Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 38


__ADS_3

Bayu merubah posisi duduknya. Kini Bayu duduk menyamping untuk saling berhadapan langsung dengan Nayla.


"Mas mau tanya sama kamu, tolong kamu jawab jujur ya Nay," tutur Bayu dengan tatapan serius, ia menatap langsung ke arah manik mata Nayla, hingga Nayla serasa tak bisa berkutik apalagi bertingkah.


"Hmmm iya, Nay akan jawab jujur, Mas mau tanya apa? Tapi tolong jangan liatin Nay dengan cara seperti itu Mas, Nay seperti merasa sedang di interogasi tau gak sih ihh," decit Nayla yang mengguncangkan tangan Bayu.


"Memang kamu sedang di interogasi Nay, memangnya kamu pikir sekarang kamu lagi di apain sama Mas?" Timpal Bayu dengan nada bicara layaknya seorang Dosen pada mahasiswinya.


"Iiihhhh mulai deh galaknya, amit-amit cabang Bayu, lagi aku tuh salah apa si Mas, selingkuh enggak, korupsi uang belanja juga belum, baru mau akan, tiba-tiba udah di interogasi aja, kaya udah maling apa gitu aku ini di sini, ampun deh," cerocos Nayla yang membuat Bayu memencingkan matanya.


"NAYLA!!" bentak Bayu pada akhirnya, saat mulut Nayla masih saja ingin nyerocos seperti petasan. Nayla yang dibentak segera menutup mulutnya rapat-rapat. Ada rasa sesak di dadanya karena suara bentakan Bayu padanya. Ini pertama kalinya ia di bentak oleh seseorang di dalam hidupnya.


"Iya maaf," ucap Nayla dengan menundukan kepalanya dan kedua telapak tangannya yang meremas kemeja baju yang ia kenakan. Ia berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari mata indahnya itu.


"Sekarang jawab habis Mas berangkat kerja, kamu antar Sultan ke sekolah tidak?" Tanya Bayu dengan nada tegasnya.


"Anter, Mas." Nayla menjawab dengan suara yang begitu pelan dan lemah.


"Terus kenapa sekarang masih ada di rumah?"


"Sultan tidur di jalan dan aku minta Pak Jono untuk pulang,"


"Ok Sultan tidur dan kamu minta Pak Jono pulang, nah sekarang Mas tanya, kenapa kamu gak kuliah?"


"Aku mau temenin Sultan tidur di rumah,"


"Untuk apa, kan sudah ada Suster Mirna?"


"Aku cuma mau deket sama anak aku, masa gak boleh Mas?"

__ADS_1


"Sultan itu anak aku bukan anak kamu, aku gak suka anak aku dijadikan bahan alasan dari rasa malas kamu untuk kuliah ya,"


Deg! Satu kalimat Bayu yang menusuk hati Nayla.


Bayu menghelan nafas panjangnya dengan berat, ia mencoba mengontrol emosinya saat ini. Ya. Memang benar Nayla malas untuk kuliah. Otaknya sudah lelah untuk berpikir. Sejak dulu ia ingin menikah muda, agar tidak melanjutkan lagi kuliahnya, makanya dia selalu menyeleksi kriteria pria yang akan menjadi pendamping hidupnya, agar ia bisa menikmati hidup sebagai ibu rumah tangga yang bahagia. Tapi takdir berkata lain, belum sempat ia menemukan pria yang sesuai dengan kriterianya. Ia sudah di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Ternyata Bayu pria yang dijodohkan orang tuanya malah tipe orang yang mengutamakan pendidikan. Sangat bertolak belakang dengan Nayla yang mengesampingkan pendidikan.


"Nay, sepertinya kita sudah bicara tentang hal ini berkali-kali, saat kamu minta cuti kuliah, berhenti kuliah dan lain sebagainya. Mas sudah tekan kan sama kamu, pendidikan nomor satu bagi Mas, dan kamu harus paham itu. Jangan jadikan Sultan alasan kamu tidak kuliah mulai hari ini dan seterusnya. Mas gak pernah membebankan kamu tentang pekerjaan rumah, apalagi dalam hal mengurus Sultan, dia sudah ada Suster Mirna dan kamu tidak perlu repot-repot mengurus keperluan Sultan. Mulai besok tidak ada alasan lagi tidak kuliah atau Mas akan pulangkan kamu kerumah orang tua kamu, jika kamu tidak mau menuruti apa kata suami mu ini," tegas Bayu panjang lebar dan Nayla hanya menunduk sambil mendengarkan.


