Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Rumor


__ADS_3

Bunyi alarm membangunkan Siera dari tidur lelapnya. Gadis itu segera beranjak untuk mandi dan bersiap-siap berangkat bekerja.


Aroma harum lezat makanan sontak kembali tercium dan menuntunnya untuk segera menuju ruang makan, di sana sudah terlihat Nikolai sedang menata hidangan sarapan pagi di atas meja makan, walaupun pria itu sudah berpakaian rapih lengkap dengan jas yang ia kenakan.


"Доброе утро, дорогой," ucap Nikolai sambil tersenyum.


(Selamat pagi, Sayang)


"Hah, apaan?" Siera yang terlihat kebingungan dengan ucapan Nikolai hanya terdiam dengan mengerutkan keningnya. Raut wajah gadis itu sontak membuat Nikolai tertawa lalu mencubit hidung Siera dengan gemas.


"Artinya selamat pagi," jelasnya tanpa memberitahu arti dari kata terakhir.


"Oh ... gitu, gak usah aneh-aneh karena aku gak paham, yang ada kerjaan dua kali buat kamu yang harus terjemahkan."


"Ya gak apa-apa, anggap belajar sedikit demi sedikit sebelum kamu bertemu kedua orang tua aku di Moskow."


"Kau ini suka sekali membuatku tersedak ya?" Siera menatap sinis ke arah Nikolai, karena perkataan dia itu nyaris saja membuat dirinya tersedak saat meminum segelas air mineral.


Gadis itu langsung meraih serbet makan yang berada di atas pangkuannya lalu mengelap bibirnya perlahan.


"Kamu berangkat jam berapa? Kita bareng aja sekalian aku antar," tanya Nikolai.


"Gak usah, aku naik MRT aja. Lagi pula aku juga gak tau kantor kamu itu sejalan atau tidak dengan kantorku, takutnya aku malah menghambat kamu."


Ting! Tong!


Suara bel membuat pembicaraan ringan antara kedua anak manusia itu akhirnya terputus. Tak lama terdengar suara kode pintu terbuka di sertai langkah kaki yang kian mendekat.


"Selamat pagi, Bos! Jangan lupa meeting hari ini pukul sembilan tepat!" pekik Tomi yang seakan tengah mencari keberadaan dari atasannya tersebut. Pria yang sudah terbiasa dengan situasi yang ada itu tampak santai melenggang masuk dan berteriak seakan tak sedang berada di rumah orang yang memiliki kekuasaan jauh di atasnya.


Langkah kaki pria berkacamata itu akhirnya terhenti di ruang makan dengan tatapan tampak bingung akan situasi yang ada.


"Loh, Nona ini, kan!" Tomi tersentak sambil menunjuk ke arah Siera. Sungguh tak sedikit ia sangka, jika bos-nya yang terkenal dingin kepada para gadis dan memiliki sifat menyebalkan, ternyata sungguh-sungguh berniat membawa gadis yang ia selamatkan dari sebuah klub, bahkan kini tinggal satu atap dengannya.


"Tom, apakah akhir-akhir ini gajimu terlalu banyak?"


"Maaf, Bos!"


"Lalu mengapa kau main masuk seenaknya dan berteriak-teriak seperti di hutan?" tanya Nikolai yang seakan sedang menunjukkan sikap wibawanya. Namun, pandangan tersebut berbeda bagi Tomi yang bahkan merasa bulu kuduknya meremang karena Nikolai tak bersikap seperti biasanya.


"B-bos, kayaknya butuh di ruqiah deh," ucapnya asal ceplos yang sontak saja membuat Nikolai melotot ke arahnya.


"Ha-ha-ha ... aduh sorry, abis kau lucu banget." Siera tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah yang ditunjukan Tomi kala memandang Nikolai.


Gadis itu segera menelan makanan terakhir yang ia suap lalu meminum segelas air putih dan beranjak dari duduknya.


"Aku berangkat dulu ya!"


"Tunggu! Biar aku antar saja!" seru Nikolai.


"Gak usah, terima kasih banyak. Lagi pula kamu ada tamu, masa mau ditinggal. Bye!" Siera mempercepat langkah kakinya menuju pintu keluar dari unit tersebut. Tatapan tajam sontak saja Nikolai lemparkan kepada sang asisten yang tersenyum tanpa beban dan masih setia berdiri di tempatnya.


