Janda Perawan

Janda Perawan
bab 8


__ADS_3

Aroma tubuh yang selama ini kurindu merasuki rongga pernapasan. Seketika perasaan damai menyertai pelukannya yang semakin erat.


Aku jengah dan berusaha menghindar, debaran jantung yang kian memburu membuat wajahku bersemu merah. Semakin aku meronta semakin kuat Zaid memelukku, bahkan saat ini posisi kami saling berhadapan. Hidung Zaid menempel di hidungku, satu kecupan hangan mendarat di kening, kemudian pipi, tidak berapa lama aku menikmati keindahan dalam sensasi tanpa batas yang dialun Zaid di beberapa tempat. Hingga akhirnya Zaid mendorong kasar tubuhku hingga terhempas ke sandaran sofa. Aku terhenyak dengan mata melotot.


Wajah Zaid berubah pucat, sedangkan tubuhnya gemetaran. Beberapa kali dia menutup wajah dengan telapak tangan.


“Maafkan aku, Sah.”


Aku tidak mampu menjawab, seketika air mata mengalir di pipi.


Kenapa Zaid begitu tega mendorong tubuhku di saat hasrat kami sama-sama membara? Seandainya saja Zaid tidak melakukan hal itu, mungkin pagi ini Zaid berhasil menyiram ladang yang telah lama kering untuk ditanami bibit cinta yang halal.


Beberapa kali embusan napas terdengar berat keluar dari hidung, air mata masih mengalir membasahi luka yang teramat dalam. Zaid menatapku sendu, mungkin dia merasa bersalah telah mendorongku keras hingga terhempas dan menangis. Tetapi bukan itu yang membuatku meneteskan air mata, harapan untuk mendapatkan hakku yang kembali pupus.


“Sah, aku tidak sengaja ...,” Zaid terbata-bata, kemudian mendekatiku untuk menghapus air yang meninggalkan jejak di pipi.


Zaid berusaha menenangkanku dalam pelukannya yang kemudian kutepis. Sandiwara seperti apa ini? Aku kehilangan rasa dari sebuah momen yang seharusnya kunikmati setiap detiknya.


Perlahan Zaid berdiri dan berjalan menuju kamar tamu yang selama ini ditempatinya, meninggalkanku sendiri dalam kebekuan.


“Uda mengila’ku?”

__ADS_1


Zaid menahan langkah dan menoleh ke arahku. Dia sangat terkejut mendengar pertanyaanku dengan suara yang lumayan nyaring.


“Tidak pernah, Sah.” Zaid berlalu.


Aku manusia yang memiliki perasaan dan hasrat, bukan manekin yang bisa diperlakukan semaunya. Tak berapa lama tendengar suara pintu dibuka, Zaid telah berpakaian rapi serta menenteng tas kantor. Dia harus masuk ke kantor hari ini, semalam dia memberitahuku kalau ada tamu yang ingin investasi di perusahaannya.


“Sah, uang belanja dalam laci meja rias kamu. Hari ini kamu aku ridai ke mana saja, asal tetap menjaga kehormatan suami.” Lalu Zaid diam dalam beberapa helaan napas. “Sah, maaf aku belum bisa memberimu nafkah batin. Maafkan aku, Sah.”


Ternyata dia baru menyadari kalau sikapnya tadi melukai jiwaku.


“Sah, mau beli apa aja silakan. Uda nggak akan marah.” Intonasinya begitu lembut, sampai kapan aku harus sabar menghadapi sikap suamiku yang tak menentu ini? Ya Allah, orang ini mungkin berkepribadian ganda, kadang baik, kadang cuek, kadang bisu bagai patung.


“Kalau kurang, Sah bisa pakai kartu ATM yang sudah Uda masukkan ke amplop belanja.”


Tiga bulan berlalu, malam ini aku tetap sendiri ditemani wangi mawar pengantin yang masih beraroma yang sengaja kutabur di sudut kamar. Berharap dan terus berharap melewati dan menikmati malam pertama nan indah berdua dengan Zaidku jiwa dan raga. Beban ini sangat berat, bahkan Dilan pun barangkali tidak akan sanggup menanggungnya, biar Hafsah yang nikmati kepedihan ini.


Pintu kamar terbuka.


“Permisi.” Wajah Zaid menyembul dan bergegas mendekatiku.


“Sayang ....” Dia duduk di samping tubuhku yang masih berbaring, perlahan dia membelai rambut kemudian pipiku.

__ADS_1


Aku melawan gejolak yang mulai meronta, takut kejadian seperti pagi kemarin terulang kembali. Atau memang Zaid telah siap mengambil haknya dariku.


“Sah, besok pagi mungkin Ibu ke sini dan menginap untuk beberapa hari.” Zaid tetap membelai rambutku, kemudian meraih tanganku ke dalam genggamannya.


Napasnya terdengar berat. Kedatangan Ibu berarti membuat dia harus tidur bersamaku di kamar ini selama tiga malam, aku yakin itu yang membuat dia terbebani.


Baguslah, kalau bisa seminggu atau dua minggu jadi aku bisa tidur dengan Zaid dan melepaskan semua rasa yang selama ini kupendam. Hatiku bersorak-sorai sekilas senyum dan sedikit anggukan.


Sengaja hari ini aku masak berbagai macam olahan ikan, karena ibu mertua memang menyukai serba ikan, mulai dari goreng ikan balado, asam padeh, dan pangek rinuak. Untuk camilan sengaja aku memesan sala lauak yang belum digoreng, agar nanti bisa disajikan panas-panas karena bisa digoreng sendiri di rumah. Sayurnya yang gampang-gampang saja lobak singgalang dikukus diberi taburan bawang goreng.


Sementara aku memasak, Zaid terlihat krasak-krusuk di kamar tamu dari pintu yang terbuka lebar. Dia merapikan barang-barangnya lalu memindahkan ke kamar kami yang saat ini hanya aku penghuninya. Aku senyum-senyum sendiri melihat Zaid bolak-balik ke kamar mengambil sesuatu yang terlupa.


“Kenapa senyum?” Zaid sekilas melihat kalau aku memperhatikannya sambil tersenyum, tak ada halangan yang membatasi dapur dengan kamar tamu yang sejajar.


“Nggak, lucu aja.”


“Lucu kenapa?” Zaid mengernyitkan kening dan aku menggeleng.


Mataku paling tidak tahan berhadapan dengan bawang merah. Baru saja kukupas, sengitnya langsung membuat aku mengeluarkan air mata, apalagi nanti setelah kuiris-iris, pasti bawang lebih membuatku menangis seperti sikap dengan Zaid.


Aku tersentak, dekapan erat datang dari belakang tubuh. Menoleh ke samping ada yang melekat sedikit basah. Zaid menciumiku dalam keadaan bau bawang. Ya Allah ....

__ADS_1


“Masih mau senyum?” Aku menggeleng, Zaid menghujani pipiku lebih sering dengan ciuman.


“Kamu cantik kalau sedang sibuk seperti ini, aku jadi ....” Zaid lebih mempererat pelukannya dan semakin nakal. Aku tetap diam sambil menikmati kemesraan yang baru pertama kali kurasakan walaupun tempatnya tidak tepat.


__ADS_2