Tanpa Bayu sadari, kata-kata Bayu kembali melukai perasaan Nayla. Tetes demi tetes air mata jatuh dari kelopak mata indah Nayla. Nayla menangis tanpa suara. Dia hanya diam saat untuk pertama kalinya suaminya itu marah besar padanya.


Melihat Nayla hanya diam dan menunduk tanpa menanggapi perkataannya, membuat Bayu bertambah jengkel. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia keluar dengan membanting pintu dengan kerasnya. Hingga Sultan yang tertidur kembali terbangun.


Nayla tak berani menghampiri Sultan yang menangis, ia dengan rasa tak tega membiarkan putra sambungnya itu menangis. Tak lama tangis itu reda, mungkin Suster Marni sudah berhasil memenangkan putra sambungnya itu.


Untuk beberapa saat Nayla hanya berdiam diri di sofa itu. Ia duduk bersandar menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang Nayla pikirkan. Tiba-tiba saja Nayla tersenyum getir kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tiga puluh menit Nayla menghabiskan waktu memanjakan dirinya di kamar mandi, setelah selesai mandi Nayla segera menghubungi Amel untuk menanyakan tugas dan mata kuliahnya yang tertinggal. Amel yang baik hati dan sangat rajin itu, selalu sudah mengerjakan tugas-tugas Nayla seperti biasanya tanpa harus diminta terlebih dahulu oleh Nayla.


"Udeh rebes semuanya, lo gak usah khawatir, besok lo ngampuskan?" Amel memastikan kedatangan sahabatnya itu esok hari, karena cukup banyak catatan yang akan ia bawa untuk sahabatnya itu.


"Ngampus gue daripada ga ngampus gue bisa mam.pus," jawab Nayla dengan nada kesal.


"Kenapeee lo neng?" tanya Amel dengan tawanya di seberang sana.


"Besok aja gue cerita, sekarang gue mau masak dulu ya buat anak dan suami gue, bye Amel ku," ucap Nayla yang mengajak Amel menyudahi sambungan telepon mereka.


"Oceh, gue tunggu lo besok di kantin ya, seperti biasa?"


"Sip Mel,"

__ADS_1


Setelah menyudahi panggilan teleponnya Nayla turun ke lantai dasar, ia sudah melihat Sultan dan Bayu sedang menikmati makan siang buatan Bi Darmi.


"Kok mereka gak nungguin gue sih?" batin Nayla yang merasa heran dan kecewa, anak dan suaminya tidak menunggunya terlebih dahulu.


Nayla menghampiri Sultan dan mencium pipi cubby anak sambungnya itu, kali ini Sultan kembali makan di bantu oleh Suster Marni.


"Anak Mami, kok gak nungguin Mami dulu makannya hum?" tanya Nayla pada Sultan seakan menyindir Bayu.


Saat Sultan ingin menjawab tiba-tiba saja Bayu melarangnya.


"Sultan, ingat Papi bilang apa? Tidak boleh makan sambil bicara," ucap Bayu pada putranya itu tanpa menatap Nayla ataupun Sultan. Ia lantas menyudahi makanannya begitu saja, padahal di dalam piringnya masih terlihat cukup banyak isinya. Tanda bahwa mereka belum lama memulai makan siangnya.


Nayla hanya bisa diam dan menatap punggung Bayu yang pergi meninggalkan ruang makan. Nayla tersenyum getir. "Ternyata ini sifat asli mu, dan ternyata seperti ini cara mu memperlakukan istri mu, baiklah jika itu mau mu Mas,"


Nayla duduk di kursi yang Bayu tempati tadi. Ia tidak memakan makan siang yang ada di hadapannya. Ia hanya memperhatikan Sultan yang dibantu Suster Marni menghabiskan makanannya.


Setelah melihat Sultan sudah menghabiskan makanannya, Nayla kembali menghubungi seseorang yang ternyata adalah Pak Parman, supir pribadi Ayahnya.


"Bisa gak Pak?" tanya Nayla pada Pak Parman, mengenai kesediaannya mengantar mobil pribadinya yang masih ada di rumah orang tuanya.


"Gimana ya Non?" Jawab Pak Parman yang terlihat bingung.


"Tengah malam juga gak apa-apa, gak usah di kunci mobilnya, taro aja kuncinya seperti biasa, gimana? soalnya kebutuhan ngampus Nay ada disitu semua," rayu Nayla pada Pak Parman yang akhirnya meluluhlan hati Pak parman.


"Oke deh Non, kalau tengah malam sepertinya Pae bisa." jawab Pak Parman pada akhirnya.


"Nah gitu dong, kalau gitukan kita tetap jadi CS-an hehehe."


"Hehehe...iya Non,"

__ADS_1


__ADS_2