Janda Perawan

Janda Perawan
bab 6


__ADS_3

Baju dan beberapa jilbab telah masuk ke sebuah tas besar, kue-kue kering yang sengaja dibuatkan Ibu telah kusimpan dalam kantong kresek. Hari ini kami akan berangkat ke Padang meninggalkan Abak dan Ibu untuk pertama kalinya. Aku akan mengikuti Zaid ke kota karena dia tidak mungkin lebih lama lagi meninggalkan kantornya.


Wajah Ibu digelayuti mendung semenjak malam, sedangkan Abak berusaha mengemas kesedihan dengan wasilah pengantin baru yang terdengar lrih di telinga. Semua barang bawaan telah masuk ke mobil CRV putih metalik yang sudah terparkir di pintu gerbang.


Sesaat Ibu tak dapat membendung rasa sedih yang teramat sangat, tangannya kucium dan Ibu menumpahkan air mata dalam pelukanku.


“Jadilah pelayan yang baik jika engkau ingin dilayani dengan baik oleh suamimu,” bisik Ibu di balik hijab maroon yang sengaja kupakai biar serasi dengan koko Zaid yang bewarna senada.


Abak lebih menguasai kesedihan, secara bergantian aku dan Zaid dipeluknya. Derum mesin mobil dan lambaian tangan menjadi momen perpisahan penuh air mata. Aku duduk di samping Zaid yang tetap fokus mengemudi, beberapa kali mobil kami mengangguk karena bannya menginjak lubang dan batu. Tak ada suara sedikit pun yang keluar karena kami sibuk menetralisir perasaan masing-masing.


Lebih dari setengah jam perjalanan aku tetap bisu dan beberapa kali menyeka air mata yang mengalir tanpa disengaja.


“Kita lewat Padang Panjang saja ya, Sah.” Aku hanya mengangguk tanda setuju.


Zaid tidak mau buru-buru sampai ke rumah, dia ingin mengajakku berjalan-jalan menikmati masa pacaran kami yang baru dimulai.


Udara pegunungan disertai terpaan angin masuk melalui kaca mobil yang setengah terbuka, dinginnya merayap hingga ke tulang yang mengakibatkan tubuhku sedikit menggigil. Zaid segera menutup kaca dan menghidupkan pemanas agar suhu dalam mobil kembali normal.


Kami melewati tikungan serta jalan-jalan curam hingga akhirnya kami berhenti di kawasan Lembah Anai. Sebuah destinasi wisata Sumbar yang sangat eksotis, air tumpah dari ketinggian lebih kurang delapan puluh meter menghempas ke batu yang membentuk bendungan.


Pelangi mini terbentuk ketika bias air terjun ditempa sinar mentari yang menyeruak di sela perbukitan. Zaid mengajak turun dan menyuruhku memakai jaket, takut nanti aku membeku karena dinginnya udara dan air di sekitar objek wisata. Zaid menggandeng tangan dan membantuku menaiki jenjang yang sengaja dibuat untuk menuju titik spot yang indah untuk berfoto. Embun air membasahi muka dan tubuh kami yang berdiri lebih kurang lima meter dari tumpahan air terjun, beberapa kali kuseka dengan jilbab yang ternyata juga sudah basah.


Dingin kembali menjalari tubuhku yang mulai merapat ke badan Zaid, sayangnya dia tidak peduli dan terkesan tak acuh kepadaku. Dia bergerak sendiri mendekati curahan air yang menghempas bebatuan. Beberapa kali gawainya digunakan untuk swafoto tanpa ada aku sebagai objek fotonya, hanya dia dan air terjun.


Perasaanku jadi tidak enak dan merasa tidak nyaman berada di tempat sedingin ini, kebekuan ikut menjalari hati yang kian nelangsa. Aku meninggalkan Zaid yang masih asyik mengarahkan kameranya ke spot yang dia anggap bagus.


