
Tangisku tumpah saat bersimpuh di hadapan Ibu dan Abak, perlahan kuraih tangannya untuk kucium. Kesedihan ini semakin mendalam teringat semua kesalahan dan kenangan yang selama ini kulewati bersama mereka. Tubuhku bergetar, sedangkan air mata tetap mengalir, tangan yang kucium ini terasa kasar dan semakin keriput. Tangan tua ini selalu membelai dan membimbingku, dan sebentar lagi tangan ini pula yang akan menyerahkanku untuk dibelai dan dibimbing orang lain.
Ibu dan Abak memelukku bergantian, rasa haru semakin menyelimuti jiwa ketika Ibu berbisik, “Nak, Ibu rida kepadamu dan calon suamimu. Jadilah pelayan baginya, dengan begitu engkau akan mendapatkan hal yang sama darinya. Jadilah pakaian bagi suamimu, sebaik-baiknya perhiasan adalah istri salihah. Jangan pernah membuat suamimu marah, karena kemarahan suami adalah laknat Allah. Hari ini dan seterusnya surgamu telah pindah ke telapak suamimu.”
Wanita mulia ini lirih dalam tangis yang tertahan. Tubuhku terguncang-guncang di pelukan-nya, semua mata yang melihat ikut merasakan keharuan tersebut, bahkan ada yang ikut menangis bersamaku dan Ibu.
Pelukan Abak tak kalah hangatnya dari Ibu, beberapa kali kuseka air matanya dengan ujung jilbab. Abak yang selama ini tegar dan belum pernah sekali pun aku melihat Abak menangis seperti ini. Suara Abak tercekat di tenggorokan namun tetap dipaksa untuk berucap.
“Sah, Abak rida kepadamu dan calon suamimu. Jadilah makmum yang patuh kepada imamnya. Hari ini Abak pindahkan tanggung jawab Abak kepada suamimu. Taati perintahnya, jaga martabat dan harga dirinya, jangan sesekali kau buat dia kecewa. Karena sekarang dan seterusnya dialah yang bertanggung jawab atas dirimu dunia dan akhirat.” Abak menyeka air matanya kemudian menyeka air mataku dengan jemarinya.
Perlahan Abak mengecup keningku sangat lama, kedua tangannya memegang pipi sedangkan matanya tertuju ke bola mataku. Saat itu kembali air mata menetes, Abak menggelengkan kepala sebagai tanda agar aku harus menghentikan tangisku.
__ADS_1
Bi Anja membantuku berdiri dan merapikan bedak yang luntur karena tumpahan air mata. Wajah Bi Anja pun digelayuti mendung, matanya memerah, mungkin tadi Bi Anja pun ikut menangis. Sama seperti Ibu dan Abak, Bi Anja pasti sangat sedih melepasku. Selama ini kedekatan kami bukan hanya karena dia istri Paman Hasan, tetapi dia juga sahabat terbaikku. Dengan rentang usia yang tidak begitu jauh terpaut. Sebelum Bi Anja menikah dengan Paman Hasan kami satu kelompok dalam kepengurusan remaja masjid.
Sesaat sebelum sampai ke tempat lelaki itu duduk, aku terpaku, darahku semakin deras mengalir yang membuat jantung berdegup kencang. Lelaki itu ... lelaki yang selama ini selalu datang ke rumah singgah yang kukelola. Dia sering membawakan anak-anak hadiah seperti buku dan tas. Tapi kenapa wajahnya beda dengan di foto? Seketika ingin kubandingkan foto itu dengan yang asli, tetapi itu tak mungkin karena aku sudah berada di tengah-tengah tamu.
Belum pernah terlintas bayangan lelaki ini di otakku, padahal setiap malam fotonya selalu kupandangi. Mungkin karena selama ini kami tidak berinteraksi secara langsung, jadi aku tidak menyadari kalau dia yang ada di foto tersebut. Setiap kali dia selesai menyerahkan bantuan, aku baru datang. Kami tidak pernah bertegur sapa, jika berpapasan kepala saling menunduk. Pernah sekali wajahnya kulihat itu pun dari jauh ketika dia berpamitan kepada Hamid, temanku di rumah singgah.
“Hei, calon pengantin tidak boleh melamun.” Bi Anja menggelitik pinggangku dan menyuruh duduk di samping lelaki itu.
Bukan hal mudah dalam mengucapkan ijab qabul, karena waktu yang sakral itu memerlukan keberanian dan kesungguhan. Penghulu memberi contoh apa yang akan diucapkan Abak dan juga Zaid, kemudian penghulu memimpin istighfar dilanjutkan membaca Alfatihah.
“Bismillahirrahmanirahim.” Tangan Abak menjabat erat tangan Zaid, Abak terlihat tenang. “Saya nikahkan dan kawinkan anak kandung saya Hafsah Ankum dengan engkau Zaid Ahmad binti Rahmadi dengan mahar seperangkat alat salat dan cincin emas dua gram tunai,” kalimat itu mengalir dari bibir Abak yang bergetar.
__ADS_1
“Saya terima nikah dan kawinnya anak kandung Abak Hafsah Ankum dengan mahar seperangkat alat salat dan cincin emas dua gram tunai.”
Gemuruh suara mengatakan sah.
Alhamdulillahirabbil alamin.
Kuraih tangan Zaid yang diulurkan, kucium dengan hikmat. Ada getaran aneh menjalar merasuki ruang kalbu, inikah cinta? Zaid menatapku penuh arti, jari manisku dia pasangkan cincin kemudian aku melakukan hal yang sama. Ingin berlama-lama menatap wajah lelaki yang telah memilihku menjadi haknya namun rasa malu dan gugup menepis semua keinginan.
“Selamat datang ke dalam kehidupanku, wahai wanita yang selalu menjaga pandangannya. Terima kasih mau menjadi perhiasan bagiku, wahai wanita salihah.” Zaid menggenggam jemariku erat.
Wajahku bersemu merah, rayuan maut Zaid melambungkan jiwaku ke nirwana. Maka nikmat Tuhanku yang mana bisa kudustakan. Seorang lelaki tampan dengan kesalehan dan kelembutan, dikirim khusus menjadi pelindungku hari ini dan seterusnya. Di antara kebahagian yang mulai merona di hati ada kegamangan yang ikut menemani.
__ADS_1
Aku takut tidak mampu menjadi istri yang tidak meninggalkan tempat tidurnya, menerima dengan baik pemberian suami, menaatinya, dan tidak akan keluar rumah tanpa izinnya. Serta tidak memasukkan orang yang dibenci suamiku ke dalam rumah. Semoga Allah mendengar doaku yang terucap lirih bersama tetesan air mata bahagia.