
Dengan mempertimbangkan kesehatan jantung Ratna. Gunawan akhirnya memberikan kesempatan kedua untuk Bayu memperbaiki rumah tangganya, terutama memperbaiki sikapnya terhadap Nayla istrinya.
Meskipun sudah memberikan kesempatan kedua pada menantunya itu, tidak lantas membuat Gunawan kembali menaruh kepercayaannya pada menantunya itu begitu saja. Kedua orang tua yang terlalu mencintai putrinya itu tetap menjaga dan menunggu putrinya dengan setia di dalam ruang rawat putrinya, hingga Hendra dan Silvi datang menggantikan posisi mereka untuk menjaga Nayla yang belum terbangun dari tidurnya.
"Ndra, nanti kamu panggilkan Dokter untuk periksa adikmu ya? Kalau sampai jam sembilan malam nanti adikmu tidak bangun-bangun berarti ada yang tidak beres dengan kesehatan adikmu itu," Pesan Riska yang begitu khawatir meninggalkan putrinya yang belum bangun dari tidurnya, saat Hendra mengantarkan kepergian kedua orang tuanya sampai muka pintu ruang rawat Nayla.
"Bunda jangan terlalu mengkhawatirkan Nayla, dia itu baik-baik saja, cuma suka ngebo aja kalau lagi tidur. Apa Bunda tidak ingat waktu Ayah dan Bunda pergi ke luar kota dua malam satu hari pada waktu itu?" Riska menggeleng tak ingat.
Melihat sang Ibu menggeleng tak ingat Bayu akhirnya menceritakan kejadian pada saat itu.
"Baiklah kalau bunda tak ingat, aku akan mengiatkannya. Adik kesayangan ku itu, saat bunda tinggal ke luar kota, menemani Ayah menemui clientnya. Nayla sudah tertidur pada malam itu dan lucunya saat bunda kembali lagi dia masih tertidur dengan piama tidur yang sama. Padahal siang hari sebelumnya Bunda berangkat, Bunda sudah memberikan pesan pada Nayla, jangan lupa untuk hangatkan rendang yang baru saja Bunda buat tapi apa, dia tidak bangun-bangun dari tidurnya, apalagi memanaskan rendang buatan Bunda yang sudah di penuhi busa dan jamur karean posisinya rendang masakan bunda belum kering, masih ada kuahnya. Ayah yang merasa tak percaya jika putri kesayangannya sudah tidur dua malam satu hari. Untuk memastikan kejujuran Nayla, Ayah sampai harus mengecek CCTV rumah kita segala dan benar sajakan, dia tidur lupa waktu, bablas hingga dua malam. Semoga saja kali ini dia tidak bablas lagi, kalau sampai dia bablas, pasti aku sangat merasa sedih karena sudah kehilangan adik langka seperti dia yang sulit didapatkan selama-lamanya." Jelas Hendra yang langsung mendapat cubitan dari Riska di perutnya. Riska mencubit Hendra bukan karena sudah mengingat kejadiaan yang diceritakan Hendra tapi kalimat terakhir Hendra yang seakan-akan mendoakan adiknya tiada.
"Auuu...auu... sakit Bunda," rintih Hendra yang kesakitan.
"Makanya kamu jangan bicara seperti itu! Kalau Malaikat lewat dengar omongan kamu dan mengaminkan doa kamu gimana? Mau kamu kehilangan Nayla?" Tegur Riska dengan wajah judesnya.
"Iya-iya maaf. Ya gaklah Bunda, biar jelek begitu aku sayang dia," jawab Hendra yang mengusap perut six-packnya dengan wajah meringis kesakitan, karena cubitan Riska tak main-main.
"Kalau sayang jangan ngomong sembarangan!" Omel Riska pada putranya.
"Sudah Bun, ayo kita pulang! Besok kita akan kembali lagi kesini untuk menggantikan Hendra dan Silvi karena mereka harus bekerja." Ajak Gunawan yang membuat Riska tak melanjutkan omelannya yang tak akan berujung.
__ADS_1
"Iya Ayah baiklah," sahut Riska yang terlihat masih berat meninggalkan putrinya.
"Ya sudah Ayah dan Bunda pulang dulu ya Ndra. Kabarin perkembangan adikmu dan jangan sampai ditinggal sendirian!" Pamit Gunawan pada Putranya.
"Ya pasti di tinggal dong yah, masa aku kalau mau ke kamar mandi, dia aku bawa. Ayah nih gimana? Lagian gak akan ada juga yang mau menculik dia kok, Ayah tenang saja. Menculik dia sama saja menggali kuburannya sendiri. Cewek banyak maunya, bawel, berisik, bar-bar banyak nanya pasti udah bikin penculiknya mati kejang-kejang duluan Ayah," celetuk Hendra saat ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian , yang akhirnya mendapat pukulan keras di bahunya dari sang ayah.
