Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
Rencana Niko


__ADS_3

"Baiklah, kau menang!" Nikolai tampak pasrah setelah terbuai akan bujuk rayu Siera.


Senyuman lebar pun disungingkan oleh gadis itu, sambil berkata, "Nah, begitu dong! Kalau saja dari tadi Kau setuju, kan Kita gak perlu capek-capek berdebat sampai mulut berbusa."


"Tapi, Kau harus terus bersama denganku! Mengerti?"


"Iya paham, dasar bawel!" seru Siera sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Nikolai pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena hal tersebut adalah pertama kalinya dia mengalah pada seseorang.


Tanpa terasa waktu pun mulai berjalan, mentari yang cerah kini kian berangsur ke ufuk barat. Warna jingga kemerahan mendominasi hamparan cakrawala, disertai semilir angin yang terasa menyegarkan.


Siera menatap sebuah gaun yang baru saja diberikan oleh Nikolai. Gadis itu tersenyum seraya menggeleng melihat sebuah tiara berserta gaun yang cantik dan didominasi warna putih.


"Jadi, dia ingin Aku bersaing dengan pengantin wanita? Dasar pembuat onar!" gumam Siera mengartikan maksud Nikolai memberikannya gaun putih, untuk dikenakan dalam sebuah acara perjamuan pernikahan.


Siera segera mengenakan gaun tersebut setelah memoleskan riasan pada wajahnya. Lalu menyematkan sebuah tiara di atas kepalanya. Entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh Niko, pria itu hanya tersenyum setiap kali Siera bertanya. Siera menatap dirinya di hadapan cermin, kini penampilannya sudah nyaris menyerupai seorang pengantin.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kamarnya, sontak membuat Siera mengalihkan pandangannya. Ia pun mulai berjalan perlahan untuk membukakan pintu kamarnya.


"Niko?" tanya Siera sambil memicingkan matanya, saat melihat penampilan Nikolai yang juga turut menyerupai seorang pengantin pria.


Nikolai tersenyum lalu meraih tangan Siera lalu mengecupnya.


"Hamba menghadap Yang Mulia Putri Siera yang cantik," ucapnya.


"Dih, geli!" ucap Siera spontan sambil menarik tangannya. Ekspresi wajah Siera seketika membuat Nikolai tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya memerah.


"Kamu, kan mau memperkenalkan Aku. Jadi, Aku hanya menambah sedikit bumbu-bumbu penyedap saja," ujar Nikolai sambil tersenyum seringai.


"Terserah Kau saja lah!"


***

__ADS_1


Alunan musik romantis mengalun syahdu di sebuah ballroom yang terdapat pada sebuah hotel berbintang lima. Para tamu hendak mulai berdatangan walaupun sang pengantin belum memasuki aula tersebut.


Sementara itu sejak kejadian pagi pasca akad nikah, Nuga dan Siena tampak tak berbicara satu sama lainnya. Nuga cenderung mengabaikan Siena dan menghindar setiap kali istrinya mengajaknya berbicara.


Nuga selalu saja mengalihkan pandangannya dari Siena, karena wajah sang istri yang kembali mengingatkannya pada wajah wanita yang merupakan cinta pertamanya.


"Nuga, ayo! Ini sudah waktunya Kita masuk!" ucap Siena sambil menggandeng lengan suami. Namun, seketika Nuga menarik lengannya, sikap pria itu sontak saja mengejutkan Siena yang hanya bisa menatap punggung sang suami yang berjalan mendahului dirinya.


Bahu Siena diusap seseorang dari arah belakang, ia pun menoleh dan melihat Farida yang merupakan ibu dari Nuga.


"Sabar ya, Nak. Mungkin Nuga sedang kelelahan," ucapnya lembut berusaha menenangkan hati menantunya.


Siena pun tersenyum, tanpa tahu harus berkata apa lagi menanggapi sikap Nuga yang tiba-tiba saja berubah, bahkan di hari pernikahan mereka.


Suara tepuk tangan menyambut kedatangan sepasang pengantin yang mulai memasuki aula pesta. Walaupun banyak hal yang dipertanyakan oleh para tamu, tentang Nuga yang bahkan berjalan terlebih dahulu ke pelaminan tanpa menunggu Siena yang menyusul di belakangnya.


Namun, semua berusaha untuk diam dengan berbagai spekulasi yang berkecamuk di kepala mereka, hingga tiba-tiba mata mereka pun teralihkan pada dua orang orang tamu yang baru saja memasuki area perjamuan. Semua tampak terkejut, tak terkecuali sang pengantin pria yang sedari tadi memasang wajah masam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2