Janda Perawan

Janda Perawan
bab 14


__ADS_3

Satu-satunya transportasi yang paling banyak dan sangat digemari di Kota Padang adalah angkot, mulai dari yang bergambar kartun, gambar pemandangan, sampai bahasa Minang kocak lengkap dengan eksterior dan interior yang supermewah menghiasi angkutan kota, dan ini hanya bisa ditemukan pada angkot-angkot yang beroperasi di pusat kota orang Minang.


Dentuman musik superpower yang memang sudah diset sedemikian rupa menggunakan speaker aktif, menjadi ciri khas angkot-angkot tersebut. Ini bukan tentang angkot, tetapi tentang transportasi satu-satunya yang bisa kupakai menuju Rumah Sakit Siti Rahma.


Perjalanan yang diringi dentuman musik dan dentuman hati membuat keringat bercucuran. Beruntung angkot yang kutumpangi ternyata cukup mewah. Interornya sangat indah dengan nuansa biru muda, sehingga aku merasa nyaman berada di dalamnya walau terkadang jantung berdegup sangat kencang. Teringat Zaid yang masih di rumah sakit, dan yang sangat mengganggu pikiranku adalah foto-foto serta surat cinta dalam amplop tadi pagi.


Angkot yang kutumpangi lumayan sesak oleh penumpang, padahal aku ingin sekali membuka dan membaca surat cinta dari Zaid.


Sesekali pandanganku mengarah ke luar kaca angkot yang melaju lamban, terlihat truk-truk pengangkut semen Padang melaju beriringan karena memang sedang jamnya beroperasi.


Terkadang angkot yang kutumpangi menyalip untuk mendahului truk-truk tersebut, yang mengakibatkan sopir harus menginjak rem mendadak karena ada lampu merah menyala di persimpangan. Jadi sangat tidak mungkin jika aku membuka dan membaca surat itu.

__ADS_1


“Kiri-kiri. RS Siti Rahma, Pak.” Begitu cara kami di Sumbar memberi tahu sopir angkutan umum ketika tujuan kita sudah dekat.


“Di gerbang utama atau di depan masjid, Bu?” sopir bertanya sembari melihat ke belakang melalui kaca spion depan.


“Gerbang utama saja, Pak.” Angkot berhenti tepat di gerbang utama, beberapa lembar lima ribuan kuserahkan kepada sopir dan mengikhlaskan kembaliannya.


Setelah sama-sama mengucapkan terima kasih, perlahan angkot tersebut berlalu meninggalkanku. Kembali jantung berdegup kencang, napas mulai tak beraturan. Kenapa ibu mertua menyuruhku kembali ke rumah sakit, padahal tadi mereka yang menyuruhku pulang? Jangan-jangan Zaid semakin parah, atau ... kutepis semua pikiran bodoh tersebut.


Aku bergegas menuju ruangan di mana Zaid mendapat perawatan khusus. Beberapa perawat yang berpapasan denganku tersenyum ramah. Tak memerlukan waktu lama aku sudah berada di pintu ruang rawat. Tanganku gemetaran, aku takut jangan-jangan Zaid ... bayangan-bayangan jelek tentang keadaan Zaid menari indah di kepala.


Namun dorongan hati untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya membuat aku berani membuka pintu sambil mengucap salam. Jawaban salam terdengar serempak, tapi bukan hanya suara bapak dan ibu mertuaku, Zaid pun telah mampu menjawab salam.

__ADS_1


Dengan langkah gemetar dan tatapan nanar kudekati bangsal di mana Zaid terbaring. Tidak ada satu pun selang dan jarum di tubuhnya. Zaid tersenyum manis, bahkan terlihat sangat bugar. Kucium tangan kedua mertuaku penuh takzim, tetapi aku tidak berani mendekati Zaid, takut dia menepis tanganku seperti kemarin-kemarin.


“Tangan suaminya nggak dicium nih?” Mataku terbelalak, sangat tidak percaya Zaid meminta tangannya untuk kucium.


Takut mertuaku curiga, apa yang diinginkan Zaid kupenuhi. Wajahku memerah menahan rasa aneh yang menjalar ke seluruh jiwa dan raga ketika tangannya kucium.


“Zaid tidak apa-apa, Sah, penyakit traumatisnya kambuh.” Ibu mertuaku tersenyum meyakinkan.


Tapi aku bingung kenapa harus dengan perawatan khusus, sedangkan sakit yang diderita Zaid hanya traumatic psikis.


Mertuaku sangat pengertian, mereka meninggal-kan kami dengan alasan mau membeli minum dan buah. Sekarang hanya ada aku dan Zaid di ruangan ini, aku sangat gugup, tapi tidak dengan Zaid. Beberapa kali Zaid meraih tanganku untuk dicium dan diremasnya lembut.

__ADS_1


“Sah, maafkan aku.” Tanganku masih dalam genggaman Zaid, dia memintaku untuk duduk di sampingnya. Aku sangat kikuk dengan sikap Zaid yang sangat tidak biasa. Pernikahan kami memang sudah melewati fase tiga bulan, tapi kadang aku masih merasa kikuk dan takut zaid seperti kemarin-kemarin.


__ADS_2