
"Mami tak akan memberikan anak Mami pada siapapun, sayang. Mami bicara seperti itu pada tante Linda hanya ingin tahu saja apa tante Linda tulus menginginkan kalian." Jawab Nayla sembari memeluk dan mengelus kepala plontos milik Sultan.
"Dia tidak tulus Mih, kelihatan sekali dari wajahnya sangar dan galak. Aku tidak mau tinggal bersamanya. Tapi Mih, memangnya siapa Tante Linda itu? Kenapa dia ingin mengambil aku dan Papi dari Mami?" Tanya Sultan yang ingin tahu siapa Linda sebenarnya dari mulut Nayla.
Sultan mendongak, ia kembali menatap wajah Nayla. Nayla menatap wajah putra sambungnya. Tak baik jika ia menyembunyikan kebenaran, ia khawatir sekali ia berbohong. Putra sambungnya tak akan lagi mempercayai dirinya. Walau bagaimana pun Sultan harus tahu siapa ibu kandungnya.
"Pih..." Panggil Nayla pada Bayu yang mulai memejamkan mata namun masih sayup-sayup mendengar pembicaraan istri dan putranya.
"Hemmm... Apa Mih?" Sahut Bayu yang enggan membuka matanya dan enggan pula menjelaskan tentang Linda pada putranya.
"Bagaimana ceritakan tidak?" Tanya Nayla lagi. Ia memukul kaki bayu yang menindih bagian pahanya.
"Katakanlah, dia berhak tahu. Tapi aku enggan menjelaskannya." Jawab Bayu yang kemudian membenarkan kembali posisi kakinya yang merosot karena di pukul Nayla tadi.
"Sultan sayang, Tante Linda itu sebenarnya ibu kandung Sultan. Ibu yang mengandung Sultan selama sembilan bulan lamanya di dalam kandungannya. Tante Linda itulah yang melahirkan Sultan ke dunia ini, sayang." Terang Nayla pada Sultan.
Nayla menatap wajah Sultan yang terlihat biasa saja, tidak terkejut malah terkesan datar dan dingin seperti wajah Bayu dahulu.
"Berarti benar yang di ucapkan Suster Marni dan Pak Jono Mih, kalau dia itu ibu kandung Sultan." Balas Sultan dengan wajah datarnya.
"Memangnya apa yang mereka bicarakan sayang?" Tanya Nayla yang merasa kecolongan.
Ya, dia merasa kecolongan karena tidak mengetahui kedua pekerjanya sudah membocorkan sesuatu yang harusnya Sultan tak mengetahuinya dari mulut mereka.
"Kemarin Tante itu bertemu dengan Suster Marni dan Pak Jono____" belum selesai Sultan bicara Nayla sudah memotongnya.
"Ketemu dimana?" Tanya Nayla lagi. Ia begitu penasaran dengan sepak terjang Linda.
__ADS_1
"Di sekolah, sudah seminggu ini Tante Linda menungguku belajar di kelas dan kemarin Tante Linda memaksa ku untuk ikut dengannya." Jawab Sultan yang membuat mata Nayla membola.
"Siapa yang mengizinkan dia masuk ke dalam kelas mu sayang?" Tanya Nayla lagi, ia menggali lebih dalam informasi dari putra sambungnya. Sedang Bayu dia sudah terlelap masuk ke alam mimpi dengan perutnya yang sudah kenyang.
"Miss Claudia Mih, Miss Claudia juga memperkenalkan Sultan dengan Tante itu. Malah Miss Claudia juga menyuruhku memanggil Tante itu dengan sebutan Mami. Tapi aku menolaknya. Karena Mami ku hanya satu, Mami Nayla, bukan yang lain." Jawab Sultan yang membuat Nayla mengeratkan gigi-giginya.
Marah. Tentu saja Nayla marah. Mendengar kelancangan guru Sultan yang ikut campur dengan urusan keluarganya. Nayla berusaha menahan emosinya saat ini. Dapat dipastikan malam ini ia tak akan bisa tidur dengan nyenyak.
"Suster Marni dan Pak Jono ketemu sama Tante itu, saat Tante itu dibantu Miss Claudia mau membawa ku pulang dengan mobilnya. Aku gak mau Mih, aku udah melawan, aku pukul, aku cubitin dia Mih. Tapi malah aku di pukulnya. Dia jahat Mih. Mami saja tidak pernah pukul aku meskipun aku nakal. Mami cuma teriak seriosa dan gak pernah pakai pukul-pukulan."
"Apa??" Kembali Nayla dibuat terkejut.
