
selesai makan malam dirumah niko dan adel niken memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya dengan diantarkan oleh calon suaminya
"mau mampir dulu kak?" tanya niken pada ferdi setelah sampai dirumahnya
"iya sayang, ada yang ingin kakak sampailkan. tapi kakak mau tanya dulu sama kamu apakah kamu setuju atau tidak!" ucap ferdi
"apa kak, jangan buat kau khawatir" ucap niken yang takut jika ferdi akan meninggalkannya
"kakak mau kita menikah dulu yang penting sah, untuk pestanya sesuai tanggal yang ditentukan saja. mengingat sekarang kaeadaan niko yang sedang bermasalah lebih baik uangnya digunakan untuk kebutuhan lainya, apa kamu setuju sayang. tapi kakak tak memaksa atau jika kamu sabar kita menikah setelah perusahaan sudah dalam keadaan baik baik saja dan kembali dalam genggaman niko
karena pasti akan banyak yang perlu kita kerjakan untuk mempertahakan perusahaan" ucap ferdi yang sebenarnya juga tak mau mengundur pernikahannya
tapi sahabat dan adiknya sedang dalam masalah yang cukup besar, rasanya tak mungkin ia harus berbahagia sendiri
"aku setuju, apapun keputusannya kita akan tetap bersama, kita menikah setelah ursuan perusahaan dan kak niko selesai" jawab niken dengan penuh keyakinan
ferdi mengecup kening niken dan mengajaknya untuk menemui orang tua niken bersama dan menyampaikan maksudnya
"selamat malam, mama papa" ucap ferdi menyapa calon mertunya yang sudah menganggapnya anaknya sendiri sejak ferdi keluar dari rumahnya dan sering menginap dirumah niko
"ehh ferdi, sini nak ayo duduk. pa ada ferdi pa" teriak mama jihan pada pak surya yang sedang main catur dengan petugas kebunnya
"biar niken panggilkan ma," niken kearean belakang dimana pak surya sedang menikmati kopi dan musik pop jaman mudanya
"pa, ada kak ferdi" ucap niken sambil mengecup pipi pak surya
"anak papa sudah pulang, sebentar sayang!" ucap pak surya menghentikan permainan caturnya dan memilih menemui calon mantu kesayangannya
"wah senang sekali jika setiap malam kalian pulang berdua begini, pasti papa akan hidup seratus tahun lagi" ucap pak surya bercanda
"papa ini ada ada saja, papa sehat?" tanya ferdi
__ADS_1
"seperti yang kamu lihat, papa sangat sehat dan siap untuk menjabat tanganmu dipelaminan" ucap pak surya bersemangat membuat niken dan ferdi saling pandang
keduanya tak tega menyampaikan apa yang menjadi ksepaktannya sebelum masuk kerumah tadi.
niken memberikan isyarat pada ferdi agar tetep mengatakan apa yang ingin dikatakan tadi,
awalnya pak surya dan bu jihan terkejut namun ferdi menjelaskan perlahan apa yang sedang menimpa niko saat ini tetap merahasiakan agar niko tak makin terbebani
"baiklah nak, kalian putuskan saja mana yang paling baik. kami akan selalu mendukung" pak surya pun menerima alasannya
"terima kasih ma, pa. kalau begitu saya pamit dulu" pamit ferdi yang sudah memilikki tujuan yang sejak tadi mengganjal dipikirannya
ferdi mengendarai mobilnya kencang menuju rumah orang tuanya, meski kadang ada sedikit dendam dihatinya jika mengingat apa yang dilakukan orang tuanya
namun ferdi tetap berbakti dari segi materi tentunya yang paling utama bagi orang tuanya
tiba dirumahnya ferdi turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah orang tuanya
"ada urusan apa?" tanya pak dimas saat membukakan pintu yang tak terlalu lebar
"pulanglah, sudah malam dan jangan membuat keributan" usir pak dimas
ferdi memaksa masuk dengan mendorong pintu, "apa kalian manusia?" tanya ferdi dengan berteriak
saat ini rio sedang berlutut dihadapan dias dan papanya
"nak pergilah, jangan sampai kamu ikut kena masalah" bu dewi menarik ferdi aagar keluar rumahnya
"cukup bu!" ferdi melepas tangan bu dewi
"ayo kita pergi" ferdi menarik tangan rio agar bangun dan pergi dari rumah orang tuanya yang membuatnya makin muak
__ADS_1
"tunggu anak muda!! siapa kau berani sekali mengganggu kesenangan anakku" ucap papa dias seolah tanpa rasa bersalah dan dosa membuat wajah rio lebam dan juga mengeluarkan darah
"lebih baik kakak pergi saja kak, biar aku yang hadapi ini semua" ucap rio yang akhirnya bersuara
"tidak tanpamu" ferdi menatap tajam sekeliling nya manusia yang hanya mengandalkan uang
"berani sekali anakmu ini, apa dia tidak tahu jika ayahnya berhutang banyak uang padaku. dan anak satunya lagi tak tahu diri membuat anak kesayanganku meneteskan air matanya" ucap papa dias lantang
"hutang? sejak kapan yah! sejak kapan!!!" ferdi mendekati ayahnya yang diam saja melihat anaknya didepan mata dipukuli hanya karena uang
"mungkin yang menjadi darah dan dagingmu saat ini adalah hasil utangnya padaku, hahahah" papa dias tertawa puas
dias pun tersenyum sinis
"kalian pergi dari sini atau kalian akan mendekam dipenjara dan saya pastikan akan seumur hidupmu"tunjuk ferdi pada papa dias
"polisi? kamu pikir kamu mampu menangkapku?" papa dias sesumbar
"masuk" ucap ferdi sekelompok orang berwajah seram masuk dan menyeret papa dias lalu membawanya pada pihak berwajib atas tuduhan penganiayaan dan juga penipuan dengan modus perjudian
"papa,!!" dias mengikuti papanya yang dibawa keluar paksa
"akan ku bunuh kau?" ucap papa dias berteriak sebelum menghilang dibalik pintu
"kemasi bajumu, dan ikut kakak"
"jangan ganggu rio dan saya lagi, semua hutang akan saya lunasi dan juga tiap bulan akan ada uang masuk yang cukup ataupun tidak saya tidak akan menambahnya llagi. jangan temui saya ataupun siapaun yang berhubungan dengan saya lagi!!" ferdi membangunkan rio yang tak mengatakan apapun
rio merasa sangat kecewa dengan orang tuanya dan mengikuti kakaknya yang membawanya ke apartemennya
__ADS_1
"sabarlah kita obati nanti dirumah kakak!" ferdi memberikan saputangannya pada adiknya
rio menahan sakit diwajah juga tubuhnya yang memar akibat pukulan dan tendangan dari ayahnya dan papanya dias