
Iring-iringan pengantin pria mulai memasuki rumah mewah yang terletak di selatan kota Jakarta.
Nuga terlihat tampan dengan pakaian pengantin berwarna putih yang dikenakannya, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan sebuah kebahagiaan. Nuga sama sekali tidak melirik sedikitpun ke arah calon istrinya. Walaupun wajah Siena dan Siera bak pinang dibelah dua tetapi dirinya masih sangat sadar, jika wanita yang akan menjadi istrinya bukanlah gadis yang merupakan sahabat sekaligus cinta pertamanya.
Pikiran pria itu terus melayang ke tempat berbeda, seakan yang ada di hadapan penghulu saat ini hanyalah sebuah cangkang kosong belaka.
"Silahkan jabat tangan Pak Bramana, Saudara Nugraha," ucap penghulu menitahkan Nuga untuk berjabat tangan dengan pria yang akan menjadi ayah mertuanya
Namun, Nuga hanya diam termenung. Kedua matanya tampak kosong walaupun bibirnya melengkung seperti seseorang yang hendak tersenyum.
Sikap aneh Nuga pun membuat seluruh orang bertanya-tanya, tak terkecuali Siera yang juga datang seorang diri dan memilih duduk di bagian paling belakang.
"Nak Nuga, Nak!" seru Bram ini berhasil menarik kembali kesadaran Nuga.
"Maaf, saya sedikit gugup," ucap Nuga beralibi.
Prosesi awal ijab qobul pun dimulai, dengan dua kali kesempatan Nuga untuk berlatih berucap janji suci dengan benar dalam satu kali tarikan napas.
__ADS_1
Siera tampak tersenyum getir, walaupun ia sudah berusaha berkeras hati dan menetapkan untuk meninggalkan segala perasaannya tetapi ternyata semua itu sangat sulit dilakukan.
"Kalau sudah besar Kamu kembali ke Jakarta?"
"Iya, Aku akan kembali kalau keluargaku kembali."
"Kalau gitu, Aku juga teh akan menyusul Kamu ke Jakarta. Biar kita bisa ketemu lagi!"
"Yang benar, janji?"
"Iya Aku janji! Kalau bisa Aku langsung lamar Kamu, biar Kita bisa sama-sama terus. Tapi sebelumnya Aku harus kaya raya dulu, jadi mulai sekarang Aku harus nabung!"
Percakapan remeh masa kecil mereka kini kembali terlintas di dalam pikiran Siera. Hati kecilnya seakan memberontak untuk terus menyaksikan ijan Qabul yang akan mengikat Nuga dan Siena dalam ikatan suci pernikahan.
"Kalau Kamu sayang dengan saudari Kamu, sudah seharusnya Kamu mengalah. Usia Siena bisa saja tidak lama, Mami minta tolong padamu kali ini saja!"
Siera pun kembali mengingat perkataan ibundanya, wanita yang akan melakukan apapun demi Siena tetapi tidak untuk dirinya.
__ADS_1
Gadis itu pun terus berusaha bertahan dalam situasi yang seakan menyiksa dirinya sendiri. Jika saja dia tak menyayangi Siena, sungguh tidak sudi baginya menyaksikan kebahagian orang lain yang akan menjadi bumerang dan menyakitinya seorang diri.
"Saya terima nikah dan kawinnya Siera ...," ucap Nuga terjeda.
"Siera?" ucap Bram sambil mengerutkan keningnya.
Seluruh pandangan mata tampak menatap tajam padanya yang baru saja salah mengucapkan nama calon istrinya. Siena hanya menunduk, gadis itu berusaha menutup telinganya atas kesalahan yang baru saja Nuga lakukan.
"Pasti Kamu nervous. Ayo yang relaxs, Nuga. Duh, maaf ya semuanya," ucap Rani, berusaha menutupi kesalahan Nuga dan mencairkan kembali suasana yang menegang.
Nuga memejamkan matanya sejenak lalu menarik napasnya dalam-dalam dan berkata lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Siena Aryani binti Bramana Yudhakasih dengan emas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah!"
Teriakan kata 'Sah' yang serentak menandakan jika Nugraha dan Siena kini telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Namun, hal ini semakin membuat perasaan Nuga menjadi semakin tidak baik,seakan ada seutas rantai pengekangan yang membelit kuat lehernya.
__ADS_1
Siera tersenyum tipis, lalu berdiri dari kursinya berada. Sudah cukup ia menahannya dengan baik. Namun tiba-tiba ia tersandung sebuah kaki kursi, yang membuatnya terjatuh dengan suara yang cukup keras dan berakhir menjadi pusat perhatian.