"Gajimu, aku potong 10%!" ancam Nikolai lalu pergi meninggalkan Tomi sendirian.


Pria berkacamata itu seketika beranjak dari tempatnya, mengikuti Nikolai yang sudah berjalan mendahului dirinya sambil berusaha bernegosiasi.


"Yah Bos, jangan begitu ngapa. Saya masih banyak cicilan!"


"Protes potongan menjadi 15%!"


***


Sementara itu setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya Siera sampai di gedung tempatnya bekerja yang berada di kawasan SCBD Jakarta. Gadis itu memasuki lobi hingga seseorang tampak menghampiri dirinya sambil setengah berteriak memanggil namanya.


"Siera!"


Deg!

__ADS_1


"Nuga, ngapain kamu di sini pagi-pagi?" Siera berusaha keras untuk tetap tenang, walaupun perasaannya sudah terasa campur aduk hanya dengan melihat sosok pria yang sebentar lagi menjadi iparnya.


Jantungnya berdegup kencang, membuat dirinya spontan mengepalkan kedua tangannya dengan erat


"Kamu kemana? Seharian aku mencari kamu, bahkan kamu sama sekali tidak dapat dihubungi," tanya Nuga dengan raut wajah khawatir.


Tatapan pria itu semakin membuat hati Siera bak tercabik-cabik. Siera menghela napasnya, berusaha untuk menahan air matanya yang terus mendesak untuk keluar.


"Aku mau kemana pun itu bukan urusanmu. Sudahlah, aku harus bekerja," seru Siera berusaha melepaskan diri dari situasi yang tak menyenangkan baginya.


Gadis itu kembali melangkahkan kakinya tetapi langkahnya tertahan karena Nuga yang tiba-tiba saja menggenggam lengan kanannya.


"Apa benar yang Ricky katakan jika sebelumnya kamu pulang memakai pakaian laki-laki. Apakah kamu kini pergi dengannya? Sadarlah Siera, tolong kembali sebelum kamu menyesalinya."


"Siapa kamu? Kamu itu cuman temanku saja, Nuga. Lalu aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan, ini pilihan hidupku jadi aku mohon agar kamu tidak perlu ikut campur."


Perkataan yang terlontar dari bibir gadis itu seketika membuat Nuga bungkam dan tak mampu menjawabnya. Dengan kasar Siera segera menepis genggaman tangan pria itu lalu pergi sejauh mungkin dari jangkauan Nuga.


Gemuruh di dalam dadanya terasa kian menyiksa batin, membuatnya terasa sesak dan ingin menumpahkan segala perasaan di hatinya.


Setelah sampai di lantai tempatnya bekerja, Siera memutuskan untuk pergi menuju toilet. Gadis itu mengeluarkan seluruh air mata yang sejak tadi terus memberontak di dalam bilik toilet yang sunyi dan sempit.


'Aku harus pergi ke Cambridge, aku harap setelah lulus kita bisa bertemu lagi.'


'Ya, aku janji. Aku juga akan coba beasiswa untuk sekolah kedokteran. Aku janji akan segera menemui kamu setelah lulus.'


Ingatan akan janji yang terucap via telepon beberapa tahun yang lalu tanpa sadar membuat luka hati Siera makin terasa perih. Siapa sangka cinta pertamanya sejak sekolah dasar seketika kandas sepulang dirinya dari menimba ilmu di negeri orang.


Bayangan masa lalu kian menggerogoti sanubari, membuat air matanya terus menetes tiada terhenti.


Siera meraih sapu tangan dari dalam tasnya, untuk menghilangkan jejak air mata yang membuat wajahnya basah.


Gadis itu berusaha keras untuk melupakan segalanya, berusaha untuk berdamai dengan keadaan yang tak adil untuknya.


"Gila ya di Siera, gak nyangka ternyata kelakuannya seperti itu!"


"Iya, gak nyangka yang selama ini jadi pendiam eh di luar ternyata liar seperti itu. Ih menjijikkan, udah berapa banyak lelaki yang tidur sama dia ha-ha-ha."


"Ha-ha-ha mungkin kalau sampai hamil, dia gak tau siapa bapak anaknya itu."


Brak!


Siera yang sudah tidak tahan dengan gosip aneh yang mencoret nama baiknya sontak langsung membuka pintu toilet dengan kasar. Wajahnya tampak merah padam, dengan napas yang kian memburu tanda gadis itu sudah terpancing emosi.


