
Satu minggu sudah Bianca tinggal di Mansion Jimmy dan Endah. Bayu dan Nayla kesulitan mengambil putrinya sendiri. Jimmy yang awal mulanya keberatan dengan kehadiran Bianca di kediamannya, kini malah merasa senang dan sudah terbiasa dengan bayi berusia dua bulan itu.
Apalagi Bianca adalah anak yang sangat menggemaskan. Terlebih kedua anaknya yang terlihat senang dan suka sekali berceloteh memanggil Bianca dengan Actah. Tak kalah dengan Sultan yang sudah main pepet Almera putri Jessica dan Andre. Justin pun demikian. Ia sering sekali menciumi Bianca, dan saat Bianca diciumi Justin, Bianca akan tertawa ringang.
"Ndah balikin anak gue!" Seru Nayla di sambungan teleponnya. Sudah dua hari Nayla tidak diizinkan masuk ke dalam mansion Endah dan juga Jimmy. Kelakuan sepasang suami istri ini seperti sedang menculik putrinya.
"Ntar ah, gue blom bosen." Jawab Endah dengan entengnya.
"Ishhh... gue kangen sama anak gue. Parah lo ya! Jauhin anak dari ibunya." Seru Nayla lagi.
Saat ini memang Nayla sangat merindukan Bianca. Bayangkan saja mansion sebesar ini, ia memiliki dua anak tapi seperti tak memiliki anak satu pun. Ia benar-benar kesepian.
Sultan setelah pulang dari rumah Oppa dan Ommanya selalu pulang ke mansion Jessica dan Andre, yang berada tepat di sebelah Mansionnya. Ia baru kembali ketika mendekati waktu makan malam. Itu pun harus di susul oleh Suster Marni ataupun Pak Jono.
Jika Nayla yang menjemput, Sultan akan mulai berdrama minta menginap di mansion Jessica. Awalnya Nayla selalu mengizinkannya dan lama kelamaan Bayu tak menyukai kebiasaan buruk anaknya itu.
"Kalau kangen Video call-lah. Ribet amat." Jawab Endah cuek.
"Hah, gue kangen pengen gendong, pengen nyium, pengen meluk dan tidur bareng sama anak gue-lah Ndah... issshhh... jahat banget."
"Udah cium Papi-nya aja. Sama aja kan? Malah bagus langsung sama biangnya." Seloroh Endah yang masih tak ingin memberikan Bianca pada Nayla.
"Endah! gue bilangin mertua gue loh ya!" Ancam Nayla pada Endah.
__ADS_1
"Gih, silahkan! Asal lo tahu aja ya Nay, mertua lo hari ini habis dari Mansion gue sama Sultan dan curut-curutnya Jessica. Mereka gak keberatan tuh anak lo tinggal sama gue." Balas Endah sambil menahan tawanya.
Memang benar kedua mertua Nayla hari ini bertandang ke Mansion Endah, karena keduanya juga sangat merindukan cucu perempuan mereka. Kedua mertua Nayla mengetahui jika Bianca ada di kediaman Endah dari Sultan, cucunya. Mereka sama sekali tidak keberatan atau pun marah dengan hal ini. Mereka terlihat biasa-biasa saja. Malah berterima kasih pada Endah yang mau merawat cucu perempuan satu-satunya yang mereka miliki.
Kedua mertua Nayla sangat paham betul dengan kedekatan menantunya dengan anggota keluarga besar Adijaya dan keluarga besar Kusuma. Ada kebanggaan tersendiri keluarga mereka dekat dengan keluarga pengusaha nomor satu dan dua di dunia bisnis tanah air, namun demikian mereka pun berhati-hati. Pasti akan banyak yang tak menyukai kedekatan keluarganya dengan kedua keluarga besar tersebut.
"Apa?? Ishhh... gue marah sama lo, Ndah." Seru Nayla yang sudah kesal dan mulai merajuk.
"Ya gak apa-apa. Jangan lupa baikan ya! Kata nyokap gue, gak boleh berantem lebih dari dua hari apa tiga hari gitu." Sahut Endah yang kembali terkesan meledek Nayla.
Sepertinya era kejayaan Nayla telah tergulingkan dengan era kejayaan Endah saat ini. Nayla tak bisa berkutik jika berhadapan dengan Endah.
