
"Maaf Bu, Pak Bayu ada janji meeting dengan para karyawan hari ini dan mereka sudah berkumpul di dalam ruang meeting sekarang," ucap Safana yang berusah menguatkan dirinya, menahan segala rasa sesak di dadanya.
"Ok, pergilah! Aku akan membangunkan suamiku dulu." Perintah Nayla agar Safana cepat pergi darinya.
Namun langkah Safana terasa sangat berat untuk meninggalkan ruangan ini. Jujur saja meski sakit namun rasa penasaran dengan hubungan Nayla dan Bayu membuatnya tetap bertahan di situ.
"Papi sayang, tolong bangun Pih, katanya maau rapat, tuh karyawannya udah nungguin." Ucap Nayla saat berusaha membangunkan suaminya.
Nayla bersikap begitu manis memperlakukan Bayu. Bayu yang mendapatkan perlakuan manis dari istrinya yang merajuk, segera mengeratkan pelukkannya.
"Iya Mami sayang, sebentar lagi. Papi masih pengen peluk Mami." balas Bayu tak kalah manisnya.
Safana yang berada di ambang pintu merasa dadanya maakin sesak,genangan air mata nampak jelas terlihat di mata indahnya. Namun tanpa Safana sadari ada sebuah tangan wanita yang menarik kasar dirinya hingga membentur sebuah dinding ruangan kerja asisten pribadi Bayu, Nathan.
Bugh! [Suara benturan terdengar begitu keras].
"Ngapain lo mewek di depan pintu kerja laki temen gue heh?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah Amel.
"Ma-maaf Nona." cicit Safana yang mendapatkan tatapan intimidasi dari Amel dan juga cenkraman yang begitu kuat di bahunya, hingga ia meringis kesakitan.
"Jangan coba lo berbuat macam-macam, menggoda atau pun berusaha merusak rumah tangga sahabat gue. Karena lo belum tahu siapa kita." ancam Amel yang kemudian mendorong tubuh Safana hingga jatuh ke lantai.
Safana menitikan air mata saat ia mentap wajah Amel yang terlihat marah dan begitu kejam dengan penampilannya yang terlihat berantakan, layaknya seorang preman menggunakan kaos oblong kebesaran dan juga celan jins belel yang terlihat robek-robek dimana-mana.
Tanpa memperdulikan Safana yang jatuh, Amel malah masuk ke ruang kerja Bayu. Ia menutup pintu ruang kerja Bayu dengan membatingnya.
Brak[Suara pintu yang tertutup dengan kerasnya].
Bayu yang masih perbaring di pangkuan Nayla, terlonjak kaget dengan suara pintu ruanganya.
"Apaan tuh??" tanya Bayu yang seketika terbangun dengan mata yang memerah.
Bayu menatap ke arah pintu, mendapati Amel yang berjalan menghampiri keberadaaan merekaa.
__ADS_1
"Amel, apa yang baru kamu lakukan hah?"tanya Bayu dengan suara paraunya.
"Habis mengusir calon bibit pelakor." jawab Amel dengan ketusnya.
"Apa maksud mu, Mel? Kenapa kamu bicaraa"
"Papi, papi jangan macam-macaam sama Mami, kalau Papi macam-macam aku dan mami akan ninggalin Papi." ancam Sultan yang makin membuat Bayu tak mengerti.
"Hisst apa-apaan sih kalian. Bikin Papi makin ga ngerti saja. Coba kalau ngomong itu yang jelas jangan separuh-separuh." ucap Bayu yang menggaruk kepala plontosnya dengan kasar.
Ia melirik Nayla yang kembali diam membisu, sejenak ia berpikir apakah tadi ia mendengar istrinya itu bicara hanya sebuah mimpi atau sebuah kenyataan.
"Pak Bayu, jangan macam-macam, jangan cari perkaraa sama Nayla. Massih memelihara calon pelakor di kantor." terang Amel yang membuat Bayu membulatkan matanya.
"Pelakor?" Bayu membeo seolah masi tak mengerti.
