Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 50


__ADS_3

Hendra yang kembali masuk ke ruang rawat Nayla setelah Silvi istrinya itu tidur di sofa. Begitu tercengang melihat penampilan Amel.


"Amel, astaga, kesambet tuyul mana kamu bisa jadi begini?" Tanya Hendra yang mendekati Amel dan mengelus kepala Amel.


"Diem ah Mas, jangan pegang-pegang kalau gak mau memiliki!" Sindir Amel yang menjauhkan tangan Hendra dari kepalanya.


Hendra mengambil kursi yang ada di dekat ranjang Nayla. Ia duduk menatap dalam manik mata Amel yang berusaha menghindar dari tatapan Hendra padanya.


"Bukan Mas yang gak mau memiliki kamu, tapi keadaan yang membuat Mas harus meninggalkan kamu sementara waktu," ucap Hendra yang juga didengar oleh Bayu.


Bayu kembali menjadi penonton serial drama kisah cinta anak manusia secara live saat ini. Ia begitu penasaran dengan hubungan antara Kakak iparnya itu dengan sahabat istrinya.


"Ada hubungan apa sebenarnya antara Amel dan Hendra? Kenapa mereka bicara seakan-akanmereka menjalin sebuah hubungan?" Tanya Bayu di dalam hatinya. Ia menaruh curiga dengan keduanya setelah mendengar ucapan Hendra barusan.


"Jangan mulai kalian! Ada mbak Silvi disini. Mas Hendra harus bisa berdamai sama masa lalu dong. Lo juga Mel. Sekarang Mas Hendra sudah punya mbak Silvi dan sebentar lagi punya anak. Jangan gila kalian berdua, ya!" Ucap Nayla yang berusaha mengingatkan.


"Gue gak gila Nay, masih waras walau satu persen, sembilan puluh sembilan lagi kewarasan gue hilang begitu aja sejak dia nikah tiba-tiba sama istrinya itu. Nih liatin nih! Dia tuh yang ngeliatin dan deketin gue terus," sahut Amel yang menunjuk Hendra dengan jemarinya.


"Mas gak deketin kamu, tapi kamu yang datang dihadapan Mas," balas Hendra masih menatap wajah Amel.


"Aku datang buat Nayla ya Mas, bukan buat kamu. Hubungan kita emang udah berakhir tapi enggak dengan persahabatan aku sama Nayla, adik kamu," timpal Amel kesal.


"Sama saja, Nayla dan aku itu satu, makanya jangan bersahabat terus sama adik aku, Mel." balas Hendra.


"Jelas berbeda Mas, Nayla perempuan dan kamu laki-laki. Jangan suka ngelarang-larang, gak usah ngusir-ngusir aku dari Nayla. Udah ih sana pergi, ntar istrinya dengar marah. Tamat riwayat mu, Mas."

__ADS_1


"Biar, kenapa harus tamat? Dia harus tahu sebelum dia datang di kehidupan Mas, sudah ada kamu di sini," ungkap Hendra yang menunjuk dadanya.


"Nayla, Mas lo gak waras nih," ucap Amel yang meremas tangan Nayla, seakan meminta pertolongannya.


"Mas, udah bisa gak sih! Nayla baru habis di operasi kepalanya nih, kenapa harus di suguhin cinta segitiga kalian yang gak kelar-kelar?" Ujar Nayla pada Hendra dengan lirikan tajamnya.


"Jangan menikah dengan siapapun Mel! Tunggu aku!" Pinta Hendra yang membuat Nayla dan Amel melotot padanya.


"Males, mau yang perjaka, gak mau yang bekas dan gak mau dijadiin madu juga," jawab Amel yang menatap tajam Hendra.


"Mas Hendra mau bercerai sama Mbak Silvi?" Tanya Nayla dengan tatapan mata yang serius.


"Nggak, gak akan ada perceraian. Haram kaki Mas melangkah ke pengadilan hanya karena sebuah perceraian. Kamu tenang saka ada saatnya dia akan pergi dan tak akan kembali, kita hanya sedang menunggu," jawab Mas Hendra dengan kalimat yang ambigu.


"Apa sih gak jelas banget? Kenapa sih selalu gak jelas deh kalau ngomong tuh? Omongan yang kaya gini tuh mengombang-ambing perasaan orang lain tau." Sahut Amel yang kesal karena tak mengerti maksud perkataan Hendra.