"Siapa yang kalian bilang menjijikan, hah?"


Tanpa berbasa basi, dengan murka Siera menarik rambut salah satu dari ketiga rekan kerjanya dengan sekuat tenaga. Membuat suasana menjadi kacau karena dirinya telah kehilangan kendali.


"Heh, kau sudah gila? Lepas Siera! Sakit!" seru Nuni, wanita uang rambutnya tengah ditarik dengan brutal oleh Siera.


Jeni dan Anita yang turut bergunjing bersama Nuni pun hanya terlihat panik dan gelagapan, seakan bingung jika harus berbuat apa dalam situasi kacau seperti itu.


"Kalau mau gosipin langsung di depan orangnya sekalian, gak usah di belakang!" teriak Siera murka, hingga suaranya terdengar jelas menggema hingga memenuhi seluruh ruang toilet tersebut.


"D-duh gimana nih, ki-kita ...." Anita yang gugup dan ketakutan langsung berlari keluar dari dalam toilet, lalu diikuti oleh Jeni yang seolah mengerti jika mereka takkan mampu melawan tenaga Siera yang besar.


"Lepasin! Emang kenyataan kalau lo itu perempuan rusak!" jerit Nuni sambil terus mencaci maki Siera. Tangannya berusaha melawan balik Siera hingga lengan Siera pun tak luput dari luka cakaran.


Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki dari luar, tak berselang lama pintu toilet pun terbuka oleh beberapa orang pria yang masuk lalu berusaha memisahkan Siera dan Nuni.


"Lepasin! Gue mesti kasih pelajaran mulut busuk si Nuni!" teriak Siera murka dan masih berusaha untuk lepas dari kekangan dua orang pria yang merupakan rekan kerjanya.


"Apa kata lo? Mulut busuk? Lo itu yang cewek gak bener, satu kantor juga tahu kelakuan lo!" teriak Nuni tak mau kalah.


Suasana semakin bertambah kacau, keduanya pun saling berteriak seakan tak ada yang mau mengalah. Siera yang terfokus akan perkataan Nuni pun sampai melupakan suatu hal yang penting, yaitu sumber masalah yang membuat dirinya digunjingkan seperti itu.


"Siera, Nuni! Ke ruangan saya!" Suara bariton pria paruh baya sontak membungkam mulut dua wanita yang tengah bersitegang.

__ADS_1


Dengan tatapan sinis, Siera pun pada akhirnya mengalah lalu mengikuti pria paruh baya yang merupakan seorang kepala divisi HRD di perusahaan tersebut.


Suasana ruangan terasa hening dan tegang, seakan menekan kedua wanita yang masih terus saja melemparkan tatapan tajamnya.


Pria paruh baya yang bernama Romi tersebut menghela napasnya berat, terlebih melihat Siera dan Nuni yang masih saya berperang lewat tatapan mata.


"Siera Aryana, Nuni Sulistiawaty dari divisi pengembangan. Kalian sadar gak atas apa yang sudah kalian lakukan hari ini?" tanya Romi seraya menekankan setiap perkataan yang ia ucapkan.


Siera hanya bungkam, dengan napas uang masih memburu menatap sinis ke arah Nuni.


"Dia duluan menyerang saya!" seru Nuni sambil menunjuk Siera.


"Siera, apakah benar perkataan Nuni?" tanya Romi kembali.


"Ya, Pak! Tapi ini karena Nuni dan kedua temannya berkata yang tidak-tidak tentang saya."


Tak ada perlawanan dari Siera. Gadis itu tak mengelak sedikitnya akan tuduhan yang dilontarkan kepadanya karena telah berbuat kasar pada Nuni. Namun, Siera pun tak berpasrah diri begitu saja. Gadis itu menceritakan semuanya, tanpa ada yang dikurangi ataupun dilebih-lebihkan.


"Saya sama sekali tidak mengerti, mengapa ada gosip seperti itu tentang saya. Apakah saya salah untuk membela diri saya sendiri? Ya memang sangat saya akui, jika pembuatan kasar saya ini tidak diperkenankan, tetapi itu hanyalah bentuk spontanitas diri saya untuk membela diri saya sendiri." Siera mengungkapkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya serta semua kesalahan yang baru saja ia lakukan.


