
Niko sampai dirumahnya dan menemui adelia yang sedang menggedong zain
"malam sayang" suara niko menyapa adel kala fokus pada anaknya yang sudah mulai mengerti diajak becanda
"yang mana nih sayangnya" tanya adel yang mendengar suara suaminya pulang
"tentu saja keduanya. terutama tentu saja mama zain dong" tegas niko
"bisa aja papamu zain, mas katanya janji pulang cepat! kemana saja sih" tanya adel penasaran suaminya tak mengabarinya
"ada sedikit masalah sayang, dan mas mau ceritakan semuanya sama kamu tanpa ada yang mas tutupi" niko mengajak adel duduk dan memanggil suster zain agar menggantikan adel menjaga zain
"ada apa mas?" adel khawatir namun tetap mengikuti arahan suaminya agar duduk bersama
niko menjelaskan hal yang sama pada adel dan yang ia ceritakan pada niken dan ferdi. adel terkejut selama ini suaminya tak pernah memberitahukan masalahnya. dianggap adel tak ada yang memang perlu dicurigai
"kamu marah sayang mas baru cerita?" tanya niko
"engga mas, setidaknya mas jujur saat ini sebelum aku tahu dari orang lain. kalau memang semua ini adalah milik kita maka tuhan pasti akan menunjukan jalannya mas" adel memberikan dukungan penuh pada suaminya
"sampai kasusnya selesai maka kita tidak bisa tinggal dirumah ini lagi sayang. apa kamu tak keberatan jika kita tinggal dirumah yang lebih kecil untuk sementara" tanya niko ragu
"sangat tidak keberatan sayang, kemanapun mas pergi aku dan zain akan ikut" ucap adel lalu memeluk suminya
adel merasakan betapa sulitnya untuk sumainya saat ini
"mas bagaimana kalau kita tinggal dirumah ibu untuk sementara. oh iya lalu mama papa dan niken bagaimana?" tanya adel lagi
"tenang saja, rumah yang papa dan niken tempati adalah rumah orang tuaku dulu sebelum meninggal. dan dibeli tanpa bantuan kakek. sementara rumah ini adalah hasil kerja kerasku tapi sayangnya....." niko tak melanjutkan ucapanya
ia tak mau menyesali kerja kerasnya yang ia lakukan hingga perusahaan yang sudah hampir ambruk, bisa berkembang pesat seperti saat ini
"bolehkah kita tinggal dirumah ibu untuk sementara?" niko sangat setuju dengan usul adel namun ia juga malu harus menumpang pada istrinya
"kenapa tidak, jika mama tanya rumah kita sedang ronovasi atau apa gitu agar papa ngga kepikiran" saran adel
"setuju, tapi kamu tenang saja hidup kita tak akan terpengaruh karena mas sudah siapkan tabungan atas namamu dan niken yang waktu itu. dan benar saja saat ini dibutuhkan. bolehkan kita pakai untuk kebutuhan kita selama mas selesaikan masalah ini?" niko makin tak enak hati
tabungan yang disiapkan untuk istri dana adiknya justru akan digunakan kembali untuk dirinya
"apapun yang aku punya adalah milikmu juga mas, lagian itu juga terlalu banyak untukku" sahut adel
"terima kasih sayang atas pengertiannya,mas tak pernah salah memilih istri yang mau terima mas apa adanya" keduanya saling berpelukan melepaskan keluh kesah keduanya
__ADS_1
******
"sudah malam kamu ngga pulang?" tanya rio pada disti yang masih sibuk dengan berkas dimejanya
pemesanan bibit dan juga tanaman yang siap ditanam meningkat sejak niko membantunya dalam bentuk kerjasama dan juga dengan bantuan rio yang menghasilkan bibit dan tanaman yang tak semua toko tanaman memilikinya
"belum" jawab disti ketus
";ayo saya antar sekalian mau ketemu sama kak niko" ajak rio ramah tak seperti siang tadi
"makasih kak, duluan saja!" disti masih fokus dengan pekerjaanya dan sesekali melihat ponselnya
entah apa yang ditunggunya
"sudah sepi diluar, ini sudah jam delapan" ucap rio lagi
"lalu kenapa kalau sudah malam, bukannya tadi ada yang ngajakin ketemu!" ucap disti sambil memainkan ponselnya
"kamu ccemburu!" ucap rio dan mendekatkan wajahnya menatap disti
"apaan sih! cemburu? emang kaka siapanya aku!" ucap disti mencibikan bibirnya tak terima dengan ucapana yang dilontarkan rio