"Selesaikan kisah superhero Lo dulu Bro! Baru gue izinin kembali sama adik sepupu gue," Ucap Neil saat menjauhkan tubuh Hendra dari Amel.


Lagi-lagi Amel dan Nayla di buat bertanya-tanya dengan Hendra. Saat mendengar ucapan Neil, kakak sepupunya Amel.


"Sebenarnya ada apa nih? Kok gue jadi kaya orang bodoh sekarang, gak tahu apa-apa," batin Amel dan Nayla yang mengatakan hal yang sama.


"Ayo Mel, sudah malam, kita harus pulang! Nayla juga harus istirahat demi mempercepat masa penyembuhannya." Ajak Neil pada Amel.


Sebelum keduanya pergi Nayla mengucapkan rasa terimakasihnya pada Neil yang membantunya, membawanya kerumah sakit pada malam itu.

__ADS_1


"Dokter gabut, makasih atas bantuannya ya. Gue berhutang nyawa sama Lo, Neil Amstrong made in Nayla. Gue gak tak harus balas apa atas kebaikan Lo sama gue. Lo emang selalu jadi dewa penolong gue, Neil" ucap Nayla dengan wajah berbinar menatap Neil.


"Balas pakai cinta, bisa gak lo? Kalau gak bisa. Gak usah balas pakai apa-apa." Jawab Neil dengan suara datarnya. Kemudian pergi berlalu dengan satu tangannya menarik lengan Amel. Nayla hanya terperangah mendengar jawaban Neil.


"Kok dia ngomong begitu sih. Apa jangan-jangan Bang Neil, suka sama gue ya? Please gue harap enggak. Duh dia ngomong begini ada suami gue lagi, bertaring dah nih dia. OMG!!! Gila nih gue gila kalau dia berdua ribut. Bukan cepat sembuh nih gue. Cepat mati iya. Tadi kakak lak nat sama sahabat kecetilan gue. Sekarang si Dokter Gabut sama laki gue, hadeeh...." Batin Naila.


Dan benar saja dugaan Nayla, suaminya yang berada di sudut ruangan, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar dan penonton mereka. Mendengar ucapan Neil membuat hatinya panas. Seketika ia berdiri dan menjatuhkan laptopnya yang masih menyala begitu saja.


PRANKKK!!! [Suara Laptop terjatuh dan rusak].


Bayu melangkah menyusul keberadaan Neil, ia menghentikan langkah Neil dengan cara menarik pergelangan tangan Amel.


Langkah Amel yang terhenti, sontak membuat langkah Neil pun terhenti. Neil menoleh ke belakang untuk mengetahui penyebab apa yang membuat sepupunya itu tak meneruskan langkahnya. Ia terkejut melihat ada Bayu disana dengan wajah yang sudah babak belur. Dia sudah tahu hasil maha karya siapa di wajah pria yang berdiri dihadapannya kini.


Sadar, jika kata-katanya barusan menyinggung pria yang kini berhadapan dengannya. Neil berusaha bersikap tenang.


"Apa maksud kata-kata Anda pada istri saya tadi, Dokter Neil?" Tanya Bayu dengan tatapan tak bersahabat pada Neil.


Jujur Amel yang berdiri diantara mereka saat ini sangat merasa takut jika mereka akan berkelahi nantinya. Tatapan mata Amel celangak-celinguk tak karuan karena rasa takutnya, sedang Hendra tetap berdiri di samping ranjang adiknya.


"Tidak ada maksud apa-apa. Lupakan saja! Anggap saja saya tidak pernah mengucapkan apa-apa dan Anda tidak mendengar apapun yang saya ucapkan Tuan," jawab Neil dengan wajah datarnya.


"Tidak bisa seperti itu Dokter Neil. Kata-kata yang sudah Anda ucapkan tak bisa Anda tarik kembali. Apa Anda punya perasaan lebih pada istri saya?" Tanya Bayu dengan memincingkan matanya.


"Jika iya, apa Anda akan melepasnya?" Jawab Neil tanpa ragu-ragu. Sudah saatnya Nayla tahu perasaannya karena suaminya memaksanya mengungkapkan perasaannya, meski di saat yang tak tepat.

__ADS_1


Nayla yang masih berbaring dan tak boleh bangun untuk sementara waktu begitu terkejut dengan jawaban Neil atas pertanyaan suaminya.


__ADS_2