"Suster Marni dan Pak Jono kemana?" Tanya Nayla yang menanyakan kemana kedua pegawainya saat kejadian itu terjadi.
"Suster Marni ada Mih, Suster Marni teriak-teriak minta tolong Mih, panggil-panggil Pak Jono. Pak Jono datang dan langsung ambil aku dari Tante itu. Nih lihat Mih tangan aku luka, bukan karena aku garuk tapi dicakar Tante itu, saat Pak Jono berusaha tarik tubuh aku dari Tante itu." Tutur Sultan lagi.
"Sultan, kenapa kalian gak cerita hal ini sama Mami kemarin? Ini hal penting yang gak boleh disembunyikan sayang." Tanya Nayla yang menyayangkan ketiganya seakan menutup rapat kejadian ini.
"Ok, besok Mami akan ke sekolah ketemu dengan Miss Claudia."
"Tapi Miss Claudia hari ini gak masuk Mih, katanya masih sakit."
"Kalau gak ada Miss Claudia ada Miss Tari kan sayang,"
"Oh, iya-iya,"
"Ya udah sekarang bobo ya, malam ini kita bermalam di sini. Jangan lupa untuk berdoa sebelum tidur!"
__ADS_1
"Iya Mih," Sultan pun memanjatkan doa sebelum ia memejamkan matanya.
Saat mata Sultan ingin terpejam, tiba-tiba Nayla kembali bicara yang membuatnya kembali terjaga.
"Sultan dengarkan Mami sayang. Sultan boleh ketemu sama Tante Linda, karena Tante Linda itu ibu kandung Sultan. Sultan juga boleh panggil Tante Linda dengan sebutan Mami, ibu atau Mama. Mami tidak akan melarang Sultan memanggil Tante Linda dengan sebutan itu. Tapi kalau Sultan ingin pergi dengan Tante Linda, Sultan harus izin dengan Papi dulu ya, dan sampai kapan pun Sultan akan menjadi anak Mami, walaupun Sultan tidak lahir dari rahim Mami. Rasa sayang Mami sama Sultan tak akan pernah berubah. Mami sangat menyayangi Sultan." Tutur Nayla yang meneteskan air matanya.
Rasa takut kehilangan Sultan pun menghantui dirinya. Jika Linda memang hanya menginginkan uang. Maka ia akan sukarela memberikan uang dengan jumlah yang Linda mau, asal dia tak mengambil Sultan dari dirinya.
"Jangan menangis Mami! Sultan juga sangat sayang sama Mami. Sultan gak akan pergi kemana-mana. Mami jangan takut." Ucap Sultan yang mengetahui rasa takut yang Nayla rasakan kini.
"Sultan..." Panggil Nayla yang kemudian memeluk erat tubuh putra sambungnya.
"Mami..." Panggil Sultan yang membalas pelukan Nayla.
"Tidurlah sayang, Mami akan memeluk mu sepanjang malam ini. " ucap Nayla yang dibalas anggukan dan tetesan air mata dari Sultan.
"Mami, walau Mami dan Papi belum menceritakan semuanya. Aku sudah tahu semuanya dari Suster Marni. Tidak mudah bagi aku untuk menerima Tante itu menjadi ibu ku. Karena aku tahu betapa kejamnya dia pada ku dan Papi. Jika Mami tak datang di kehidupan kami. Pasti hidupku masih seperti yang dulu." Ucap Sultan di dalam hatinya.
Sultan merasakan tubuh Nayla yang terguncang saat memeluk tubuhnya. Sekuat apapun Nayla menghadapi Linda ataupun wanita lain yang ingin merebut Bayu tapi hatinya akan goyah saat seseorang ingin merebut anak yang ia sayangi seperti anak kandungnya sendiri.
"Aku memang tidak berhak atas Sultan. Karena aku hanya sekedar ibu sambungnya. Tapi aku tak akan sanggup menjalani hari-hari ku nanti, jika Sultan dibawa pergi oleh mantan istri Mas Bayu. Mengapa dia harus kembali ketika hati ku sudah terikat dengan Sultan, Tuhan? Akan aku berikan seluruh harta benda ku asal ia tak mengambil putra ku." Batin Nayla yang larut dalam kesedihannya.
Bayu yang merasa tubuh Nayla terguncang karena menangis pun akhirnya bangun dari tidurnya, karena ia belum terlalu terlelap dalam tidurnya.
Bayu menciumi kepala plontos istrinya dan berbisik.
"Ada apa hum? Kenapa menangis?" Bisik Bayu dengan suara begitu pelan hingga nyaris tak terdengar.
__ADS_1
Mampir juga ya kak