"Hendra bicara mu itu, sudahlah! Ayah pulang dulu," ucap Hendra yang kemudian beranjak pergi bersama Riska.
Hendra terus melihat punggung ke dua orang tuanya yang makin lama makin menghilang setelah jarak makin memisahkan pandanganya. Ketika sudah tak dapat melihat punggung kedua orang tuanya yang pergi. Hendra kembali masuk ke dalam. Ia menghampiri Silvi yang tengah berbaring di sofa panjang sambil memainkan ponselnya.
"Mau makan apa sayang?" Tanya Hendra yang mengambil kepala Silvi dari atas bantal dan memggantikan bantal yang menjadi tumpuan kepala Silvi dengan kedua pahanya. Yang akhirnya membuat Silvi tidur di pangkuan suaminya.
"Apa Dede di dalam sini juga lagi gak nafsu makan juga, hum?" Tanya Hendra lagi dengan senyuman yang selalu membuat Silvi terpesona.
"Sepertinya begitu Mas," jawab Silvi dengan tangan yang meraba bibir manis milik suaminya.
"Mungkin Dede bernafsu kalau Mas tengokin dia," tambah Hendra dengan ucapannya yang menjurus. Silvi tersenyum manggut-manggut mengiyakan ucapan sang suami.
Silvi langsung saja menarik tengkuk Hendra untuk mencium bibir manis Hendra, namun saat jarak bibir keduanya hampir terkikis, tiba-tiba Amel datang tanpa memgucapkan salam. Ia membuka pintu begitu saja, membuat keduanya berlonjak kaget.
Kedua pasang suami itu menatap tajam ke arah Amel dengan posisi yang sama seperti tadi, dimana Silvi masih tidur di pangkuan Hendra dan tengkuk Hendra yang masih dalam rangkulan kedua lengan Silvi.
__ADS_1
"Sorry, ganggu. Silahkan di lanjut deh," ucap Amel yang berdiri di muka pintu dengan pakaian yang membuat Silvi dan Hendra tercengang melihatnya.
Bagaimana tidak, Amel menggunakan jubah hitam yang menutupi tubuh mungilnya lengkap dengan penutup kepala yang ia gunakan.
"Mau ngapain kamu kesini?" Tanya Hendra jutek seperti biasanya pada Amel.
"Nengokinlah Mas, masa shopping," jawab Amel yang seakan terbiasa mendapati kejutekan Hendra padanya.
"Oh, kirain mau nunpang tidur. Ya sudah sana bangunkan kembaran mu yang masih betah tidur di sana!" Sahut Hendra dengan tangannya yang menunjuk kamar rawat Nayla.
"Iya lagian ngapain disini, nontonin suami istri lagi kasmaran," balas Amel yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar rawat Nayla.
Amel berjalan menghampiri ranjang Nayla, ia melihat sahabatnya masih saja terpejam, mata Amel mengedar mencari sosok suami sahabatnya yang ternyata sedang merebahkan dirinya di ranjang yang ada di sudut ruang rawat Nayla.
"Bonyok dia, wah pasti habis dia di pukulin sama si Mas Hendra. Kesian juga dia ya, tapi dia pantas menerimanya, karena membiarkan Nayla pergi malam-malam sendirian dalam keadaan sakit, mencari obat dan klinik seorang diri itu bukan Nayla banget." Gumam Amel yang mulai membangunkan Nayla dengan cara uniknya.
Amel mulai memainkan hidung sahabatnya itu dengan jemarinya. Ia memasukkan jari kelingkingnya ke dalam lubang hidung Nayla, seakan sedang menggali sumur di dalam hidung itu. Dengan apa yang ia perbuat pada sahabatnya itu, Amel sudah mulai melihat pergerakan di tangan Nayla. Nayla sudah mulai terbangun dari tidurnya. Tak hanya bermain dengan hidungnya, Amel kembali memainkan area kuping Nayla dengan jari kelingking yang ia masukkan ke dalam telinga sahabatnya. Membuat Nayla kegelian adalah hobby Amel.
Nayla yang sudah terbangun dan sadar siapa yang biasa melakukan hal ini padanya pun langsung mengayunkan tangannya, memukul si pelaku yang sedang menahan tawanya melihat tubuh Nayla kegelian.
Plak!! Satu pukulan mengenai pipi Amel. Amel meringis kesakitan tapi ia malah tertawa terbahak-bahak. Hingga membangunkan Bayu yang sedang tertidur dan mengagetkan Hendra dan Silvi yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka yang saling bertukaran saliva di ruang depan.
__ADS_1