
Meeting siang ini berjalan cukup lambat karena si Klien sepertinya sengaja membuat meeting menjadi lama karena satu alasannya ingin menatap Silla lebih lama.
Silla sudah sangat risih ternyata klien nya yang datang bukan pemilik perusahaan melainkan wakilnya,seorang pria yang umurnya di atas Silla.
"Apakah malam ini nona Silla ada waktu?"tanyan si klien yang bermama Riko.
"Maaf sekali Pak, kebetulan malam ini ada acara makan malam keluarga"ucap Silla menolak halus ajakan di klien tanpa membuatnya sakit hati.
"Sayang sekali, sepertinya waktunya tidak tepat okelah kalo begitu next time saja ya Nona"ucapnya sambil tersenyum pada Silla.
"Saya tidak janji Pak Riko"ucap Silla lalu sebelah tangannya sedikit menyenggol sekretarisnya.
"Maaf Bu, kita hampir terlmabat ke pertemuan selanjutnya"ucap si Sekretaris yang langsung peka.
"Baiklah kalo begitu kami pamit dulu ya Pak"ucap Silla ramah lalu pamit pergi meninggalkan Riko yang masih menatapnya.
"Kau suka padanya Rik?"tanya asistennya.
"Siapa yang tidak suka padanya, selain cantik, pintar dia juga kaya raya dan kalo nanti dia menikah dengan perusahaannya pasti akan jatuh padaku dan aku semakin kaya"ucapnya menyeringai.
"Kau benar Rik, terus lah kejar dia dan buat dia bertekuk lutut pada mu"
__ADS_1
"Diamlah, aku tahu apa yang harus aku lakukan"ucap Riko serius.
Sementara Silla sedikit gemetar, bercampur marah dan kesal karna baru kali ini ia bertemu klien seperti Riko tadi.
"Untuk meeting selanjutnya kau suruh Pak Hartono saja yang wakilkan aku malas jika harus bertemu dengan dia lagi"ucap Silla dengan emosinya.
"Baik"
Mood Silla langsung anjlok, ia jadi tidak mood bekerja karena masih kepikiran dengan si Riko tadi.
Silla memutuskan untuk pergi ke sebuah rooftop Cafe yang tidak jauh dari kantornya untuk menenangkan diri, menikmati secangkir coklat hangat dan di temani pemandangan perkotaan.
Padahal lokasinya lumayan dekat dengan kantor namun Silla baru tahu jika ada cafe seperti ini, itupun di beritahu sekretaris Silla.
Saking terbawa suasana menikmati pemandangan perkotaan, Silla tidak menyadari jika sedari tadi ada yang memeperhatikan dirinya.
"Aku boleh duduk disini?"ucapnya yang sontak membuat Silla menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Rendi?"ucap Silla terkejut.
"Jadi gimana boleh duduk disini? aku pegal jika harus berdiri terus"ucap Rendi bercanda.
__ADS_1
"Emm iya Boleh"jawab Silla kini ia benar-benar sangat gugup entah kenapa Silla pun tidak tahu.
Rendi lalu duduk di kursi kini posisi mereka saling berhadapan dan menbuat keduanya merasa canggung.
"Ada yang kurang sebentar"ucap Rendi lalu bangkit dan pergi entah memesan apa.
Silla tidak memperhatikan ia malah kembali menikmati pemandangan supaya debaran di jantungnya sedikit berkurang karena kedatangan Rendi.
"Harusnya Coklat hangat sangat cocok dengan roti ini"ucap Rendi sambil membawa beberapa lembar roti tawar.
Silla yang tidak paham hanya menatap bingung ke arah Rendi.
"Jadi gini ini coklat hangatnya terus rotinya kamu ambil di celupin ke coklatnya di makan deh di jamin enak"ucap Rendi sambil mempraktikan.
"Ayo coba"
Silla yang awalnya ragu namun tetap mencoba sesuai arahan rendi dan begitu roti itu masuk ke mulutnya Silla langsung mengangguk setuju jika memang enak.
"Aku baru tahu jika Roti bisa di makan seperti ini"ucap Silla tersenyum.
Rendi malah fokus pada senyum Silla yang menurutnya sangat cantik dan baru pertama kali melihat Silla yang tersenyum senang seperti tadi.
__ADS_1