Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 149


__ADS_3

"Mel, kata nyokap gue, anak bayi itu bakal diam kalau perutnya kenyang." Seru Nayla pada Amel yang sedamg menimang-nimang Jovanny anak perempuan Endah dan Jimmy.


"Terus? Mau lo kasih makan nih dua bocah? Belum boleh Paul." Tanggap Amel yang terus bergoyang ke kanan dan ke kiri, karena jika dia berhenti sedikit saja Jovanny yang biasa di panggil Vanny akan menangis meraung-raung hingga suaranya serak hampir tak bersuara seperti sebuah boneka menangis yang kehabisan batrai.


"Hahaha... ya gak dikasih makan juga dong ah si Nyai nih gimana." Nayla dengan sengaja menepuk lengan Amel yang sudah pegal, karena sejak tadi menggendong Vanny yang bobot tubuhnya lumayan berat. Alhasil mata Amel membola sempurna dan Nayla hanya cengqr-cengir tidak jelas.


"Lo bisa gak, kalau punya ide tuh langsung ngomong aja gitu. Gak usah pakai basa-basi kebanyakan cincau tau nggak?" Omel Amel dengan menahan suaranya yang ingin sekali teriak dan mengibarkan bendera putih, tanda ia sudah menyerah menjaga putri Endah dan Jimmy ini.


"Pahit dong Mel?"


"Sejak kapan cincau rasanya pahit? Haduh... ada ya istri dosen kebangetan pinter kaya gini. Ya Allah nyesel banget gue punya sahabat kaya lo, Nay. Tangan gue udah pegel banget ini. Masih harus nanggapin kepintaran lo yang super parah." Keluh Amel yang berharap Nayla mengerti.


Nayla ya memang Nayla bukannya langsung mengutarakan ide baiknya, untuk menolong Amel. Nayla malah tertawa cukup lama melihat ekpresi putus asa Amel untuk terbebas dari menimang-nimang Jovanny dan kepura-puraan dia yang melewati batas.


"Ketawa lagi. Ya Allah, harus punya tabungan sabar ini punya adik ipar kaya lo Nay." Keluh Amel lagi saat ia mendapati Nayla yang menertawakan dirinya.


"Muka lo kocak Mel, bikin gue pengen ketawa. Ketawa dulu ya biar puas baru gue kasih tahu."


"Terserah dah apa kata lo. Kalau gue sampai pingsan, gue jatoh bareng sama si Vanny habis lo nanti dijadiin kornet sama pasangan kiler itu " Ucap Amel yang sudah pasrah tapi ia juga mulai menakut-nakuti Nayla.


"Lo gak selemah itu Mel. Gak bakal lo pingsan. By the way kalau anak lo nanti sama Kak Hendra macam si Vanny ini gimana ya? Lo bakal mati berdiri gak sih gendongin anak lo pagi siang malam hahaha..." seru Nayla yang sudah membayangkan biduk rumah tangga Amel bersama kakak tercintanya.


"Sebelum gue ngalamin apa yang lo bilang, lo dulu yang ngerasain. Inget calon anak lo itu cewek Nyonya Bayu. Hahaha.... lo yang bakal mati berdiri duluan sebelum gue, terus laki lo yang bucin ikut mati bunuh diri karena gak bisa hidup tanpa lo hahaha...." balas Amel dengan tawanya yang besar. Seketika itu juga kedua anak Endah dan Jimmy yang sudah tenang tidur terbangun karena suara tawa Amel yang menggelegar.

__ADS_1


"Mel, gilingan lo ya. Bangun nih mereka jadinya." Seru Nayla dengan wajah paniknya.


"Indung-indung lagi lah," sahut Amel yang kembali menimang-nimang Vanny ke kanan dan ke kiri dengan mulutnya yang tak berhenti bernyanyi lagu nina bobo.


Kini keduanya kompak menimang-nimang kedua anak Endah dan Jimmy itu hingga kembali tertidur dengan tenang. Setelah melihat kedua anak Jimmy dan Endah tertidur. Nayla membisikkan sesuatu pada Amel.


"Mel, lo buatin susu formula buat nih duo bocil rada kentelan dikit biar kenyang. Si Vanny biar gue gendong. Kata nyokap gue, bau ibu hamil disenengin sama para bayi, dia gak bakalan nangis kalau cuma di tinggal bentar. Tapi Lo jangan lama-lama ya, gendong dua bocil ribet dan pegel juga, lo tahu lah gue masih bawa gendang nih." Bisik Nayla sembari menunjuk ke arah perutnya yang buat Amel manggut-manggut.


