Janda Perawan

Janda Perawan
Season 2


__ADS_3

Setelah dirasa cukup, Silla mengajak Rendi untuk mengantarkannya kembali ke kantor.


"Kamu yakin mau ke kantor? kenapa ga langsung pulang aja?"tanya Rendi mereka bersiap untuk pulang.


"Iya ke kantor aja, aku lupa di kantor ada adikku dia pasti udah denger tentang kejadian tadi"ucap Silla menujukan ponselnya pada Rendi yang terdapat puluhan panggilan dari nomor Arvan dan juga pesan masuk.


"Dia pasti khawatir banget, maaf ya karena aku udah bawa kamu kesini jadi.."ucap Rendi


"Gapapa kok justru aku yang makasih berkat kamu hari ini aku selamat dan berkat kamu juga ajak aku kesini pikiran aku setidaknya bisa lebih tenang"ucap Silla tersenyum.


Rendi begitu luluh ketika Silla tersenyum ia jadi benar-benar yakin membawa Silla ke tempat ini membuatnya lebih tenang dan sepertinya ia kembali menjadi dirinya sendiri tidak seperri Silla satu jam yang lalu yang menangis, melamun dan bahkan ketakutan.


Sekitar setengah jam akhirnya mereka sampai juga di parkiran kantor Silla.


"Terimakasih banyak ya"ucap Sila.


"Iya Sama-sama"


Silla lalu turun dan Rendi langsung kembali lagi ke kantornya setelah memastikan jika Silla sudah masuk ke kantornya dengan aman dan selamat.

__ADS_1


"Kakak darimana aja sih?"tanya Arvan begitu Silla datang ke ruangannya.


"Kakak gapapa kan? tadi kata asisten..."


"Udah Van Kakak ga mau ingat lagi Kakak udah tenang dan udah ngelupain kejadian tadi"potong Silla cepat ia tidak mau mengingat hal menyakitkan lagi.


Arvan mengangguk paham ia lalu meraih tubuh Kakaknya untuk di peluk, dari tadi ja tidak bisa tenang mengkhawatirkan Kakaknya.


"Syukurlah Kak, Arvan sangat takut terjadi sesuatu pada Kakak"ucap Arvan pelan namun masih bisa di dengar Silla.


"Iya tenanglah semuanya sudah berlalu maafin Kakak ya tadi hp kakak ketinggalan di mobil Rendi"ucap Silla tanpa sadar ia menyebutkan nama Rendi.


"Rendi? orang yang nolongin Kakak?"tanya Arvan penasaran padahal tadi asisten Kakaknya sudah bilang namun ia ingin mendengar langsung dari mulur Silla.


"Kenapa orangnya tidak di ajak kesini Kak? Arvan jadi penasaran"


"Lain kali Kakak ajak kamu ketemu dia"


Arvan mengangguk setuju namun pembahasan mereka kini beralih pada orang yang telah membuat kekacauan ini.

__ADS_1


"Tenanglah Kak, biar Arvan yang urus dan semua kerjasama kita dengannya alihkan saja pada Arvan Kakak lebih baik fokus yang lain"ucap Arvan tenang walaupun di hatinya menahan gejolak kemarahan yang membara setelah mendengar langsung tentang kejadian tadi dari Silla, karena Arvan memaksa dan sedikit mengancam jika Kakaknya tidak menceritakan langsung.


"Iya Kakak percaya sama kamu tapi ingat jangan sampai Daddy dan Om Daniel tahu"ucap Silla memperingati.


"Iya Kak tenang aja"ucap Arvan yakin.


"Tidak di beritahu pun mungkin Daddy akan tahu sendiri mungkin malah sekarang juga udah tahu"batin Arvan karena semenjak menangani kasus tentang di Australian bersama Om Daniel ia jadi sedikit tahu rahasia tentang Daddy nya.


Ucapan Arvan memang benar, Andra mengeram kesal begitu anak buahnya memberitahu hal yang tidak mengenakan terjadi pada putri sulungnya.


"Awas saja kamu berani sekali mengusik anakku"gumam Andra karena ia tengah di ruang kerja.


Andra sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu secara lebih lengkap dan jelas tentang bajingan yang hampir menodai Silla.


\=\=\=


Wadau bisa di bayangkan Semurka apa Andra?


Serem Ya BunπŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


Semangat puasanya jangan lupa vote dan hadianya juga makasih.


Eh ketinggalan komen nya juga yaa aku slalu bacain kok cuma lupa bales aja ups heheheπŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™


__ADS_2