Ibu-ibu penjaja kacang rebus menawarkan dagangannya yang masih mengepulkan asap. Sebenarnya aku ingin sekali membeli untuk camilan menemaniku dan Zaid memandang curah air yang berbuih, sayangnya dompetku tertinggal di mobil, sedangkan Zaid berada agak jauh dari tempatku berdiri. Ingin aku memanggil dan meminta tapi urung kulakukan karena sikap Zaid membuat nafsu ngemilku hilang dari peredaran.


Beberapa warung kecil penjual oleh-oleh khas air terjun tersusun rapi di sepanjang area wisata. Kucoba menata hati yang gundah dengan melangkahkan kaki sambil menikmati udara yang tidak sedingin berada di pinggiran air terjun.


Beberapa ekor monyet duduk di pinggiran jalan menunggu diberi makanan atau sekadar menelisik bulu-bulunya yang basah. Aku sangat menikmati pemandangan alam yang sangat luar biasa, hingga aku dikejutkan suara Zaid yang memanggil-manggil namaku. Aku menoleh ke arah Zaid yang sedikit tergesa, di tangan kirinya ada tentengan kresek putih berisi kacang rebus. Senyumku mengembang, bukan karena Zaid mencariku, melainkan karena dia membawa kacang rebus kesukaanku.


“Kenapa kamu tinggalin aku sendiri?”


“Bukannya kamu yang ninggalin aku. Jelas-jelas aku kedinginan kamu malah menghindari aku dan berjalan sendirian, lupa kalau bawa istri atau malah malu?” Mulutku menyerocos menumpahkan kekesalan.


Zaid hanya tersenyum dan minta maaf, alam bawah sadar membuatnya menghindar karena lupa kalau aku istrinya. Aneh, hampir lima belas hari bersama kok bisa lupa sama istri sendiri, barangkali penyebab utamanya adalah karena semenjak menikah kami belum pernah bersentuhan. Prosesi-prosesi pernikahan secara adat menguras waktu dan tenaga, belum lagi aku kedatangan tamu bulanan sehingga Zaid belum sempat mendatangiku dalam keadaan sebaik-baiknya.

__ADS_1


“Nyet, kamu mau kacang rebus?” Zaid meninggalkanku dalam pikiran yang amburadul tanpa merasa bersalah, malahan dia mendekati dan memberi monyet yang sedari tadi mencari kutu anaknya segenggam kacang rebus.


Kesal dan marah mengubun melihat tingkah Zaid yang tak acuh, ternyata dia sengaja membeli kacang rebus untuk monyet, bukan untukku. Lebih baik aku menunggu di mobil, biar dia lebih leluasa bersama monyet, rutukku dalam hati.


Waktu dhuha hampir berlalu, daripada memikirkan Zaid lebih baik aku salat dhuha beberapa rakaat. Mataku tertuju pada musala kecil di pinggir jalan yang masih areal objek wisata Lembah Anai. Tempat berwudhunya lumayan bersih, airnya sama dingin dengan es. Kesegaran merasuk melalui kepala ke jiwa, ada ketenangan setelah berwudhu.


Kakiku melangkah masuk, dan ternyata Zaid sudah terlebih dahulu salat. Kenapa dia tidak mengingatkanku? Bukankah dia telah menjadi imamku dan bertanggung jawab terhadap akhiratku? Takut wudhu batal aku segera melaksanakan salat dhuha empat rakaat.


Aku terkejut saat salam terakhir Zaid sudah berada di sampingku dengan tatapan mesra dan mengulurkan tangannya, segera kuraih dan kucium hikmat. Tidak beberapa lama punggung tangannya menyentuh hidungku, malah dia tarik secara kasar lalu membuang muka dariku.


Zaid meninggalkanku sendiri lagi, secepatnya kulipat dan kutaruh mukena yang tadi kugunakan. Kucoba mengejar langkah Zaid yang memanjang dan cepat.


Jangan-jangan Zaid mau meninggalkanku? Pertanyaan-pertanyaan gila kembali mengacaukan emosiku yang kian merebak karena sikap Zaid yang mulai tidak aku sukai.


Kami kembali melanjutkan perjalanan dalam kebisuan, tak satu patah kata pun terucap meski sebenarnya banyak hal yang ingin kusampaikan, aku merasa Zaid tidak berlaku baik padaku.