Romi menyimak seluruh pernyataan dari kedua belah pihak dengan seksama, berusaha mencari titik temu dimana semua masalah itu berasal. Terlihat beberapa kali ia mengerutkan keningnya, berusaha mencerna seluruh perkataan yang dilontarkan oleh Siera ataupun Nuni.


"Nuni, saya tanya pada kau. Apa yang membuat kamu menuduh Siera seperti itu? Padahal saya perhatikan Siera tidak pernah membuat ulah sama sekali," tanya Romi sekali lagi kepada Nuni.


"Ada Videonya kok, Pak! Bapak mau lihat? Semalam Velly yang menyebar di grup chat!"


Perkataan Nuni sontak membulatkan kedua mata Siera. Gadis itu tidak menyangka jika asal muasal masalah bersumber dari Velly yang selama ini ia anggap sebagai teman baiknya.


Sementara itu Romi tampak serius melihat Video yang berputar di ponsel milik Nuni, yang merekam sebuah adegan saat Siera hendak dibawa oleh pria yang tidak lain adalah Bobby dalam keadaan setengah sadar.


"Benar, kan Pak? Dia ini sama saja sudah mencemarkan perusahaan dengan tingkah lakunya," cerca Nuni seakan gadis itu tidak puas sedikitpun untuk menjelek-jelekkan Siera.


"Ini dari Velly yang baru saja resign itu?"


"Iya, betul Pak!" jawab Nuni.


Deg!


"Velly resign?" tanya Siera menegaskan, wajah gadis itu terserah ketidakpercayaan. Bagaimana mungkin Velly mengajukan pengunduran diri tanpa sepengetahuan dirinya?


"Ya, dia sudah mengajukan sejak tiga bulan yang lalu. Hari ini kontrak kerjanya sudah habis dan dia tidak bekerja lagi," jawab Romi dengan tenang.


Siera semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui. Entah, sejak kapan Velly merencanakan semua ini, bahkan seluruh fitnah yang dilemparkan pada dirinya sungguh bertepatan dengan hari dimana wanita itu sudah tidak bekerja di perusahaan.


"Ini fitnah, ini semua tidak seperti yang kalian semua duga," ucap Siera dengan nada suara yang rendah dan gemetar.


Semua cobaan di dalam hidupnya terasa datang bertubi-tubi, membuat mentalnya kini berada di bawah ambang batas. Siera yang sedari tadi terlihat tangguh, seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, hati ya terasa sakit selama tercabik-cabik karena dikhianati oleh orang yang sudah ia percaya.


"Hah, mau berkelit apa lagi? Semua buktinya sudah ada kok, kau gak usah pura-pura polos lagi deh!" ejek Nuni dengan senyuman seringai yang tersungging pada wajahnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu seketika membuat suasana panas tersebut menjadi hening. Seorang wanita datang sambil tersenyum ramah dan berkata, "Maaf, Pak Romi. Tadi sekretaris CEO menyampaikan jika Bapak, Saudari Siera dan Nuni untuk segera menghadap ke ruangannya."


"Baik, Saya akan segera ke sana!"


Setelah wanita tersebut menutup pintu ruangannya sontak saja Romi menghela napasnya. Pria paruh baya itu memijat keningnya yang terasa berdenyut akibat perintah yang baru saja disampaikan oleh sekretarisnya.


"Hah, sepertinya ini semua akan semakin besar. Kalian berdua, ayo ikut saya!" serunya dengan raut wajah gelisah.


Sepanjang jalan Siera hanya diam dan menunduk. Reputasinya benar-benar hancur karena fitnah yang sudah dengan teha Velly sebarkan. Seakan sudah tak memiliki harapan serta tenaga lebih untuk membela diri, Siera pun tampak pasrah dengan apapun yang terjadi pada dirinya.


Setelah mereka sampai di lantai yang dituju, ketiganya pun berjalan di pandu oleh sekretaris CEO yang sudah menunggu mereka. Atmosfer lantai tersebut terasa kian mencekik, terlebih kala mereka sudah sampai di hadapan sebuah pintu yang seolah bagaikan gerbang neraka.


"Silahkan masuk," ucap sekretaris tersebut dengan ramah.


Dengan lunglai Siera mulai memasuki ruangan yang terasa dingin nan mencekam tersebut dengan kepala yang terus menunduk.

__ADS_1


"Siapa yang sudah mencari masalah dengan calon istri sahabatku?"


__ADS_2