
"hai apa kabar?" sebuah pesan singkat masuk keponsel disti
"siapa" balas disti
"secepat itu melupakanku? perlukah ku perkenalkan diri lagi!" balasan pesan
cukup lama disti tak mau membalasnya, ia pikir mungkin hanya orang iseng atau pembelinya yang ingin memesan bunga atau tanaman lain
"maaf jika aku mengganggu! selamat malam" pesan terakhir yang masuk dan distipun hanya membukanya saja tanpa mau membalas
ada seseorang yang tiba tiba mengganggu fikirannya saat ini, orang yang belum lama ini sering membuatnya kesal, senang bahkan rindu
ponselnya berbunyi lagi tapi kali ini bukan sebuah pesan melainkan panggilan video dari nomer baru yang sepertinya bukan berasal dari negaranya
karena takut disti tak mau mengangkatnya lalu ia melanjutkan belajarnya yang tertinggal karena cuti beberapa bulan lalu
"halo, siapa?" disti yang tak tahan mendengar ponselnya teruys berdering pun mengangkat panggilan tapi tak menghadapkan pada wajahnya melainkan keatap
"galak banget sih!" suara seseorang yang membuat jantung disti berdetak kencang perlahan disti mengarahkan ponselnya ke wajahnya
ia penasaran dengan suara yang entah apa membuatnya menunggu
__ADS_1
"haii, sayang! ehh salah. haii disti!" ucap rio tersenyum penuh arti
"hemmm, bilang kenapa kalau kakak yang kirim pesan. aku pikir orang iseng saja" ucap disti kesal
"aku juga iseng ingin melihatmu, iseng kangen sama kamu" jawab rio
"baru satu minggu diluar negeri sudah pintar menggombal, disana kerja apa hanya cari cari wanita" sahut disti sewot
"bisa dua duanya, sebab cintaku ditolak jadi apalah daya aku harus cari yang bisa membuatku menerima cintanya juga" lanjut rio
"ngga jelas, gimana disana? enak ya liburan terus diluar negeri" ucap disti
"kamu mau kesini?" tanya rio
"kalau begitu kita buat surat dulu, baru bisa kesini bersama" ucap rio serius
"surat dokter atau surat untuk starla?" disti mulai becanda
"surat nikah!" jleb disti terdiam seribu bahasa tak bisa menyahuti ucapan rio seketika lidahnya kelu
"dis, disti kamu kenapa? kamu baik baik saja kan!" panggil rio pada disti yanga tiba tiba diam
__ADS_1
rio takut disti akan marah padanya
"ngga lucu becandanya, itukan bukan buat becandaan kak!" jawab disti setelah sadar dari keterkejutannya
"siapa juga yang becanda! aku serius tapi kamu yang selalu menganggap perasaanku hanya candaan saja!" ucap rio
"prank!!! udahlah bahas yang lain. oh iya bunga yang kak rio tanam waktu itu hidup dan sekarang sudah mulai mau berbunga" disti mengalihkan pembicaraan
"aku serius dis, aku ngga pernah becanda dengan perasaanku padamu sejak awal. tapi keadaan yang tak mampu membuatku bisa begitu saja mengungkapkannya dan ingin memilikimu" ucap rio membuat disti terdiam lagi
tanggapan apa yang akan ia berikan pada rio, ia takut terluka lagi bahkan luka yang kemarin belum sembuh benar
meski ada perasaan senang karena ternyata selama ini perasaanya tak bertepuk sebelah tangan. entah jujur atau tidak disti percaya apa yang baru saja diucapkan rio adalah benar adanya
"tapi kak" disti tak melanjutkan ucapannya
"ssstttttt. cukup dengarkan kata hatimu tak perlu buru buru berfikir. aku akan menunggu jawaban itu saat niken dan kakakku menikah. saat itu aku akan menagih jawabannya
dan jawaban itu yang akan menentukan aku akan selamanya disini, atau bisa tetap tinggal disana" ucap rio
"sampai saat itu tiba kita tetap bisa berkomunikasi seperti sekarang, aku akan sabar" lanjut rio
__ADS_1
darah disti berdesir mendengar ketulusan yang terpancar dari mata dan ucapan rio "iya kak! jawab disti singkat