Janda Perawan

Janda Perawan
Eps.114


__ADS_3

"maaf ya mas!" ucap adel menyesali hidupnya yang dulu


Pernah mengira rafa adalah orang yang paling berharga bagi adel. Nyatanya tanpa adel ketahui sejak pertemuannya dengan niko pertama kali


Itulah kehidupannya dimulai


"maaf untuk apa sayang?" niko bingung dengan sikap istrinya


"adel kenapa disti?" tanya niko pada adik iparnya yang duduk dikursi belakang sejak tadi


disti pun bingung harus bagaimana dan tak tahu apa apa


"ngga apa apa mas? Aku hanya menyesal kenapa bisa mengenal orang seperti itu. Dan melibatkanmu dalam masalahku selama ini!" ucap adel dalam isak tangisnya


Niko terkejut dengan pemikiran adel. Ia memberhentikan mobilnya dipinggir jalan


"kita bicarakan saja dirumah oke. Tenangkan dirimu ya!" niko melanjutkan perjalanannya dimobil ada disti yang menurut niko tak perlu tahu tentang masalnya dengan adel


Niko menggengam tangan adel dan menusap usapnya agar tenang, niko pun khawatir dengan anaknya jika adel terus bersedih


"kak, sudah ya jangan dipikirin orang yang jahat sama kakak!" ucap disti yang juga merasa bersalah


Dulu ia tak bisa membantu kakaknya jika dalam kesulitan. Hanya sebagai penonton saja tanpa bisa melakukan apapun


"iya dek!" adel mulai menghentikan tangisnya ia ingat saat ini ada anak yang dikandungnya dan perlu dijaga


Kurang lebih satu jam mobil niko sampai dipekarangan rumahnya. Ia keluar mobil dan membukakan pintu untuk istrinya


Adel terlihat lemas dan pucat saat turun dari mobil

__ADS_1


"disti tolong bawakan tas adel!" pinta niko pada disti


Disti mengangguk menurutimperintah kakaknya lalu ikut masuk kedalam rumah


"pak, ibu kenapa?" tanya bude sari panik melihat majikannya pucat


"ngga apa apa bik, tolong buatkan susu hangat dan antarkan kekamar!" ucap niko pada pembantunya


Disti mengikuti kakaknya kekamar yang juga membawakan tas milik adel


"kak, aku keluar dulu ya!" pamit disti agar kakaknya bisa beristirahat


"iya dek makasih ya!" adel menjawab disti


Disti keluar kamar keduanya dan adel duduk diranjang


Dengan lembut membelai tangan dan kepala adel dengan penuh kasih.


Adel memeluk niko dan merasakan betapa nyamannya punggung ini. Ia yang selalu melindungi dan menjaganya dari apapun


"terima kasih buat semua yang mas lakukan! Aku ngga tahu akan seperti apa jika tak bertemu dengan mas!" adel masih bersembunyi dibalik dada bidang milik suaminya


Penciumannya menikmati aroma khas tubuh niko yang membuatnya nyaman dan candu


"yang mana? Yang bikin kamu mlendung atau karena sudah mau menikahimu hemmm!" niko mulai becanda lagi ditengah keseriusan pembicaraan keduanya


"mas, ihhh aku serius!" kesal adel ia mencubit pinggang niko


"sayang! Jangan mancing mancing ya!" ucap niko menahan tangan adel

__ADS_1


"makanya kalau diajak serius tuh jangan becanda!" adel memanyunkan bibirnya


cup, niko mengecup bibir adel sekilas


"udah dinikahi, sudah dibikin buncit sembilan bulan masih ditanya keseriusan mas hmm?" niko sengaja tak mau membuat suasana terus menjadi sedih untuk istrinya


"tau ah! Mas ngeselin! Bude kok ngga masuk!" ucap adel melihat bude sari hendak berbalik arah


Melihat majikannya sedang bercengkrama dengan manja


"iya bu lupa!" jawab bude sari


"taruh sana saja bude, terima kasih ya!" ucap adel


"iya bu, ibu sudah baikan? Udah ngga pucet lagi!" tanya bude sari


"saya baik baik saja bude! Tadi hanya kecapean aja!" jawab adel


"syukurlah. Kalau begitu saya permisi dulu pak, bu!" bude sari lega adel sudah terlihat lebih baik


"mas ngga mau minum yang rasa vanila, maunya yang coklat!" ucap adel mencium aroma susunya terasa mual


"mas buatkan! Tunggu disini jangan kemana mana oke!" niko gerak cepat membuatkan susu sesuai keinginan istrinya


"*tuhan sangat baik padaku, aku akan selalu mendampingi mas niko sampai kapan pun" b*atin adel


ia sangat bersyukur kini hidupnya berbanding terbalik dengan kehidupannya yang dulu


Memiliki keluarga, suami dan juga kenikmatan dunia yang ia dapatkan saat ini

__ADS_1


__ADS_2