
Api unggun di tepi pantai.
Setelah makan malam dan kembali memastikan putra dan putri mereka tertidur kembali, kelima pasang suami istri ini beserta karyawan yang ikut berlibur menikmati suasana pantai di malam hari dengan hangatnya api unggun yang dinyalakan oleh mereka saat ini.
Mereka bersenda gurau bersama bernyanyi bahkan menari. Saat yang dinanti-nanti dan ditunggu-tunggu pun datang. Di mana Septian memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan cintanya terhadap suster Marni.
Nayla dan Amel begitu riuh menyemangati Septian untuk menyatakan cintanya kepada suster Marni.
Malam hari ini wajah suster Marni dibuat bersemu merah oleh Septian yang menyatakan cintanya sembari menyanyikan sebuah lagu Be My Wife yang dipopulerkan oleh Billy Simpson dengan petikan gitarnya.
Prikitiew!!
Woow keren!!
Septian aku pada mu!! Keren..!!
Terima Sus, udah terima aja, jangan sok jual mahal nanti nyesel!!
Pekik Nayla dan Amel yang terlalu antusias sendiri. Pasalnya mereka adalah saksi dari segala usaha yang digunakan Septian dalam mendekati suster Marni.
"Iya Nyonya saya terima." Ucap Suster Marni dengan malu-malu.
"Huuuhhh... Diterima. Sep lo diterima. Sini deketin jodoh lo hahaha..." Nayla jadi rame sendiri.
"Papi sawer Pih, sawer..." Pinta Nayla pada Bayu untuk mengeluarkan uang sawerannya.
Sepasang sejoli yang baru menjalin hubungan ini akhirnya di sawer dengan segepok uang pecahan seratus ribu oleh Bayu.
Lembaran uang tersebut melayang ke udara menghujani sepasang sejoli ini. Semuanya mendekat dan mengambil uang yang berhamburan ke mana-mana.
Tapi Leon dan Jimmy yang super rusuh malah menghujani tinjuan untuk Septian yang sok keren dihadapan mereka.
"Aaaa.... Ampun Tuan." Rintih Septian memegangi perutnya.
Selesai memunguti uang yang berhamburan. Kini giliran Andre yang bermain mata pada dua anak buahnya yaitu Borni dan Bowo untuk menceburkan Septian ke laut.
"Aa... Apa-apaan kalian? Lepas!!!" Pekik Septian yang meminta di lepaskan saat dibawa ke tepi pantai.
"Ah si4lan kalian!"
"Sorry Sep, ini perintah dari Tuan Andre. Makanya jangan sok keren di depan istri mereka." Ucap Bowo yang sedikit jutek. Karena ia harus patah hati melihat wanita incarannya di tikung oleh Septian.
__ADS_1
"Arghh... Bilang saja kamu dendam padaku, Bow." Tuduh Septian.
"Iya bisa dibilang begitu," jawab Bowo dingin.
"Borni, Bowo. Buang dia!" Pekik Andre memberikan perintah.
"Satu, dua, tiga lempar!" Ucap Borni memberi aba-aba.
Byurrr!!
"Rasakan!!" Cicit kelima suami ini dengan kompaknya.
Septian basah kuyup di tengah malam, dingin hingga menusuk tulang itulah yang kini ia rasakan.
Kebahagiaan mereka malam ini ternyata tengah diintai oleh beberapa mata-mata Tuan Charles. Entah apa yang mereka ingin lakukan saat ini.
Yang pasti saat ini ada sepasang mata menatap sedih seorang wanita yang masih bertahta di hatinya. Anderson Darwin ternyata adalah pria di masa lalu Endah.
"Kau sudah memiliki anak. Menyedihkan sekali aku yang masih sendiri di sini." Gumam Anderson dengan wajah sedihnya.
Dua hari mereka berada di pantai, kemudian kembali meneruskan perjalanan menuju sebuah bukit yang biasa digunakan sebagai tempat perkemahan. Ditengah perjalanan Bowo merasa curiga dengan mobil yang terus mengikuti mereka.
"Sepertinya ada yang mengikuti kita." Ucap Bowo pada Borni dan Septian.
"Kau bawa senjata tidak Bor?" Tanya Septian sembari menyiapkan senjatanya.
"Selalu. Aku selalu membawanya." Jawab Borni.
"Bagaimana dengan mereka?" Tanya Septian.
"Mereka selalu membawanya. Tenang saja." Jawab Bowo.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, mereka akhirnya tiba di perkemahan yang mereka tuju.