Bukankah seorang suami harus menjadi pelindung dan selalu berusaha membahagiakan istrinya? Bukannya malah menyakitinya, setetes bening mengalir dari sudut mataku.


“Sah, kamu sedih ninggalin Ibu dan Abak?” Zaid menghapus air mataku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan tetap pada setir. Aku sangat bingung dengan sikap Zaid, terkadang romantis dan terkadang menyebalkan.


Mungkin inilah pelajaran pertama yang harus kuketahui sebagai seorang istri, yaitu sabar dan ikhlas. Berarti aku sedang berada di fase tiga bulan pertama pernikahan, yang kata orang ujiannya indah-indah, tapi kok aku beda?


Melintasi jalan By Pass menuju kawasan Perumnas Aia Pacah sedikit membuat mataku terkantuk, jalan yang lurus dan datar selepas fly over ke Bandara Minangkabau setidaknya membuatku seperti dalam ayunan, karena mobil yang kami kendarai melaju tanpa anggukan. Beberapa kali kepalaku terangguk ke depan dan samping karena tertidur, untung aku memakai seat belt sehingga benturan tidak sampai ke dashboard ataupun kaca mobil.


Rumah yang dibeli Zaid tipe tiga enam, tapi aku bersyukur karena kami sudah menempati rumah sendiri. Cat dindingnya violet dan ada taman bunga serta beberapa pohon besar yang tumbuh di samping. Tidak ada pagar besi melainkan pohon bonsai yang tertata menjadi sekat halaman rumah yang akan kami tempati dengan rumah tetangga.


“Selamat datang di rumah kita, Bidadariku.” Zaid mengembangkan tangannya dan mempersila-kan aku untuk duduk seperti seorang penerima tamu hotel.


“Assalammualaikum.”


“Waalaikumsalam, semoga Bidadariku betah dan nyaman di istana cinta kita.” Zaid mengedipkan sebelah matanya.


“Apaan sih.” Mukaku bersemu merah diperlakukan luar biasa oleh Zaid.


Jam tiga lewat empat puluh lima menit, azan berkumandang dari toa musala di ujung perumahan, berarti kami sampai di Padang sebelum ashar. Zaid izin mau salat jamaah sekalian mau cari makan untuk nanti malam, karena memang belum ada yang bisa dimasak walaupun perlengkapan memasak sudah lengkap di dapur.


Selesai salat ashar, aku tetap berada di ruang tamu karena Zaid belum memberitahukan di mana kamar kami. Karena kelelahan sehabis perjalanan jauh membuat aku didera rasa kantuk yang luar biasa, aku tertidur di sofa tamu, hingga azan magrib membangunkanku. Namun sampai saat ini Zaid belum pulang juga.

__ADS_1


Nyanyian keroncong mengalun syahdu dari perut yang mulai terasa kembung, karena memang dari siang belum ada yang berat masuk untuk diolah usus. Ba’da isya Zaid kembali membawa dua bungkus nasi padang yang masih hangat


“Ini nasi kapau Tek Mar loh, Sah, gulai tunjang nya terkenal di perumnas ini.”


Cepat kuambil piring dan tempat cuci tangan. Untung Zaid ingat untuk membeli air mineral, kalau tidak mau minum apa kami setelah makan, sedangkan aku belum merebus air karena ketiduran.


Kami duduk berhadapan, Zaid terlihat begitu menikmati makan malamnya dan meminta aku segera makan bersamanya.


“Ayo makan, nanti nasinya dingin.” Kemudian dia meminta maaf karena pulang terlambat, katanya dia tadi bertemu teman-teman jamaah musala yang sedang mengadakan rapat penyelenggaraan MTQ tingkat kelurahan, jadi tidak mungkin pulang lebih awal karena dia berada dalam struktur kepengurusan.


Selesai makan lanjut mencuci piring dan membersihkan meja. Aku teringat kalau belum sempat membereskan pakaian yang dibawa. Secangkir teh panas kubuatkan kusus untuk suami tercinta yang sedang duduk manis di depan televisi.


