Jodoh Tak Diundang

Jodoh Tak Diundang
JTD Bab 89


__ADS_3

Setelah menghabiskan makan siangnya. Bayu tak lagi melanjutkan pekerjaannya di kantor. Ia malah mengajak anak dan istrinya pergi. Setelah sebelumnya ia meminta Nathan untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Sultan, Mami. Ayo ikut Papi!" Ajak Bayu pada anak dan istrinya yang sudah membarikan tubuh mereka di sebuh sofa panjang.


Ibu dan anak ini saling menatap satu sama lain, keduanya kembali berbicara menggunakan suara hati mereka.


"Mami kita gak bisa tidur siang, Papi kayanya mau ngerjain kita," ucap Sultan di dalam hatinya.


"Sepertinya begitu sayang, besok kalau di ajak kerja sama Papi lagi kita harus menolak." Jawab Nayla di dalam hatinya.


"Ah-ahhhh Mami, Sultan. Sudah jangan pikir Papi akan mengerjai kalian dan menolak ikut Papi kerja besok. Sekarang cepat bangun atau Papi tinggal!" Pekik Bayu yang kesal karena keduanya tak juga beranjak dari sofa.


"Kok Papi tahu sih Mih isi hati dan pikiran kita?" Tanya Sultan pada Nayla saat mereka beranjak dari sofa dengan suara yang begitu pelan, hingga nyaris tak didengar oleh Bayu.


Nayla menjawab dengan mengangkat kedua bahunya, bertanda jika ia juga tak tahu. Sedang Bayu yang mendengarnya terlihat menarik senyum kecutnya.


"Tidak mungkin Papi tidak tahu apa yang kalian bicarakan hah, selama ini Papi hanya tahu dan mendiami tingkah kalian yang sebelas duabelas." Batin Bayu seraya memperhatikan keduanya yang berjalan lambat menghamiri dirinya yang sudah berada di ambang pintu.


"Papi, Mami ngantuk tau habis makan, ihhhh...jahat...." Ucap Nayla dengan suaranya merengeknya. Ia sungguh merasa malas berjalan mengikuti langkah lebar Bayu melewati meja-meja karyawannya yang kosong karena ditinggal istirahat.


"Habis makan gak boleh tidur, tidak baik. Nanti kamu bisa berubah jadi ular." Balas Bayu yang jalan lebih dulu karena merasa kesal pada anak dan istrinya yang terlihat malas gerak jika habis makan.


"Ular-ular.... Kalau aku jadi ular, kamu jadi buayanya." Gerutu Nayla dengan suara pelan, hingga Bayu yang berjalan jauh di depannya tak mendengar gerutuan istrinya.


Mendengar sang Mami menggerutu dan sang Papi yang sudah jauh berjalan di depan mereka. Sultan mengeluarkan taringnya. Ia memanggil Bayu dengan nada suara yang cukup tinggi.


"PAPI!!" Panggil Sultan pada Bayu.

__ADS_1


"Papi kita kok ditinggal. Mami-kan lagi hamil ade aku, Pih. Gak bisa jalan cepet-cepet. Kalau kenapa-kenapa dengan ade aku gimana?" Protes Sultan yang terlihat bertolak pinggang dan menghentikan langkahnya bersama Nayla.


Bayu pun tersentak menghentikan langkahnya. Dia baru ingat jika istrinya itu tengah hamil muda.


"Ohh astaga. Aku sampai lupa dengan calon anakku." Decit Bayu di dalam hatinya.


Tak sabar ingin menunjukkan apa yang ia lakukan semalam bersama sang Daddy kepada anak dan istrinya, membuatnya lupa dengan calon buah hatinya yang masih berada di dalam kandungan Nayla.


"Tau tuh Papi, udah gak sayang sama Mami lagi kayanya deh. Cuma Sultan yang sayang Mami. Malang sekali nasib Mami sayang." Tambah Nayla yang seakan memprovokasi Sultan dan benar saja, emosi anak di bawah umur ini terpompa oleh kata-kata Nayla.


"Ya sudah kalau Papi gak sayang Mami. Kita tinggalin saja Papi sendirian." Ucap Sultan yang sudah terprovokasi ucapan Nayla. Ia lari dan memukuli bokong Bayu yang bergerak lamban menghampiri Nayla.


"Aduhh Sultan sakit, gak boleh pukul orang tua seperti ini Sultan, nanti kamu dosa!" Rintih Bayu yang kesakitan mendapati tinjuan dari Sultan pada bokongnya, dengan tenaga kecilnya yang cukup kuat karena banyak makan setelah ia menjadi anak sambung Nayla.


"Kata Mami, kalau Sultan masih kecil, dosa Sultan masih di tanggung Papi. Jadi gak apa-apa kalau pukulin Papi seperti ini. Kan dosanya di tanggung Papi sendiri." Timpal Sultan yang membuat Bayu terkejut.


