
Di kehamilan Belva yang kedua ini banyak sekali perbedaan, tidak seperti ketika hamil Arvan biasanya Belva makan apa saja namun kali ini Belva memilih-milih makanan tergantung moodnya biasanya dan satu hal yang paling berbeda yang sering ngidam adalah Andra bukan Belva.
Seperti sekarang ketika jam menunjukan angka 2 dini hari Andra membangunkan Belva dan merengek ingin makan sesuatu dan harus Belva yang masak alhasil Belva mengabulkannya walaupun ngantuk Belva dan Andra tetap pergi ke dapur.
Hawa dingin dan suasana yang cukup seram karena rumah sangat sepi tidak menyurutkan keingan Andra ia justru malah semakin semangat.
"Sayang aku bingung mau masak apa"ucap Belva ketika melihat isi kulkas penuh dengan bahan-bahan makanan.
"Apa aja yang kamu masak, aku pasti makan kok"ucap Andra manja ia kini duduk di kursi memperhatikan Belva yang kebingungan.
"Yaudah aku bikin omelet sayur mau?"ucap Belva.
"Boleh Sayang apapun itu, cepetan ya aku udah laper banget"
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit akhirnya Omelet sayur buatan Belva selesai dibuat.
"Ayo di makan sayang"ucap Belva
Andra mencoba satu suap dan ternyata rasanya sangat enak ia makan dengan sangat lahap.
"Pelan-pelan sayang ini minum dulu"ucap Belva memberikan segelas air putih.
"Enak banget Sayang langsung aku habisin makasih ya Sayang"ucap Andra senang.
Setelah kegiatan mereka di dapur, Andra dan Belva kembali ke kamar namun tidak langsunh tidur melainkan melakukan olahraga malam, di kehamilan yang kedua membuat Belva tidak bisa menahan hasratnya mungkin karena hormon dan tentu saja dengan senang hati Andra akan melakukannya.
\=\=\=\=
__ADS_1
Kini Usia kandungan Belva menginjak 9 bulan ia hanya tinggal menunggu waktu saja karena perkiraan dokter sekitar 1 atau 2 minggu lagi.
"Sayang boleh ga kalo aku ke makam nya Papa sama Delvi?"tanya Belva yang sedang duduk di depan cermin sedangkan Andra sedang membantu Belva mengeringkan rambutnya.
"Boleh dong sayang, mau hari ini?"ucap Andra tersenyum menatap Belva dari pantulan cermin.
"Hari ini aja Sayang, aku udah kangen banget apalagi sama Papa"ucap Belva dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Walaupun dikelilingin banyak orang-orang yang sayang padanya namun tetap, jika tidak ada orangtua rasanya sangat hampa, awalnya Belva sangat sedih dan slalu mengurung diri ketika Papa Surya meninggal namun perlahan-lahan ia mulai mengikhlaskan kepergian Papa Surya, karena teringat perkataan Papa Surya sehari sebelum Papa Surya di temukan meninggal sedang melaksanakan Solat Subuh , tiba-tiba saja Belva di ajak Papa jalan-jalan mengenang masa kecil Belva.
"Papa masih ingat dulu ketika kamu punya peliharaan seekor kuda pemberian Kakekmu kamu slalu merawatnya dengan baik bahkan ketika sedang sakit kamu sangat khawatir sampai tidak mau makan dan ketika Ajal menjemputnya kamu sangat terpukul sekali, sering menangis dan engga mau melihat kuda lain"
"Ingatlah Nak, Ada yang datang ada juga yang pergi tidak slamanya kita bisa abadi jika suatu saat diantara kita ada yang pergi ikhlaskan karena nanti kamu akan bertemu lagi di surganya allah"
__ADS_1
Dan Belva tidak menyangkan jika hari itu adalah hari terakhir ia bisa mengobrol dengan sang Papa.
Walapun sudah cukup lama namun ingatan itu masih terngiang-ngiang di pikiran Belva.