
Rombongan mobil polisi yang terdiri dari tiga mobil telah pergi. Salah satu mobil yang membawa Linda pergi melewati keberadaan mereka. Ya melewati mereka yang masih terpaku melihat kepergian Linda bersama para polisi itu.
Ekhm...[suara Bayu berdehem].
Bayu berdehem ketika semua mobil polisi itu telah berlalu pergi. Kini semua mata tertuju pada Bayu yang tengah menatap istrinya lalu menatap Bastian yang tak jauh dari keberadaannya.
"Bisa tolong ambil putri mu dari gendongan istri ku! Aku ingin membawa keluarga ku pergi dari sini." Pinta Bayu dengan wajah tak bersahabat. Aura dingin permusuhan begitu terasa di sini.
Bastian yang tak menjawab ucapan Bayu, segera mengambil putrinya yang sejak tadi tak mau ia gendong karena merasa begitu nyaman dalam dekapan Nayla.
Shasi yang melihat wajah Bayu yang datar dan dingin begitu takut, hingga ia melihat wajah Bastian langsung berloncat kedalam pelukkannya.
"Papi, apa Om itu marah aku di gedong dengan Maminya Kakak?" Tanya Shasi dengan suara sedihnya.
"Tidak marah, mereka hanya ingin pulang kerumahnya."
"Apa kita tidak boleh ikut?"
"Tidak sayang, kita pun harus segera pulang, karena hari akan semakin sore. Kamu tidak mau-kan sampai di rumah dalam keadaan gelap?" Jawab Bastian yang membuat Shasi sedih. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya guna menjawab pertanyaan Sang Papi.
"Kak Sultan, terimakasih sudah meminjamkan aku Maminya." Ucap Shasi dengan suara comelnya.
Nayla dan Sultan tersenyum mendengar suaranya. "Sama-sama, kapan-kapan kita bertemu lagi ya. Ingatlah jika kamu punya seorang kakak laki-laki bernama Sultan putra Pratama ya."
"Iya Kakak," jawab Shasi dengan senyum yang di paksakan.
Wajah anak kecil ini terlihat bersedih karena harus berpisah dengan saudara satu kandung beda ayah ini.
"Tuan Bayu, maafkan segela kesalahanku dimasa lalu, yang aku yakini telah membuat mu menderita selama ini bersama putra mu." Ucap Bastian tulus sembari menatap wajah Bayu yang sedikit tertutup dengan tubuh kecil Sultan yang masih dalam gendongannya.
"Aku sudah memaafkan mu sejak lama, lagi pula Tuhan begitu adil, kau dapat merasakan apa yang aku rasakan beberapa tahun yang lalu. Semoga kau dapat membesarkan putri mu dengan baik dan juga mendapatkan jodoh yang terbaik setelah Linda memcampakkan mu." Balas Bayu.
__ADS_1
Senyum Bastian merekah sempurna saat mendengar ucapan Bayu barusan.
"Terimakasih banyak Tuan Bayu. Semoga doa yang Anda berikan pada ku. Di kabulkan oleh Tuhan."
"Amiinn, sama-sama. Kalau begitu saya undur diri dulu. Semoga kita masih bisa bertemu dengan suasana berbeda. Bagaimana pun anak kita bersaudara. Kita tak dapat memisahkan tali persaudaraan mereka." Ucap Bayu dengan bijak, kemudian tersenyum pada istrinya.
"Ishhh apa maksud senyuman mu ini pada ku Pih? Jangan bilang kamu sedang menyombongkan diri mu lagi padaku." Dengus Nayla di dalam hatinya.
Setelah berpamitan dengan Bastian. Bayu merangkul sang istri dan tetap menggendong Sultan, berjalan hingga ke mobil.
Ia memperlakukan istri dan anaknya begitu baik. Apa yang dilakukan Bayu tak luput dari tatapan nata Bastian yang iri melihat ke harmonisan rumah tangga Bayu dengan Nayla.
"Andai saja Linda bisa seperti istri baru Bayu sekarang, pasti hidup kami akan terasa lengkap." Gumam Bastian yang juga akhirnya meninggalkan kediaman Linda stelah mobil Bayu melewati dirinya dan juga Shasi.
Sonya yang baru saja bangun tidur setelah menghabiskan makan siangnya bersama Linda, begitu terkejut melihat pintu rumahnya yang terbuka, begitu juga dengan pintu pagar rumahnya.
Ia berteriak memanggil nama Linda dan juga Tarmi, assiten rumah tangga mereka.
"TARMII!!!! Pekik Sonya memanggil assiten rumah tangganya.
