Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 245


__ADS_3

"Mau sampai kapan Mama terus memperhatikan luka Papa ini, hum?" Endah tersenyum getir sambil mendongakkan wajahnya menatap suaminya.


Saat ini Endah memang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit bersama suaminya. Sejak Jimmy telah membuka matanya. Suaminya ini langsung meninta istrinya untuk berbaring bersamanya.


"Papa sudah baik-baik saja. Mama jangan terlalu khawatir!" Ucap Jimmy pada Endah.


Jimmy tahu betul jika Endah masih sangat mengkhawatirkan kondisi dirinya.


"Maafkan Mama, Pah. Karena mama papa jadi seperti ini. Pasti ini rasanya sakit sekali." Ucap Endah sedih.


Endah masih mengingat betul bagaimana kejadian dimana suaminya tertembak di hadapannya.


Rasanya dunianya runtuh seketika itu juga. Ia sampai tak bisa melakukan apa-apa. Untung saja kedua sahabatnya datang dan langsung mengambil alih kendali.


"Sudahlah Mama, jangan meminta maaf terus. Papa sudah mendengar Mama minta maaf lebih dari sebelas kali, satu kali lagi mungkin akan menjadi selusin permintaan maaf Mama hari ini pada Papa." Ucap Jimmy yang tak ingin istrinya terus larut dalam rasa bersalahnya.

__ADS_1


Jimmy menarik istrinya kembali dalam pelukannya, kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.


"Papa jangan terlalu erat memeluk Mama, ingat luka Papa masih basah!"


"Hanya peluk saja tidak akan apa-apa Mama." Sahut Jimmy yang tidak mau melepaskan pelukannya terhadap Endah.


Jimmy menyalurkan rasa cinta yang begitu besar, pada pasangan hidup yang mampu mengimbangi dirinya ini, dengan sebuah pelukan penuh cinta dan ketulusan dari dalam dirinya.


Jimmy sungguh tak ingin kehilangan sosok Endah yang amat sangat berarti di dalam kehidupannya.


"Aku tidak tahu Pah dan aku pun tidak ingin mencari tahu kabar tentang dia. Yang pasti terakhir aku melihatnya di bawa oleh Tuan Charles. Saat dibawa pun kondisinya sudah dalam keadaan yang cukup parah dan Mama yakin fiantak akan bertahan lama hidup. Entah obat apa yang telah Nayla suntikan di tubuhnya." Jawab Endah apa adanya.


"Hem, jadi dia belum dibereskan. Ah...kalau begini Papa masih merasa takut kehilangan mu, Mah. Karena Papa melihat dia sangat mencintaimu." Seru Jimmy sembari memandang langit-langit kamar rawatnya.


Jimmy menyadari betul bagaimana isi hati Anderson terhadap istrinya. Tatapan mata yang menyiratkan rasa cinta yang begitu dalam. Bahkan ia merasa rasa cinta Anderson terhadah istrinya lebih besar dari pada rasa cinta dirinya terhadap Endah, istrinya.

__ADS_1


Prok...prok...prok...


Tiba-tiba suara tepukan tangan Andre memecahkan keheningan. Andre datang bersama dengan Jessica tanpa kedua anak kembarnya yang sudah tertidur dikamar sebelah.


"Pantas saja aku diusir cepat-cepat pergi, ternyata ada yang sudah tidak kuat mau berdekatan dengan suaminya." Sindir Andre.


Ia mendaratkan bokongnya bersama Jessica yang tersenyum meledek Endah, di sebuah sofa panjang yang letaknya tak jauh dari ranjang kesakitan Jimmy.


"Bukan aku yang tak kuat jauh-jauh. Tidak kah kau lihat Kak, Suamiku memeluk ku sekuat ini?" Sanggah Endah yang tak menerima sindiran Andre.


"Hahahaha.... Bisa sekali kau berkilah. Memang wanita itu seperti itu, pandai bersikat lidah." Sahut Andre.


Sedangkan di sisi lain, Tuan Adam yang sudah datang ke kota J. Langsung saja ke kediaman Leon dan Anna. Kedatangan Tuan Adam ini sangat di sambut hangat oleh Leon dan Anna.


"Kau harus ikut Paman ke kota C, Leon. Sebagai satu-satunya cucu laki-laki keluarga Adijaya. Kau harus menuntaskan krikil yang telah berani-beraninya mengusik keluarga kita. Apalagi sampai membuat nyawa salah satu anggota keluarga kita hampir saja melayang." Ujar Tuan Adam.

__ADS_1


Leon tersenyum tipis mendengarkan Tuan Adam yang mengajaknya membereskan Tuan Charles yang itu artinya ia harus bersikap seperti Jimmy, berdarah dingin.


__ADS_2