"Iya sekertaris Papi itu yang di maksud tante Amel dengan sebutan pelakor Pih." tambah Sultan yang seakan tahu akan arti kata pelakor yang si maksud Amel.
Bayu membawa anak istrinya ikut bekerja adalah salah satu cara untuk menujukkan pada Safana jika Bayu telah memiliki seorang istri yang amat sangat dicintainya, dan Bayu berharap Safana mau menghapus perasaannya pada Bayu dan bekerja kembali secara profesional dengannya.
"Mami maunya gimana?" tanya Bayu pada Nayla yang memasang wajah singa betinanya.
"Dipecatkah?" tanya Bayu yang dijawab anggukan kepala dari Sultan namun Nayla hanya diam tak bergeming.
"Alamat deh, pakai nanya segala." ucap Amel yang membumbui suasana yang mencekam ini.
"Habis meeting Papi pecat ya, sekarang Papi meeting dulu." ujar Bayu yang memilih pergi dari padaa urusan semakin panjang dan runyam karena ada pihak ketiga yaitu Sultan dan juga Amel.
Sekepergian Bayu. Amel mulai membuka lapak rujaknya. Ia bersiap untuk membuat sambel rujak untuk sahabat terbaiknya.
Dengan luwes Amel mengulek sambel rujak hingga halus. Setelah bumbu sambel rujak sudah siap untuk dimakan. Amel menatap Nayla yang sejak tadi terus memandangi wajanya penuh arti.
Sultan yang sudah paham betul dengan sorot mata Nayla yang terus menatap Amel, segera memasang penutup telinganya sendiri tanpa di pasangkan oleh Nayla.
__ADS_1
Sultan kembali memainkan lego mobilannya dan mengabaikan keberdaan dua wanita dewasa yang siap berdebat.
"Gue belum siap jelasin." ucap Amel yang mencocol sambel dalm jumlah banyak dengan jari telunjuknya.
Begitu pula dengan Nayla, ia ikut mencocol sambal yang cukup pedas dengan jumlah yang mungkin sama di jari telunjuknya. Seolah dia tak mau kalah dengan Amel.
"Jangan terlalu banyak makan sambel! Nanti anak lo botak." Amel berusaha mengingatkan Nayla.
"Gue udah botak, bapaknya juga botak pasti anaknya botak. Apa lo gak liat kakaknya juga udah botak." sahut Nayla ketus, ia kembali mencocol sambal kali ini dengan kangkung rebus yang dibawa Amel.
"Cerita apa lo mau gue berbuat nekat di sini?" paksa Nayla pada Amel.
Hanya dengan sedikit ancaman, sudah berhasil membuat Amel terpojok.
"Gue gak tahu harus mulai darimana? Lo tanyalah gue akan jawab dengan jujur." ujar Amel seraya membaringkan tubuhnya.
Nayla pun mengikutiinya. Mereka sama-sama memandang langit-langit ruang kerja Bayu yang bertabur bintang-bintang,ketika lampu dimatikan bintang itu akan berkerlap-kerlip.
"Di dunia ini gak ada orang yang gue percaya selain lo Mel."
"Iya gue tahu."
"Sebenarnya saat gue curiga kedengan kondisi Mba Silvi, gue langsung kepikiran lo. Lo [asti tahu semuanya."
"Iya gue memang tahu."
"Sekarang lo cerita,kenapa mereka seakan menyembunyikan keberadaan Mba Silvi yang gak bisa gue temui belakangan ini?"
"Lo gak akan bisa nemuin dia lagi, Lo hanya bisa mendoakan dia." jawab Amel dengan jawaban ambigu yang langsung Nayla ketahui.
"Apa? Bagaimana bisa dia pergi untuk selama-lamanya Mel?" Nayla bangun dari posisi terbaring nya. Ia duduk menatap Amel dengan tatapan seriusnya, namun air mata kesedihan tak dapat ia sembunyikan. Kehilangan kakak ipar yang begitu baik padanya walaupun terkadang sikapnya begitu menyebalkan.
__ADS_1