"Kemana Linda dan Tarmi? Kenapa mereka pergi tanpa menutup pintu seperti ini? Tidak mungkinkan mereka berdua di culik?" Gumam Sonya yang berpikir jika keduanya menghilang karena di culik.
Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Linda. Ia begitu terkejut ketika mendapati ponsel putrinya berdering dari kamar putrinya. Sonya berjalan menghampiri kamar putrinya. Ia berharap Linda ada di kamarnya, namun sayang, kamarnya nampak kosong. Ranjang tidurnya masih terlihat rapih dan ponselnya ada di sebuah sofa panjang yang terletak dibawah jendela kamar.
"Kemana dia? Apa dia ada dikamar mandi?" Gumam Sonya lagi.
Sonya kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar mandi. Ia dapati kamar mandi yang sepi, tanpa ada Linda di dalamnya.
"Hah, kemana anak itu? Apa sesuatu yang buruk tengah terjadi padanya?" Gumam Sonya yang mulai dihantui rasa khawatir.
Ia segera berlari keluar dari kamar putrinya. Ia mengambil kunci mobil yang ada di kamarnya, kemudian pergi meninggalkan rumah menuju pos keamanan yang berada di depan pintu gerbang perumahan mewah yang merek tempati.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa ia membawa mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Di pertengahan jalan ia mendapati Bi Tarmi sedang menaiki ojek dengan membawa belanjaan. Sonya menghentikan laju mobilnya dan menghentikan ojek yang di naiki Bi Tarmi.
"Tarmi dari mana kamu?" Tanya Sonya dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Dari minimarket Nyonya, saya habis membelikan pesanan Nyonya Linda. Ada apa Nyonya? Kenapa wajah Nyonya terlihat begitu khawatir. Apa ada sesuatu terjadi di rumah?" Tanya Bi Tarmi pada Sonya.
"Bi, apa sewaktu Bibi berangkat Linda masih ada di rumah?" Tanya Sonya lagi yang tak menjawab pertanyaan Bi Tarmi.
"Ada Nyonya, Nyonya Linda sedang baca buku di sofa kamarnya." Jawab Bi Tarmi yang malah membuat Linda makin khawatir.
"Kemana dia? Kenapa dia bisa hilang seperti di telan bumi? Aku harus segera bertanya pada pihak keamanan, sebelum aku lapor ke kantor polisi." Ucap Sonya yang membuat Bi Tarmi bingung dan bertanya-tanya di dalam hati. Tentang apa yang terjadi hingga membuat majikannya tampak kalut dan begitu khawatir.
Sonya meninggalkan Bi Tarmi yang berdiri di depan motor ojek yang ia tumpangi tadi. Sonya kembali melajukan kendaraannya menuju pos keamanan yang keberadaannya tinggal beberapa ratus meter lagi.
Sesampainya di pos keamanan. Sonya mendengar dengan jelas. Para security itu sedang membicarakan putrinya.
"Saya gak nyangka ya. Nyonya Linda tinggal kesini lagi, tau-taunya malah berbuat kriminal dengan mantan suami dan putranya sendiri." Ucap salah satu security yang bernama eko.
"Iya, saya juga gak nyangka, cantik-cantik tapi tega ninggalin anak-anaknya. Mana masih kecil-kecil lagi." Sahut temannya sesama security bernama Hendi.
"Ya demi harta, dia rela berbuat seperti itu. Tapi sayangnya dia malah jadi di tangkap polisikan, gara-gara sifat tamaknya, setahu saya Pak Bastian itu masih kaya di kampungnya, cuma ya gak sekaya Pak Bayu di kota ini," Timpal Dirman yang sangat mengenal kedua mantan suami Linda.
"Iya-iya, kenapa perempuan kadang gak ngerasa cukup ya?" Tanggap Eko di akhir kalimatnya.
Ketiganya terdiam seketika saat menyadari kehadiran Sonya di ambang pintu.
"Nyo-Nyonya Sonya," ketiganya tergagap menyebut nama Sonya.
"Jadi putriku menghilang karena di tangkap polisi?" Tanya Sonya pada ketiganya yang di jawab anggukan kepala dari ketiganya.
"Apa kalian tahu, kantor polisi mana mereka membawa putriku?" Tanya Sonya lagi.
__ADS_1
"Sepertinya, kantor polisi yang terdekat dari sini Nyonya." Jawab Eko yang berani membuka suaranya, sedang kedua temannya begitu enggan menjawab pertanyaan Sonya. Antara sungkan dan takut untuk menjawab pertanyaan Sonya yang di kenal angkuh dan sombong di kompleks itu.