Mereka disuguhkan pemandangan yang begitu menyejukkan mata. Pohon-pohon rindang terdapat banyak di sana. Udara yang sejuk pun kini mereka rasakan, berbeda dengan udara terik yang menyengat saat mereka berada di tepi pantai.
Sangat umum jika mereka merasakan suhu puncak lebih dingin dari pada di dataran rendah. Dari atas bukit pegunungan ini mereka disajikan berbagai pemandangan alam yang sangat indah.
"Kayanya, pemandangan malam di sini cocok buat kita barbeque-an di sini." Seloroh Jessica yang menentukan spot untuk pesta barbeque nanti malam.
Kembali ketika para suami menyiapkan listrik, saluran air bersih dan kotor. Para istri mereka mulai bermain dengan anak-anak mereka. Dan seperti biasa Nayla si ratu mainan kembali mengeluarkan mainannya. Kali ini ia mengeluarkan kolam renang dan banyak bola-bola yang ia beli tadi di jalan.
__ADS_1
Semua anak-anak terlihat riang gembira. Dengan mainan yang Nayla bawa. Namun ada yang paling menderita saat Nayla mengeluarkan kolam renang berukuran besar itu. Ya, siapa lagi yang menderita jika bukan Ferdy yang di minta memompa secara manual kolam renang tersebut.
Tapi demi kebahagiaan anak-anak yang terlihat lucu, Ferdy akhirnya dengan ikhlas membantu keempat ibu muda ini.
"Terus yank!" Teriak Angel.
"Pompa terus!" Teriak Nayla dan Amel
"Semangat jangan lemah." Teriak Endah
"Hayoo masih lajang jangan kendor!" Teriak Nayla.
"Yah.. Ngel, letoy calon suami lo, payah!" Ucap Jessica saat melihat Ferdy terengah-engah kelelahan.
"Kenapa mulutnya masih setajam dulu? Nona Jessica masih saja tidak bisa bersikap baik pada ku." gumam Ferdy yang menatap Jessica dengan tatapan penuh artinya.
Melihat Ferdy kelelahan Angela lantas membantu calon suaminya ini. Ia memompa dengan menguras tenaganya. Angela yang tak selelah Ferdy yang menyetir dari pantai hingga ke puncak bukit, akhirnya bisa memompa kolam renang mandi bola ini hingga selesai.
"Hufttt.... wanita memang selalu terdepan." ucap Jessica lagi sembari melirik Ferdy.
Ferdy menggelengkan kepalanya, sembari tersenyum penuh arti pada Jessica yang sikapnya memang tak bisa berubah baik dengannya.
Kumpulan delapan anak mereka ini, kini tengah bermain mandi bola di dalam kolam renang.
Kali ini para istri mulai sibuk di dapur darurat mereka. Namun sebelum masak, tiba-tiba Septian membawa Nayla dan Amel ke dalam mobil campervan.
"Ada apa?" tanya Amel pada Septian.
"Ada orang yang mengikuti kita sejak di pantai hingga kita ada di sini, sebaiknya kita berhati-hati. Karena kita masih memiliki satu musuh yaitu kelompok Tuan Charles." jawab Septian yang menginformasikan kepada Nayla dan juga Amel.
"Sebaiknya kau saja yang memberitahu suami kami. Kami akan bersiap." Sahut Amel.
"Kenapa mereka datang di saat yang tak tepat? Di saat kita liburan lagi, menyebalkan sekali." Keluh Nayla sembari menerima senjata mematikan dari Septian.
Nayla keluar dengan wajah kusut dan juteknya, tak kalah dengan Endah, Anna dan Jessica yang juga sudah mengetahui hal ini dari Borni.
Kini Bowo yang bertugas memberitahukan hal ini kepada para tuan muda mereka.
"Oh, ok. Bersikaplah biasa saja. Kita baru saja sampai. Pasti mereka sedang mencari titik kelemahan kita saat ini." ucap Bayu yang disetujui oleh ketiga hot Papa lainnya dan juga kakak iparnya.
Di dapur darurat. Para suster yang membantu memasak para majikan mereka, terlihat takut dengan cara memasak majikannya ini. Apalagi Endah yang merasakan betul jika ada sepasang mata yang tengah mengamati dirinya dari kejauhan.
__ADS_1
Ya. Sepasang mata yang terus memperhatikan Endah adalah sepasang manik mata milik Anderson.
"Kamu sudah bisa masak sekarang, pasti masakan mu enak. Beruntung sekali suamimu bisa menikmati masakan mu sayang," gumam Anderson.