
Tepat pukul 18.30 Andre, Jimmy dan Leon kompak mendatangi kediaman Tuan Tama. Mereka nampak begitu segar dan juga bahagia. Lantaran misi tidur siang bersama istri mereka berhasil mereka laksanakan.
Ketiganya berjalan santai tanpa merasa curiga sedikitpun dengan tidak adanya seorang penjaga di depan pintu pagar kediaman kedua orang tua Bayu ini.
Mereka malah sibuk menceritakan pengalaman ranjang mereka hari ini satu sama lain. Mereka masuk ke dalam rumah kedua orang tua Bayu yang memang sudah sedikit terbuka.
Masih tanpa merasa curiga ketiganya dengan senyum sumringah memberi salam dan memanggil nama anak-anak mereka. Panggilan demi panggilan pun mereka suarakan, namun tak ada satupun anak-anak mereka muncul mendatangi mereka.
Ketiganya saling memandangi satu sama lain dengan perasaan campur aduk. Ketiganya pun langsung berlari berpencar mencari keberadaan anak-anak mereka.
Nihil. Tak satupun orang yang mereka temui di kediaman orang tua Bayu, apalagi anak-anak mereka.
"Mati kita Ndre," Leon mulai mengeluarkan mimik ketakutannya saat mereka kembali berkumpul ditempat yang sama.
Leon bukan hanya takut kehilangan kedua putranya, tapi juga takut dengan amukan sang istri yang biasa penurut itu, sebenarnya adalah singa yang begitu buas jika berkaitan dengan masalah kedua putranya.
Andre tidak merespon perkataan Leon. Ia malah melirik Jimmy yang nampak tenang walau ia sudah ketar-ketir jika anak-anak mereka diculik oleh lawan bisnis mereka.
"Jim, apa kita punya musuh?" Tanya Andre dengan tatapan yang sangat serius.
Dengan wajah datarnya, Jimmy pun menjawab. "Musuh kita banyak, tapi siapa yang berani main-main dengan kita Ndre." Jawab Jimmy ini seketika membuat Andre gusar. Ia sampai mengusap wajahnya dengan kasar karena frustrasi.
"Sial Arghhh..." Umpat Andre seraya menendang udara dengan kaki panjangnya.
Hanya karena ingin bobo siang bersama istrinya, ia hingga lalai seperti ini.
"HAI!! SEDANG APA KALIAN DI SINI?" Pekik Bayu yang baru saja tiba bersama Nayla.
Ketiganya seketika menoleh kearah Bayu dan juga Nayla yang berjalan santai menghampiri ketiganya.
__ADS_1
"Mati sudah mati saja ini." Gumam Leon sembari meringis.
Leon sudah dapat membayangkan bagaimana hiperbolanya Nayla nanti menyampaikan pada istrinya dan kedua adiknya, jika anak-anak mereka telah diculik.
Ketiganya diam, tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bayu. Mereka malah menatap Bayu dengan tatapan tak biasa. Ketiganya main mata, seakan meminta Bayu untuk menyuruh Nayla sedikit menjauh darinya. Bayu yang paham segera meminta Nayla untuk menyusul keberadaan kedua anaknya.
"Ada apa?" Tanya Bayu dengan suara pelan.
"Anak-anak kita sepertinya diculik, bersama kedua orang tuamu dan kemungkinan juga semua orang yang ada di rumah ini." Jawab Andre.
"APA?? KAU JANGAN BOHONGI AKU NDRE, BERCANDA MU SUNGGUH TIDAK LUCU." Sungut Bayu dengan keterkejutannya.
Belum sempat Andre menjelaskan pada Bayu yang nampak marah, terdengar teriakan dari Nayla yang begitu nyaring memanggil Bayu.
"PAPI ANAK KITA GAK ADA, MOMMY DAN DADDY JUGA!!" pekik Nayla yang kemudian berlari berhamburan dengan deraian air mata ke arah Bayu.
"Sepertinya mereka diculik Pih. Gimana ini?" tambah Nayla dengan nafas yang terengah-engah.
"Ini semua karena Papi, udah Mami bilangkan. Jemput aja anak-anak gak usah main titip-titip. Jadi kaya gini kan jadinya. Anak-anak aku hilang." Omel Nayla sembari memberitahukan teman-temannya jika kedua anaknya dan mertuanya menghilang.