"Arghhh... aaaaa....aaaaa.." pekik Nayla sekuat tenaga. Hingga Endah menjauhkan ponselnya dari telinganya. Kemudian menutupnya dan tertawa lebar bersama Jimmy, sang Suami yang sejak tadi mendengarkan berdebatan istri dan rivalnya di sambungan telepon.
"Marah dia Mah?" Tanya Jimmy disela tawanya.
"Sana ke kamar mandi, pasti kamu udah ngompolkan!" Tebak Jimmy.
Endah tersenyum, memang benar ia sampai terkencing-kencing jika menertawakan Nayla. Saat Endah sudah pergi ke kamar mandi. Jimmy pun menghubungi Andre.
"Ndre, misi selesai. Kita menang lagi. Dia marah-marah dan kesal sekali tak biasa mengambil calon menantuku. Tinggal giliran mu. Ternyata membalaskan dendam kita tak perlu melalui tangan kita, tapi hanya cukup melalui tangan para istri kita." Ucap Jimmy pada Andre di sambungan teleponnya.
"Hahahaha... kau benar Jim. Tapi jangan sampai misi rahasia kita ini diketahui Kakak ipar kita itu. Dia itu musuh di dalam selimut. Tamat sudah kejahilan mu pada kami Naylul."
__ADS_1
"Iya tamat sudah kejahilannya. Kejar terus sampai dia kibarkan bendera putih tanda menyerah, seperti kita dahulu. Hahaha..." balas Jimmy.
Tanpa Jimmy sadari seorang bocah kecil yang sangat mencintai ibu sambungnya, tengah menguping pembicaraannya di sambungan telepon dengan Andre. Bocah kecil itu tak lain adalah Sultan. Ia hendak pamit pulang setelah puas bermain dengan sang adik dan tak menyangka mendengar pembicaraan antara Jimmy dan Andre di sambungan teleponnya.
"Oh, jadi Papa dan Daddy ingin membalas dendam pada Mami. Huummm... aku tak akan biarkan. Mamiku harus tetap berjaya." Ucap Sultan yang kembali ke kamar kedua anak Jimmy.
Sultan baru pamit pulang dan minta diantar ketika Endah datang ke kamar anak-anaknya.
"Mama, Sultan pulang dulu ya. Sampai besok, I Love you." Pamit Sultan yang kemudian mencium pipi Endah sebelum pulang.
"I love you to sayang, hati-hati ya. Sampai mansion kabarin Mama ya. Jangan buat Mama khawatir!" Balas Endah yang balik mencium pipi anak Bayu yang sangat tampan ini.
"Ok Mama," jawab Sultan yang kemudian pergi. Baru saja Sultan ingin keluar dari Mansion diantar oleh salah satu pengawal. Suster Marni bersama Pak Jono datang mengantar Asi untuk adiknya.
"Pak Madun, gak usah diantar Suster Marni dan Pak Jono sudah datang." Ucap Sultan pada Pengawal yang selama ini di sediakan keluarga Kusuma untuknya. Ya pengawal ini hanya untuk mengantar dan menjemput Sultan, saat ia ingin pulang pergi ke mansion anggota keluarga Kusuma dan Adijaya.
"Baik Tuan muda," jawab Madun yang kembali ingin masuk namun dihalangi oleh Pak Jono, karena Pak Jono merebut kantong Asi yang ada di tangan Suster Marni dan memberikannya pada Madun.
"Kami tidak bisa berlama-lama, Nyonya kami sedang dilanda kesedihan." Ucap Pak Jono pada Madun.
"Oh, begitu. Baiklah" ucap Madun saat menerima kantong Asi untuk Bianca.
Kini Sultam sudah berada di dalam mobil. Di dalam mobil Sultan terlibat pembicaraan tak biasa dengan Suster Marni dan juga Pak Jono.
__ADS_1
Pak Jono mencoba memberitahukan Sultan mengenai kondisi ibu sambungnya saat ini, yang merasa kesepian karena dirinya dan juga adiknya tak ada bersamanya. Sultan kecil yang diberi pengertian pun dapat mengerti dengan apa yang di sampaikan Pak jono. Apalagi dia mendengar langsung jika Papa dan Daddynya sedang melakukan misi balas dendam pada sang Mami.
"Mami, aku tak akan biarkan Mami bersedih dan kalah. Aku akan membantu Mami. Mami tak boleh bersedih." Gumam Sultan di dalam hatinya.