“Da, kamar kita yang mana ya?” Di rumah ini ada dua kamar, tapi aku tidak tahu yang mana kamar kami karena Zaid belum memberikan kunci dan menunjukkannya.


Zaid gelagapan mendengar pertanyaanku tentang kamar dan berusaha menenangkan diri, kemudian menyerahkan dua buah anak kunci.


“Kamarnya yang sebelah kanan.” Zaid terlihat aneh setelah menyerahkan kunci tersebut, dia gemetaran dan salah tingkah. Aku kan cuma minta kunci dan menunjukkan kamar kami.


“Sah, malam ini kamu tidur sendiri ya, aku tidur di kamar tamu saja. Capek,” hanya itu pesannya, kemudian berlalu dan hilang ditelan pintu kamar tamu yang tertutup.


Malam pertama seperti apa ini, bukan mengesankan tetapi mengherankan. Tidak pernah sedikit pun terlintas di pikiranku akan tidur sendiri di kamar pengantin tampa suami. Sepengetahuanku setiap pasangan pengantin baru pasti tidur di kamar yang sama, bukan malah pisah kamar. Kenapa Zaid tega, aku salah apa?


Ya sudahlah, mungkin Zaid capek atau sama malunya denganku, sehingga dia tidak berani sekamar denganku. Kami berdua memang belum pernah tidur sekamar setelah menjadi pasutri. Sebenarnya aku sendiri juga masih canggung berada dekat Zaid, apalagi untuk tidur berdua dalam satu ranjang meskipun lelaki itu adalah suamiku sendiri.


Klik, pintu kamar kubuka, semerbak aroma mawar masuk menyusup ke rongga pernapasan. Tas besar yang berisi pakaian kutaruh di lantai. Aku sangat bingung dengan keadaan yang sedang kulalui saat ini, sehingga membuatku malas memindahkan semua bawaan ke dalam lemari besar di samping ranjang.


Langkahku tidak berarah, sejenak mataku terpaku melihat kasur pengantin yang dipenuhi kelopak-kelopak mawar merah yang masih segar dan harum.


Ah, andai saja Zaid di sini bersamaku. Beribu pikiran melayang-layang indah di kepala. Hingga pertanyaan bodoh mengusik dan membuatku kembali nelangsa.


Kenapa Zaid enggan menemaniku? Mungkin-kah Zaid menikahiku karena dipaksa orang tuanya? Atau karena aku tidak semenarik wanita di luar sana yang tanpa hijab serta penuh polesan.


Aku hanya wanita desa dengan penampilan sederhana tanpa make up dan wewangian parfum. Sesaat kuperhatikan bayangan wajah dan seluruh tubuh yang dipantulkan kaca besar lemari yang tepat di samping ranjang. Tidak terlalu buruk, setidaknya aku bisa mengimbangi ketampanan Zaid meski hanya mukaku saja yang kelihatan. Atau memang Zaid tidak suka perempuan?


Nauzubillah. Astaghfirullahalazim, kenapa aku bisa berburuk sangka pada suamiku sendiri? Tidak mungkin Zaid menderita kelainan atau berasal dari golongan LGBT.


Zaid berasal dari keluarga baik-baik, pengertian, dan penuh cinta, dia dikelilingi orang-orang saleh, bahkan keseharian Zaid pun sangat islami. Begitu yang kulihat semenjak kami menikah. Mungkin Zaid memang capek dan tidak ingin merusak suasana malam pertama karena tenaganya kurang ekstra sehingga nanti gol pertama tidak mampu diciptakan sehingga harga dirinya jatuh di hadapanku.

__ADS_1


Memang beberapa hari sebelum pernikahan dia sering bolak-balik Padang-Sijunjung, menempuh ratusan kilo jalan dengan medan yang berat, jadi wajar saja dia lelah atau mungkin kasihan melihatku yang juga kecapekan sehingga dia ingin aku istirahat sendiri biar lebih nyaman. Kepalaku pusing menganalisa semua sangkaan hingga akhirnya aku tertidur dalam balutan tanya tanpa jawab. Ternyata malam ini bukan untukku.


__ADS_2