"Apa!!!" Pekik Bayu yang tak percaya Nayla bicara dan mengajarkan demikian pada putranya.


Inilah mengapa Bayu berpikir pentingnya memiliki istri yang memiliki pendidikan yang memadai agar tak asal bicara pada anak-anaknya nanti.


Melihat Bayu di pukuli bokongnya oleh Sultan Nayla tersenyum geli menahan tawanya yang ingin pecah. Bayu yang melihat Nayla bahagia di atas penderitaannya pun bertambah kesal.


"Mami!! Mami itu paling suka bumbuin pikiran Sultan ya ternyata. Gak boleh gitu Mih!" Pekik Bayu menegur Nayla dengan suaranya yang keras, hingga memecahkan keheningan di lorong menuju lift.


Beberapa karyawannya yang sudah selesai makan siang dan sedang bersantai di dalam ruang mereka masing-masing, seketika keluar dari ruangan mereka, saat mereka mendengar pekikan suara Bayu yang sepertinya sedang marah. Mereka dapati keluarga kecil ini sedang berdebat tanpa rasa canggung ketika mereka mengintip dari balik pintu ataupun dinding.


"Apa sih Pih, Sultan-kan bukan Indomie yang harus Mami bumbuin biar rasanya sedap." Timpal Nayla yang membuat Bayu garuk-garuk kepala. Bisa-bisanya istrinya ini menyamakan putranya dengan Indomie.

__ADS_1


"Ughh... Mami!!!" Kesal Bayu saat mendengar Nayla menimpali ucapannya.


Karyawan yang mengintip perdebatan keluarga kecil ini terlihat menahan tawa ketika mereka melihat ekspresi Bayu saat menggaruk kepala plontosnya yang tak gatal karena merasa kesal dengan ucapan sang istri.


"Bos batu es itu ternyata istrinya koplak juga ya. Auto stress nih Pak Bos," bisik salah satu karyawati Bayu pada rekannya.


"Iya. Semoga dia gak cepat kena stroke karena tekanan darahnya di bikin naik terus sama istrinya."


"Iya-iya benar, semoga Pak Bos tetap sehat selalu menghadapi istrinya ini. Kalau Pak Bos sehat, kita pasti tetap sejahtera." Ucap karyawan lain yang juga mengintip dari balik pintu ruang kerja mereka.


"Iya kan Sultan, kamu-kan bukan Indomie tapi anak Mami. Gak mungkin-kan kamu Mami bumbuin nanti kamu kepedesan karena Mami sukanya yang pedas-pedas ahhhh..." Ucap Nayla pada Sultan yang berdiri di antara mereka, ia tetap meledek suaminya yang sudah berdiri dihadapannya.


"Mami cukup!"


"Cukup apa Pih? Cukup cantik. Memang iya. papi baru tahu ya kalau Mami ini cukup cantik?"


"Kamu itu istri yang cukup menyebalkan tapi sayangnya aku sangat mencintai mu." Batin Bayu yang menyahuti perkataan Nayla, ia tak mungkin berani mengatakan jika Nayla cukup menyebalkan baginya. Bisa-bisanya dia akan marah dan merajuk padanya.


"Ughhh.... Terserahlah apa katamu saja!" Tanggap Bayu yang kesal tak bisa mengutarakan kekesalannya.


Ada-ada saja memang jawaban Nayla ini jika ia diajak bicara dengan suaminya, apalagi jika sedang di nasehati, Nayla malah balik menasehati Bayu, yang kadang membuat Bayu mati kutu, karena ucapan Nayla terkadang memang ada benarnya. Kekesalan -kesalan yang dibuat Nayla pada suaminya tak membuat Bayu membenci dirinya. Bayu malah makin mencintainya. Aneh bukan? Inilah uniknya cinta mereka berdua.


"Besok kamu akan lanjutkan kuliah kamu ambil jurusan hukum ya Mih. Cocok kamu jadi pengacara. Biar ngeyelnya kamu ini ada hasilnya." Ucap Bayu kesal.


Ia menyentil pelan jidat Nayla yang sudah seperti lapangan bola karena bandana yang biasa ia gunakan sudah basah dengan keringatnya sewaktu menyulap ruang kerja suaminya menjadi area bermain untuk Sultan dan dirinya.


"Iya dong Mami itu memang cocok jadi pengacara. Pengangguran banyak acara hahahaha..." Sahut Nayla dengan tawanya yang menggelegar.

__ADS_1


"Terus ketawa terus...!! Maunya kamu itu, nganggur tapi banyak acara. Dapat kata-kata darimana sih kamu itu Mih? Jawab terus kalau suami lagi ngomong." Bayu merengutkan wajahnya tapi ia kembali menggandeng anak dan istrinya menuju pintu lift.


Sewaktu pintu lift terbuka. Bayu pun berteriak meluapkan segala rasa yang ia rasakan kini. Lalu tersenyum penuh arti melihat anak dan istrinya secara bergantian.


__ADS_2