengan ketulusan yang terlihat dari matanya


"sudah lah pa, kita harus bahagia sekarang niken juga sudah menemukan jodohnya" ucap niko menenangkan


"niken bukan menemukan jodohnya, tapi mamamu yang memaksakan jodohnya sejak kecil! tapi papa juga menyetujuinya dengan keinginan istrinya


terlebih niken juga tak pernah menolak dan juga ferdi adalah orang yang tepat menggantikan sosok seorang ayah dan kakak pada niken


"tuan tamu sudah datang" ucap pembantu pak surya


"iya bik"


niko dan pak surya dengan gagah menyambut tamu yang ditunggunya datang


"silahkan masuk, mari silahkan duduk!" pak surya menyambut calon menantunya yang datang bersama orang tua dan adik semata wayangnya


"terima kasih pa, niko" ucap ferdi memeluk niko dan pak surya bergantian


"sudah lama saya melepaskan status itu, hanya saja sayangnya kamu baru tahu" balas ferdi


acara dimulai pembawa acara sudah membacakan susunan acaranya yang akan dilaksanakan dalam rangkaian pertunangan ferdi dan niken


didalam kamar


"mba kok ramai banget, sebenarnya acara apa sih ini kok aku ngga boleh ikut bantuin. ulang tahunku masih....." niken menghentikan ucapannya dia mengingat jika hari ini adalah ulang tahunnya


"mba, pasti pesta ulang tahun untukku ya! tapi kenapa harus make up seformal ini sih mba" celoteh niken membuat adel berisik


"sudah tunggu saja, jangan terlalu berekspektasi jangan jangan kamu mau dijodohkan dengan om om tua yang sudah...." ucapa adel sengaja menggantung agar niken penasaran


memang benar adanya jika yang akan melamar niken adalah om om yang seusia kakanya dan memiliki perbedaan hampir sepuluh tahun dengan niken


"mba, serem ih jangan bikin tahut dong" bayangan niken adalah om om perut buncit yang usianya sudah sangat matang

__ADS_1


"makannya diem dan duduk yang anggun, tunggu saja sampai dipanggil"  ucap adel


tak lama panggilan nama untuk niken terdengar sangat jelas, tak sabar niken berjalan hingga lupa tadi bersama adel yang jalannya tak bisa cepat



senyum merekah dari niken saat tiba dilantai bawah, ia melihat orang sangat banyak dan berpakaian rapi



pria yang cukup tampan mengawasi setiap gerak niken dari tangga hingga sampai dilantai dasar, menyambutnya dengan sedikit gugup


"ini ada apa?" tanya niken setelah meilhat ada keluarga dari ferdi juga yang datang


namun ada yang membuatnya tak nyaman, rio adik dari ferdi membawa serta tunangannya yang bernama dias dan menjadi musuh bebeuyutan niken sejak dulu


"ayo sayang" mama jihan mengantarkan niken kedepan ferdi yang memegang sebuah kotak berisi dua cincin couple


"maukah kamu menikah denganku niken?" ucap ferdi tak sabar


niken langsung mengangguk dan menjulurkan tangganya agar dimasukan cincin dijarinya


"kalem dek!" goda niko yang juga sangat senang


semua orang yang hadir tersenyum dan bertepuk tangan terkecuali dias yang terlihat tak senang akan menjadi keluarga niken


cincin telah melingkar dijari masing masing dan usai sudah acara puncaknya, kini tinggal acara makan dan bersantai


"maaf terlambat!" ucap disti membawa kado besar untuk niken yang tak tahu apa isinya


"tidak ada kata terlambat untuk keluarga" ucap niken sambil melirik dias yang melihat sinis


semua memberi ucapan selamat dan menikmati santapan yang telah disediakan oleh tuan rumah


"aduh mas, mas perutku sakit" ucap adel memegangi perutnya yang teraasa sangat mulas

__ADS_1


__ADS_2