"hahahaha, jadi beneran cemburu! ya kamu maunya jadi apa?" ucap rio makin menggoda disti
"tunggu dis!" rio mengejar disti keluar dan yang membuat moodnya berubah seketika
"beb, katanya lembur jadi aku aja yang datangi kamu kesini" ucap dias tiba tiba datang ke toko disti yang diberitahukan oleh orang tua rio
"saya antar kamu pulang, saya masih ada urusan dulu" ucap rio pada dias
tak lama distipun menaiki ojek online yang dipesannya melalui aplikasi sejak tadi, yang membuat disti menunggu
rio makin kesal tak bisa mengantar disti dan harus melihat dias kala rasa lelahnya telah menyerang
"beb, kenapa? kita makan malam dulu yuk" ajak dias
"kita pulang saja, ada yang akan saya sampaikkan pada orang tuamu" rio masuk kedalam mobilnya dan menuju rumah dias
"selamat malam om, tante. mohon maaf mengganggu waktunya ada yang ingin saya sampaikan. dan mungkin ini akan membuat om dan tante marah pada saya" ucap rio yang sampai dirumah dias setelah melakukan perjalanan yang cukup lama
"apa maksudnya beb?" tanya dias penasaran
"om, tante, dan dias saya minta maaf! saya rasa tidak bisa melajutkan pertuangan ini karena beberapa hal dan saya harap pertemanan antara om dan ayah saya tak akan putus karena saya" ucap rio dengan penuh keberanian
__ADS_1
rio sudah pasang badan jika tubuhnya akan dihajar atau mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan
"apa masalahnya? apa ada wanita lain?" tanya dias tak terima
"kita baik baik saya honey, kenapa ingin memutuskanku!" dias berteriak
"kenapa begini rio, sudah sejauh dan selama ini kami menunggu" ucap mama dias yang ikut bersuara
"maafkan saya om, tante dan dias" rio tak gentar dengan tekatnya
"dari pada kami saling menyakiti, dan sebelum pernikahan yang sakral dilaksanakan maka lebih baik diakhiri disini saja" lanjut rio
Plak
"kamu pikir kamu siapa? bisa seenaknya saja memutuskan!" papa dias tak terima dan melayangkan pukulan keras pada wajah rio
"saya terima om, jika ini membuat om dan keluarga lega saya siap diapakan saja" ucap rio seolah menantang
"baik jika itu maumu, jangan salahkan saya jika usaha orang tuamu akan diambil alih oleh perusahaan saya" ancam papa dias
"tidak masalah om, memang sepertinya lebih baik seperti itu. ayah sudah tak bisa melakukan pekerjaan berat saat ini. jika diambil alih oleh perusahaan om mungkin akan lebih baik" jawab rio dengan santainya tanpa takut sedikitpun jika usaha yang ayahnya rintis akan hancur begitu saja
dulu ia menerima dias karena rio fikir dapat membantu perkonomian orang tuanya, nyatanya tak cukup berarti dan rio berharap dias akan merubah sikapnya menjadi lebih baik
tapi semakin dekat rio semakin sadar semua hanya keterpaksaanya saja
"silahkan saja keluar dari rumah ini, dan jangan pernah memohon apapun dari kami!" ucap papa dias yang merasa diremehkan oleh rio
"tapi pa! rio tunggu" dias mengejar rio yang akan keluar dari rumahnya dan mencegahnya
"tunggu rio, apa salahku? aku sangat mencintaimu dan aku juga mau terima kamu apa adanya" ucap dias menahan tangan rio dan menggenggamnya
"kamu tidak salah apapun dias, yang salah adalah hati saya yang sampai saat ini masih belum menerima cinntamu. saya ngga mau kita putus ditengah jalan setelah menikah" ucap rio menjelaskan
"engga rio, engga ini pasti karena niken kan? iya pasti dia yang memperngaruhimu kan. ayolah beb kita sudah dua tahun bertunangan" dias berusaha merayu
namun rio tetap meinggalkan dias dan mengusap pucak kepalanya sebelum pergi
"kamu pasti akan dapat yang jauh lebih baik dias, lupakan saya dan mulailah dengan hidup barumu!" ucap rio lalu masuk kemobil dan melajukan mobilnya kencang
ada rasa lega dihatinya entah siapa yang akan jadi pendampinganya, yang jelas bukan dias orangnya
namun rio tak tahu jika satu maslah lagi muncul dengan keputusannya itu
__ADS_1