
niken mendengus kesal saat kakak iparnya dikuasai niko.
"ma, pa!" adu niken pada orang tuanya
"sayang nanti kamu akan mengalaminya, jadi jangan ganggu mereka dulu oke!" mama jihan menasehati niken agar lebih dewasa lagi
adel bukan hanya milik seseorang tapi lebih kepada kewajibannya mendahulukan suaminya
"benar kata mama mu ken, belajarlah dewasa lagi dalam segala hal. karena mungkin saja kami juga akan kehilanganmu karena diambil pria yang akan menikahimu kelak!" lanjut pak surya
suasana menjadi sendu di sore hari
sementara didalam kamar
"mas kenapa kita kekamar yang lain dibawah loh!" ucap adel tak enak dengan mertuanya
"mereka pasti paham, ayo tunaikan janjimu!" tagih niko tak sabar
"sabar dong mas, ini masih sore kan bisa tar malam sampe pagi deh, sekarang kita keluar dulu yuk" rayu adel
niko berfikir sejenak "oke kamu ada benarnya juga! janji ngga tidur sama niken!" niko memastikan dulu agar adel tak terbujuk rayuan adiknya
"diusahakan!" adel berjalan membuka pintu dan turun menemui keluarga niko
"maaf ma pa, tadi mas niko ngajakin beresin baju" ucap adel memberi alasan
"baju yang mana mba? yang berserakan dilantai" canda niken membuat pipi adel memerah
__ADS_1
malu rasanya dibahas didepan mertuanya yang baru dua hari itu
"niken!" niko keluar kamar menyusul istrinya dan benar saja saat ini adel sedang menjadi bahan sasaran
"cieee belain!" ejek niken
niko mendakati adiknya dan menyentil kening niken "auuu sakit kak! awas aja kalau sampai menyakiti mba adel ni rasakan!" ancam niken sambile mengepalkan tangannya keatas
"mas pak ferdi kemana?" adel baru ingat tadi diantarkan oleh ferdi yang sekarang entah kemana perginya
"kekantor lagi, banyak kerjaan menumpuk" jawab niko
kini orang tua niko sangat bahagia anaknya telah menikah, sedikit berkurang bebannya terhadap kakaknya yang meruapakan orang tua kandung niko
lega rasanya telah merestui keduanya, meski awalnya kehadiran adel tak diharapkan karena statusnya
dinikahi bosnya yang mampu memberikan uang bulanan sepuluh kali lipat dari gajihnya
masih membuat adel tak berhenti memikirkan pekerjaan
"kamu yakin masih mau kerja?" tanya niko
sedangkan yang lain sedang memperhatikan adel dan menunggu jawabannya
adel mengangguk mengiyakan ucapan niko
"baiklah aku tak akan melarang asalkan...." ucapan niko terpotong
__ADS_1
"aku akan melakukan kewajibanku sebagai istri menanti dan kakak, dan bekerja dengan baik dikantor" ucap adel
"tersarah kamu saja nak, kami hanya mendoakan dan mengarahkan saja, sisanya adalah keputusan kalian berdua" ucap mama jihan
yang mengambil keputusan untuk dirumah saja semenjak menikah dan terlebih ada niken yang harus dirawatnya saat itu
namun orang tua niko tak mau mengekang untuk urusan pribadi
"terima kasih ma, pa!" ucap adel senang
" bagaimana kalau malam ini mba adel tidur sama kita ma!" ide yang sangat niko takutkan
"terserah kalian, mama sih ayok saja!" jawab mama jihan
niken bersorak kesenangan "hore rumah makin ramai!" niken bak anak kecil yang dapat mainan baru
kehidupannya yang berkecukupan tak membuatnya selalu bahagia karena ada hati yang kosong disebabkan kesepian
"enak aja! ngga bisa kalau kakak keluar kota kalian baru boleh tidur bareng!" niko tak mengizinkan
rasanya janji adel masih terngiang ditelinga niko, mana mungkin bagitu saja melepaskan istrinya
adel hanya terdiam bingung dan bahagia. berbanding terbalik dengan kehidupannya selama ini
dia menjadi orang yang tak diinginkan dikeluarga dan kini mendapatkan keluarga yang sangat menyayanginya
setelah bercengkrama semua anggota keluarga makan malam bersama untuk pertama kalinya dirumah.
__ADS_1
setelahnya niko tak sabar mengajak istrinya kekamar