Janda Perawan

Janda Perawan
Eps. 117


__ADS_3

semua panik saat adel berteriak kesakitan merasakan perutnya


"ferdi bawa mobilnya biar saya menjaga adel dibelakang" ucap niko tanpa sadar adiknya sedang melangsungkan acara pertunangan


"biar aku saja kak yang jaga dibelakang, kakak bawa mobilnya" ucap disti yang sedikit tenang dan bisa berfikir


"rio antarkan niko kerumah sakit, biar disti dan niko menjaga adel" ucap ferdi yang tak mungkin meninggalkan acaranya begitu saja meski untuk urusan mendesak


"kakak akan menyusul bersama mama dan niken" ucap ferdi lagi setelah menghantarkan kemobil


"baik kak, dias kamu pulang duluan saja ya!" ucap rio menuruti keinginan kakaknya dan meninggalkan dias sendiri


"tolong cepat rio! sabar ya sayang sebentar lagi sampai" ucap niko menjaga adel dibelakang sedangkan disti naik didepan disamping rio yang mengemudikan mobilnya


**


"sebaiknya kamu pulang saja, kami akan kerumah sakit mungkin rio akan lama" ucap ferdi pada calon adik iparny yaitu dias yang tak begitu ia sukai karena tingkah laku dan sikapnya


"tapi kak, aku ikut saja dengan kalian" bantah dias


"kami buru buru, tolong jangan menghambat" ucap niken


"ma, pa, ayo berangkat. bik tolong bereskan ini semua dan biarkan para tamu menikmati makanannya terlebih dulu" ucap niken lagi yang tak sempat ganti baju dan ingin segera menemani kakaknya


"bagaimana niko, apa sudah lahir?" tanya mama jihan setelah tiba dirumah sakit melihat niko, disti dan juga rio


"sedang proses ma,tolong bantu doa" ucap niko

__ADS_1


 ferdi menepuk pundak niko agar bersabar dan tetap tenang


"maaf mengganggu acaramu" niko merasa tak enak


"tidak juga acara yang terpentingnya sudah dilaksankan,"ucap ferdi menenangkan agar sahabatnya tak merasa bersalah


"kak aku pulang dulu menyiapakan perlengkapan dan baju kak adel dirumah" ucap disti yang melihat niko sudah ada yang menemani


"aku antar aja dis, yang lain bisa menemani kak niko" ucap niken


"biar saya saja, sekalian saya pulang" ucap rio menawarkan bantuan agar kakaknya dan niken bisa beristirahat dihari spesialnya


"ngga usah pak, saya bisa naik taksi saja!" tolak disti


"lebih baik sama rio aja dis, bisa sekalian antarkan lagi kesini kan?" tanya niken


"bisa!" jawab rio cepat


"tapi!" ucap disti terputus


rio sudah menarik tangan disti agar tak banyak berdebat ditengah kepanikan orang


"tunggu pak, jemput tunangan bapak dulu biar ngga salah faham" ucap disti


"tak perlu, dia sudah pulang dengan orang tuaku. jadi mau saya antar atau tidak!" ucap rio


"sabar pak, gitu aja marah! kalau ngga ikhlas mending ngga usah" ucap disti memancing keributan

__ADS_1


"ngga tau berterima kasih! buruan lelet banget!" rio masuk kedalam mobil dan menunggu disti masuk


dengan kecepatan kencang rio melajukan mobilnya. tak sampai lima belas menit tiba dirumah niko dan adel


"jangan lama lama!" ucap rio saat disti turun dari mobil dan tak menyahuti ucaapan rio yang membuatnya kesal


"bude, bude sari! kok rumah sepi sih" ucap disti pada dirinya sendiri


"bude ada dimana bude" disti memanggil pembantunya yang ternyata tidak ada dirumah


"aaaaaaaa" teriak disti dari dalam rumah


rio berlari mendengar suara disti berteriak kencang hingga keluar rumah. "disti! dimana kamu!" ruangan semua gelap dan sulit melihat meski disiang hari


"pak tolong pak saya takut pak, nafas saya" disti berteriak ketakutakan lampu dirumah kakaknya tiba tiba mati


"tunggu disana jangan kemana mana" rio menyalakan lampu diponselnya dan mencari keberadaan disti


rio menemukan disti meringkuk didekat tangga saat akan naik kekamar kakaknya


"ayo bangun, sudah tak apa apa ada aku jangan takut" ucapan rio menenangkan disti membuat disti melayang


ia lupa jika rio memiliki kekasih


"maaf pak merepotkan, bisa tolong antarkan saya  keatas saya agak takut" ucap disti ragu


"bilang saja takut! ayo jalan saya ikuti dibelakang" ucap rio dengan senyum semiriknya

__ADS_1


"jangan lari ya pak, jangan tinggalin saya" ucap disti tak mempercayai rio


"crewet sekali kamu, ayo buruan kita ditunggu" ucap rio


__ADS_2