"Jadi ini ide yang lo mau lo omongin sama gue tadi?" Tanya Amel dengan melirik Nayla yang berada di sampingnya.


"Hooh, top kan?" jawab Nayla singkat.


"Kuylah... gue buat. Kemana tuh dua susternya nih bocil?" Seru Amel yang mengarahkan Nayla agar cepat duduk kembali di sofa tempat semula mereka duduk, sebelum Endah dan Jimmy merebut kemerdekaan mereka.


"Di paviliun belakang lagi ngerujak sama Bi Darmi dan Suster Marni." Jawab Nayla sembari mencari posisi duduk yang pas di sebuah sofa single, kedua tangannya ia sandarkan di kedua sandaran sofa dan Amel meletakkan Vanni di tangan kiri Nayla.


"Suster, dimana botol susu dan susu untuk kedua anak majikan kalian Sus?" Tanya Amel pada kedua suster itu.


"Ini Nona, kami bawa ke sini. Maaf." Jawab Suster Tini sembari menyodorkan sebuah tas yang berisi perlengkapan susu untuk kedua anak Endah dan Jimmy.


"Nona mau buat susu?" Tanya Suster Tini pada Amel.


"Iya, saya mau buat susu untuk kedua bocil itu. Kalian tetaplah di sini. Nikmati waktu bersantai kalian ya." Jawab Amel yang tak tega jika harus mengganggu kesenangan kedua suster itu bersama Bi Darimi dan Suster Marni.

__ADS_1


Setelah menerima tas itu, Amel segera kembali menghampiri Nayla yang ternyata sudah tertidur dengan pulas sembari menggendong dua bayi Endah.


"Dasar ceroboh. Bisa mati di tempat kalau ini anak dua kenapa-kenapa." Ucap Amel yang kemudian mengambil Vanni terlebih dahulu dan memindahkannya ke stroller, setelah itu giliran Justin.


Amel segera membawa kedua anak Endah yang sudah siap menarik nafas untuk memecahkan tangis mereka yang meraung-raung ke dapur. Ia membuat susu dengan kedua tangannya sedang satu kakinya memundur majukan stroller kedua bayi kembar itu.


"Seribet ini ya Allah punya bayi kembar. Pantesan Jessica gak mau keluar-keluar, termyata seribet ini." Gumam Amel sembari membuatkan susu formula yang sedikit lebih kental, seperti apa yang dikatakan Nayla.


Setelah membuatkan susu untuk kedua anak Endah dan Jimmy. Amel segera memberikannya pada Justin dan juga Vanny. Kedua bayi labgsung saja menerima botol pemberian Amel dan mengisapnya dengan begitu cepatnya.


"Habisin ya, anak pintar." Ucap Amel pada kedua bayi itu.


Ketika Amel sedang asyik memberi susu pada kedua anak Endah dan Jimmy di dapur. Di ruang keluarga tiba-tiba Sultan yang baru pulang dari mansion Jessica datang menghampiri Nayla.


"Mami sayang, bangun Mih! Kenapa bobo di sini? Nanti badannya sakit kalau bobo di sofa." Ucap Sultan saat ia berusaha membangunkan Nayla.


"Ummmppp.... Sultan anak Mami, habis ngapelin ayang ya?" Sahut Nayla sembari merenggangkan ototnya yang sedikit kaku.


"Iya Mami. Kata Mommy Jessica, Justin dan Vanny ada di sini. Apa benar Mami?" Tanya Sultan saat tubuhnya di peluk posesif oleh Nayla.


"Iya, sayang mereka ada di sini. Sekarang lagi Mami gendong." Jawab Nayla yang belum sepenuhnya sadar jika kedua anak Endah dan Jimmy tidak ada bersamanya.


"Mami, bangun ihhh... Mami lagi ngelindur ya? Mami lagi peluk aku, bukan lagi gendong Justin dan Vanny." Seru Sultan yang membuat Nayla membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat ke sekeliling ruangan tak ada kedua sosok anak Endah dan Jimmy.

__ADS_1


"Nah loh... noh la... ilang..." cicit Nayla yang terkejut, ia baru sadar telah kehilangan kedua anak Endah dan Jimmy.


"Mati nih gue. Haduuh tamat riwayat gue nih..." keluh Nayla sembari menggaruk kepalanya yg tak gatal.


__ADS_2