"Mungkin mereka lagi pergi sama Mommy dan Daddy, Mih. Mami jangan main ambil kesimpulan mereka diculik." Ucap Bayu yang berusaha berpikir positif dan tidak mengiyakan perkataan Andre dan Nyala, jika anak-anaknya dan orang tuanya telah diculik.
"Pergi darimana sih Pih. Itu lihat! Kunci mobilnya Daddy masih utuh terjajar di dalam lemari, jalan-jalan darimana?" Nayla menunjukkan deretan kunci mobil yang tersimpan dilemari kaca.
Empat pasang mata hot Papa ini mengekori kemana tangan Nayla menunjukkan arah. Mereka membenarkan jika tidak mungkin Tuan Tama dan istrinya membawa pergi anak-anak mereka.
Saat ini Bayu malah mulai berpikir buruk dan menuduh Linda serta Bastian yang kemungkinan telah menculik anak dan kedua orang tuanya, karena hingga saat ini ia tidak memberikan izin pada Linda untuk bertemu apalagi mengasuh Sultan, putra mereka.
"Pasti dia." Tuduh Bayu yang segera keluar dari kediaman orang tuanya. Ia meninggalkan semua orang yang tengah dalam kebingungan mencari keberadaan anak-anak mereka.
__ADS_1
"Dia siapa yang Bayu maksud Ndre?" Tanya Leon pada adik iparnya.
"Tidak tahu," jawab Andre sembari menggerakkan kedua bahunya.
Di pekarangan rumah, saat Bayu belum sempat sampai ke mobilnya. Tiba-tiba ia melihat sebuah mobil yang ia kenali datang memasuki pekarangan rumah kedua orang tuanya.
Mobil yang datang kekediaman orang tua Bayu merupakan mobil dari pria yang pernah membuatnya terpuruk dimasa lalu. Ya, siapa lagi jika bukan Bastian. Langkah Bayu terhenti, ia menunggu sosok pria itu keluar dari mobilnya.
Bastian pun keluar dengan tampang sedikit berantakan. Begitu jelas terlihat jika pria tampan ini sudah tak terurus lagi oleh Linda.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini Tuan Bayu." Sapa Bastian dengan wajah letihnya.
Bayu yang semula menuduh Bastian dan Linda tiba-tiba saja meralat tuduhannya itu. Ia merasa tidak mungkin Bastian melakukannya dengan penampilannya saat ini.
"Ada perlu apa kau ke sini? Tidak cukupkah kita bicara waktu itu?" Tanya Bayu dengan suara ketus, ia sangat menunjukkan pada Bastian bahwa dirinya sangat tidak suka dengan kedatangannya
Mendengar pertanyaan Bayu, Bastian menarik senyum tipis terkesan di wajah letihnya.
"Keperluan ku hanya satu Tuan Bayu yang terhormat. Aku datang untuk memohon pada siapapun, agar mau mengabulkan permintaan terakhir istriku. Ia ingin sekali diberi kesempatan untuk mendekap putranya di sisa usianya yang mungkin tidak lama lagi." Jawab Bastian dengan suara yang begitu lirih.
"Aku tidak akan mengabulkan permintaan istri mu yang sangat terlambat itu. Kemana saja dia selama ini? Kenapa baru sekarang dia datang dan mengemis ingin mendekap putranya, ketika penyakit mematikan itu menggerogoti tubuhnya? Sementara dahulu dia malah berniat menculik anaknya sendiri demi obsesinya untuk kembali pada ku." Balas Bayu dengan penuh emosi.
Nayla segera mendekati Bayu dan memeluk lengan suaminya itu, berusaha meredam amarah suaminya yang mungkin akan segera meledak.
"Semua orang dapat berubah Tuan Bayu. Tolong singkirkan masa lalu yang kelam itu. Kami mengakui kami salah. Tolong sekali saja, beri istriku kesempatan. Aku akan melakukan apapun syarat yang kau berikan, jika kau mau mengabulkan permintaan istri ku, Tuan Bayu?" Lanjut Bastian dengan bola mata yang berkaca-kaca. Kemudian berlutut memohon pada Bayu.
Ketiga pria yang tengah cemas mencari keberadaan anak-anak mereka pun kini berdiri terpaku menyaksikan permohonan Bastian yang terkesan mengemis iba pada Bayu.
"Pih," Nayla memanggil suaminya sembari menarik-narik lengan Bayu.
__ADS_1
Bayu menoleh dan menatap tajam wajah istrinya yang juga tengah menatap tajam dirinya.
"Apa?" Tanya Bayu dengan suara tak bersahabat.