
Saat ini Silla dan Rendi tengah berada dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke Bandara, tadi sebelum berangkat Arvan menelpon tidak jadi menjemput dan di ganti dengan supir, dan Silla memakluminya dan memberikan semangat pada adiknya yang akan meeting dengan klien.
Silla sebenarnya tidak ingin pulang namun di satu sisi semua keluarganya di Jakarta, apalagi ada pekerjaan yang saat ini menunggunya.
"Kenapa? masih punya pikiran ga mau pulang?"ucap Rendi yang seolah tahu pikiran Silla.
"Hmm, tapi sudah berkurang 50%"jawab Silla tersenyum menyakinkan Rendi.
"Ada-ada saja,nanti kalo ga sibuk kita bisa liburan kesini atau bisa jadi nanti pernikahan kita di adakan disini,gimana?"ucap Rendi sontak membuat Silla terkejut.
Padahal mereka belum lama jadian tapi pikiran Rendi malah sudah jauh ke jenjang pernikahan, bukannya tidak ingin menikah hanya saja masih terlalu awal memikirkan hubungan serius itu, apalagi sekarang posisi mereka yang belum mengenal keluarga masing-masing dan yang terpenting mereka berdua belum mengenal satu sama lain lebih jauh.
"Kenapa diam? lagi ngebayangin pernikahan kita ya Sayang?"ucap Rendi menggoda Silla, padahal yang di pikirkan Silla malah sebaliknya.
"Kok bahas nikah sih, udah ah jangan bahas itu bahas yang lain aja, oh yah nanti kamu di jemput supir kan Sayang?"tanya Silla berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rendi tersenyum, ia tahu Silla tidak ingin membahas pernikahan maklum mereka baru jadian.
__ADS_1
"Iya Sayang, sepertinya nanti aku langsung ke kantor ada setumpuk berkas yang menungguku"ucap Rendi pura-pura lelah.
"Semangat yaa, jangan terlalu cape"ucap Silla menyemangati padahal ia juga sama.
Beberapan menit kemudian mereka sampai juga di Bandara, masih ada sekitar 40 menit sebelum berangkat, Rendi mengajak Silla untuk ke mencari makanan dulu di karenakan mereka berdua kesiangan karena semalam pulang begitu larut terlalu asyik mengelilingi Bali alhasil mereka tidak sempat sarapan.
Mereka hanya membeli makanan cepat saji supaya praktis dan bisa di bawa, karena jika makanan lain takut tidak ada waktu.
"Gapapa kan makan ini dulu?"ucap Rendi takut Silla tidak suka.
Mereka menikmati makanan di ruang tunggu sambil membahas seputar pekerjaan, karena tidak ada pembahasan lain dan tidak lama kemudian pemberitahuan keberangkatan pesawat mereka.
"Thankyou Bali untuk kenangan manisnya"batin Silla tersenyum menatap ke arah jendela begitu pesawat take off.
Perjalanan pulang kali ini membuat Silla merasakan sensasi berbeda, apalagi jika bukan bisa bersama orang tersayang.
"Kenapa senyum-senyum begitu?"ucap Rendi heran karena Silla dari tadi terus menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Cuma lagi happy aja"jawab Silla tersenyum dan Rendi paham artinya.
jika kemarin mereka berangkat masih sebagai rekan bisnis sekarang ketika pulang sudah jadi rekan pendamping hati.
Perjalanan pulang kali ini begitu di nikmati setiap momen karena Rendi maupun Silla tidak tahu lagi kesempatan bisa berduaan seperti ini apalagi karena kesibukan mereka berdua.
"Akan aku pastikan kamu jadi wanita terakhir dihidupku Silla, I love u"batin Rendi.
Rendi bertekad ia harus segera mengembangkan perusahaan dengan baik supaya Ayahnya percaya jika ia mampu membuat perusahaan lebih maju dan bisa bersanding dengan Silla.
Akhirnya mereka sudah tiba di Jakarta, dan mereka harus berpamitan karena berbeda arah Silla yang akan pulang dan Rendi yang akan langsung ke kantornya.
"Hati-hati di jalan nya ya Sayang, kalo sudah sampai langsung kabari aku"ucap Rendi.
"Iya Pasti, kamu juga hati-hati ya dan juga jangan terlalu cape ingat istirahat dan makan juga ya Sayang"ucap Silla langsung memeluk Rendi.
Setelah drama pamitan Duo Bucin, akhirnya mereka naik mobil masing-masing dan segera pergi dari Bandara.
__ADS_1