Janda Perawan

Janda Perawan
Eps. 118


__ADS_3

disti dan rio masih didalam kamar niko dan adel menyiapakan keperluan yang akan dibawa kerumah sakit.


Disti telah menghubungi niken untuk menanyakan keperluannya sebelumnya


"kalau mau cepat bantu dong pak, jangan liatin aja kayak mandor!" ucap disti menggerutu


"masih untung saya temani, kalau tidak sudah jadi apa kamu sendirian disini!" jawab rio


Bug suara pukulan dari belakang mengenai punggung rio hingga membuatnya tumbang


"siapa itu?" disti ketakutan ponsel rio yang tadi menerangi ikut terjatuh


"pak rio! Pak apa yang terjadi. Siapa disana!" mata disti silau disinari cahaya lilin dari seseorang


"bude sari!" disti berteriak melihat bayangan badan milik seseorang wanita


"siapa! apa yang kalian lakukan disini!" tanya bude sari balik


"disti bude, ini disti" ucap disti berteriak pasalnya bude sari membawa panci ditangan satunya dan yang satunya lagi lilin


"astaga, maaf neng bude fikir maling! Itu ambil ponselnya!" bude sari memberikan ponsel rio yang terjatuh


"pak rio bangun pak! Bude tolong bantu saya!" ucàp disti terkejut melihat rio tergeletak


"bawa kekamar saya saja bude, tolong siapkan ini perlengkapan untuk dibawa kerumah sakit kakak melahirkan!" ucap disti


"baik neng, maafkan bude ya. Bude pulang tadi rjmah sepi tapi ada suara dikamar ibu jadi bude ambil panci untuk memekul. Maaf neng! Ucap bude sari ketakutan


"sudah bude ini juga kita yang salah ngga telfon bude tadi, sekarang tolong ambilkan kompres buat kening pak rio yang bengkak!" disti juga panik

__ADS_1


Antara kakaknya yang melahirkan dan juga orang yang mungkin spesial dihatinya sedang tak sadarkan diri


"pak bangun pak!" disti mengompres kening rio yang benjol lalu mendekatkan tangannya pada hidung rio


"masih bernafas ngga ya!" disti tak yakin dengan tangannya ia mendekatkan telinganya ke dada rio


" jantungnya masih berdetak kok!"


"kamu mau saya mati!" sontak disti terperanjat kaget mendengar suara orang yang baru saja ia periksa tiba tiba sadar


"ngga mungkin lah pak, jangan dulu! Ucap disti


"jangan dulu apa? Saya bukan pelatihmu lagi panggil nama saja atau apalah. Saya rasa kita akan sering ketemu karena kakak kita menjadi ipar" tutur rio setelah sadar dari pingsannya


"baru sadar udah galak aja pak, eh maaf akan aku pikirkan panggilan apa yang cocok!" ucap disti


"semua sudah siap?" tanya rio


"terserahmu saja, ayo saya antar lalu saya akan periksakan juga apakah otak saya terpengaruh!" ucap rio berjalan keluar kamar disti dengan santai


Dalam hatinya ia gugup saat membuka matanya ada wanita cantik yang akhir akhir ini mencuri perhatiannya. Jantungnya terus berdetak cepat seakan ingin lompat dari tempatnya saat melihat senyum disti


"mungkin efek pukulan itu, aku harus segera periksa!" gumam rio


Ia pun ingat ada dias yang akan menjadi istrinya. Maka rio tak boleh terpengaruh oleh siapapun


Keduanya berpamitan pada bude sari jika akan kembali kerumah sakit.


*****

__ADS_1


"lama banget kalian ngapain aja?" tanya niken dengan senyum curiganya


Saat disti dan rio kembali ke rumah sakit


"ada tragedi panci melayang!" jawab rio memegangi kening benjolnya sepanjang jalan karena malu


"bagaimana kak adel, apa sudah lahir anaknya?" tanya disti mengalihkan pembicaraan


Ia malu mengingat kejadian tadi


"sudah, sedang dimandikan! Anaknya cowok cakep banget perpaduan aku dan mba adel!" ucap niken gemas


"kak niko kali, ngapa jadi kamu sih!" disti tak terima padahal niko dan niken memang memiliki wajah yang sangat mirip


"udah boleh lihat belum, aku ngga sabar!" ucap disti lagi


"belum nanti kalau sudah dikamar mba adel. Kamu duduk dulu aja!" ucap niken yang masih mengenakan dress pestanya tadi


"ken ganti baju dulu, aku bawakan baju untukmu yang tertinggal dirumah kak adel!" disti mengulurkan baju milik niken


"terima kasih bestie! Tunggu sini ya aku ganti baju dulu" niken meninggalkan rio dan disti


"katanya mau periksa kak!" ucap disti pelan


Ia kasihan melihat kening rio pasti sangat sakit. Bayangkan saja panci yang cukup tebal mendarat di kening mulus


"engga perlu biar diobati tunangan saya aja nanti!" ucap rio yang secara tiba tiba saja mengingat dias kembali


Ada rasa bersalah saat rio begitu saja meninggalkan dias

__ADS_1


"biasa aja kali yang punya tunangan!" disti mencibikan bibirnya


moodnya seketika berubah menjadi sangat buruk


__ADS_2