
"Apa? Kak Linda sakit kanker otak?" Nayla sangat terkejut dengan penuturan Bayu.
Ia sampai membelalakkan kedua manik matanya dan memeluk erat Bianca di dalam gendongannya.
Tepat setelah makan malam. Di mana Nayla sedang sibuk menidurkan Bianca di kamar putri kecilnya ini. Bayu yang ikut menemani Nayla menidurkan Bianca. Akhir menceritakan kedatangan Bastian yang memberitahukan padanya tentang kondisi kesehatan Linda saat ini, setelah dipaksa oleh sang istri.
Bayu menceritakan mantan istrinya yang kini sedang menderita penyakit yang sangat mematikan, terlebih kanker yang diidap Linda sudah berada di stadium akhir.
"Iya Mih. Menurut penuturan Bastian sih begitu. Tapi Papi belum bisa meyakini kebenarannya. Papi takut ini hanya akal-akalan dia saja."
"Terus, kalau kedatangan Kak Bastian hanya memberikan kabar tetang Kak Linda. Kenapa Papi sesewot itu sama dia? Terus kenapa dia sampai sesedih itu juga keluar dari kediaman kita?" Cecar Nayla.
Jujur sejak kepulangan tadi, ia begitu sangat penasaran dengan penyebab kesedihan Bastian yang ia temui di pekarangan mantion.
"Papi usir dia." Jawab Bayu singkat tanpa rasa bersalah dan terkesan biasa saja.
Kembali kedua manik mata Nayla dibuat membulat sempurna. Nayla menghela nafasnya dengan sikap suaminya yang suka sekali mengusir orang yang tak suaminya sukai.
"Kenapa? Kenapa Papi usir dia? Apa alasan yang membuat Papi mengusirnya? Seharusnya Papi tidak bersikap seperti itu terhadap tamu yang datang baik-baik ke kediaman kita, Pih. Rasulullah SAW mengajarkan sebuah amal sederhana yang dapat mendatangkan rezeki dan meruntuhkan banyak dosa. Yakni memuliakan tamu, Pih. Dan yang Papi lakukan sama Kak Bastian, itu sama sekali tak dapat dibenarkan loh Pih."
Mendengar teguran yang berkesan seperti sebuah ceramah dari istrinya yang kadang lempeng, namun lebih banyak berkelok-keloknya ini. Bayu pun mendengus malas.
Ia yang sedang memeluk Nayla dari belakang, kini berpura-pura menguap, seakan-akan ia sudah mengantuk, demi menghindari ceramah dari istrinya yang sulit untuk di hentikan.
__ADS_1
"Papi tiba-tiba ngatuk nih Mih. Papi tidur duluan boleh ya Mih? Bye..."
Perlahan namun pasti Bayu mulai menjauhkan dirinya dari Nayla. Nayla yang sedang menimang-nimang Bianca, sadar jika Bayu mulai meninggalkannya. langsung saja membalikkan tubuhnya ke arah Bayu dan memanggil suaminya itu dengan suaranya yang melengking.
"Papi! Ihhh...Coba saja jika Papi berani keluar dari kamar Bianca, tanpa menanggapi pertanyaan Mami terlebih dahulu. Mami pastikan Papi akan puasa satu bulan ini. Melempem-melempem deh tuh." Panggil Nayla dengan ancamannya dan hinaannya.
Suara Nayla yang cukup keras membuat Bianca membuka matanya seketika dan menangis. Bayu menepuk keningnya saat ia mendengar istrinya memanggil dengan sebuah ancaman dan hinaan. Ditambah lagi tangis Bianca yang suda dapat dipastikan tidurnya malam ini bantet karena ulah sang istri.
Tak ingin mencari masalah dengan Nayla. Bayu kembali menghampiri istri beserta putri kecilnya. Saat sudah berada di dekat keduanya. Nayla seperti biasanya, ia akan memberikan putri kecilnya ini pada suami tercintanya.
Dua jam Bayu menggendong Bianca. Setelah Bianca benar-benar sudah tidur. Bayu menidurkan Bianca di tempat tidurnya. Kemudian menggendong Nayla yang sudah tertidur pulas ke kamar pribadi mereka.
Suster Marni yang berdiri menunggu keduanya kekuar dari kamar Bianca, dengan sigap membantu membukakan pintu kamar pribadi Tuan dan Nyonya-nya.
Usai membaringkan Nayla di ranjang. Bayu mulai gelisah, memikirkan permintaan Bastian demi kebaikan Linda.
Plak!!!
Nayla memukul mulut Bayu, yang bicara tanpa suara.
"Aduh! Ya Tuhan... Mami. Papi ini suami Mami tahu."
"Tahu kok. Siapa bilang Dosen Mami." Sahut Nayla.
__ADS_1
Ia menyalakan lampu temaram yang ada di samping ranjang tidurnya.
"Kamu tuh kalau dibilangin suami jawab terus."
"Kalau Mami gak jawab, nanti Papi bilang Mami gak punya mulut. Serba salah emang kalau mgomong sama Papi."
"Arghhhh... Terserah deh. Yang pasti Mami gak boleh enteng tangan mukul Papi terus. Gak sopan Mih."
"Maaf, Pih. Habis tangan Mami gatel liat mulut Papi komat-kamit baca mantra supaya Mami tetep betah sama Papi yang makin tuwir dan renta."
"Heh! Sembarang ya, biar tuwir begini Papi masih energik Mih." Sanggah Bayu tak terima.
"Hooh aja deh, Mami mah. Papi kenapa gak ikut tidur? Kalau gak tidur hayuk lah. Kita main dua ronde aja malam ini." Tanya Nayla degan tawaran yang biasanya tak pernah ditolak Bayu. Namun untuk kali ini Bayu menolaknya.
"Papi lagi banyak pikiran Mih. Nggak dulu deh, ini semua karena Bastian." Tolak Bayu dengan wajah lesu.
Meskipun di tolak Nayla tak sama sekali marah ataupun terhina dengan penolakan suaminya.
"Cerita dong sama Mami, Pih, segala sesuatu jika terus di pendam itu tidak baik, Pih. Maka dari itu Papi harus cerita sama Mami." Ucap Nayla sembari memeluk Bayu.
Bayu terus menatap kedua manik mata Nayla. Tiba-tiba saja Bayu menitikkan air matanya dan memeluk Nayla.
"Aku tak bisa kehilangan salah satu dari kalian. Apa pun alasan dan keadaannya. Tolong jangan paksa Papi, Mih." Ucap Bayu dengan suara terisak.
__ADS_1
Tanpa dijelaskan dan meminta penjelasan Nayla sudah tahu kearah mana pembicaraan suaminya.
"Besok kita pastikan kondisinya, baru kita bicara ulang ya sayang?" Ucap Nayla yang terus memcoba menenangkan tangis Bayu.